Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pemanfaatan Media Sosial Instagram untuk Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang Pubertas Hariyani Sulistyoningsih; Sinta Fitriani, S.KM., M.K.M
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v6i1.5140

Abstract

Adolescents need accurate information about puberty, because adolescents who fail to go through the puberty phase may experience psychological disorders that have an impact on the next phase of life. This service activity is carried out to disseminate information on puberty by utilizing Instagram media. The specific purpose of this activity is to make adolescents understand the definition of puberty, when puberty occurs, changes that generally occur during puberty and the correct attitude in dealing with puberty. The method is the delivery of material directly through social media. Activities carried out in three stages, namely: planning, implementation and reflection. Planning includes material preparation and socialization of activities; implementation includes the delivery of information through live broadcasts using Instagram, starting with the presentation of the material, followed by answering questions. The last stage is reflection, namely analyzing the responses of the participants. Participants responded very well, as evidenced by a number of questions and statements of support that were delivered during the activity. Dissemination of information for adolescents as well as parents through online media needs to continue, especially during the period of limiting activities due to the pandemic.
Faktor-Faktor Terjadi Tindakan Kekerasan dalam Hubungan Remaja Adinda Bidari Hawa; Hariyani Sulistyoningsih; Wuri Ratna Hidayani
Jurnal Genesis Indonesia Vol. 1 No. 02 (2022): Jurnal Genesis Indonesia
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.392 KB) | DOI: 10.56741/jgi.v1i02.81

Abstract

Kekerasan dalam hubungan remaja merupakan kekerasan yang dilakukan seseorang terhadap teman lawan jenisnya dalam masa hubungan remaja yang mengakibatkan penderitaan bagi korban baik fisik maupun non fisik. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan kekerasan dalam hubungan remaja pada siswi SMA. Penelitian ini merupakan  penelitian dengan data sekunder dan desain literature review. Pencarian di Google Scholar melalui tahapan pemilihan sesuai dengan kriteria inklusi. Dari 10 jurnal yang diperoleh, terdapat delapan jurnal yang membahas faktor-faktor kekerasan  dalam hubungan remaja yaitu faktor teman sebaya, jenis kelamin, pengetahuan, keterpaparan informasi media sosial, dan peran keluarga. Kajian menemukan ada hubungan atau pengaruh teman sebaya, media sosial, pengetahuan, dan peran keluarga.
Knowledge, Attitudes and Behaviors of the Adolescent Reproductive Health Triad: Case Study at the Vocational High School Ahmad Yudi Satriyono; Hariyani Sulistyoningsih; Wuri Ratna Hidayani
Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 1 No. 01 (2022): Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.6 KB) | DOI: 10.56741/bikk.v1i01.36

Abstract

Puberty is experienced by every teenager which is characterized by the maturity of the reproductive organs thus triggering the sexual impulse. If the sexual drive in adolescents is not controlled then it is at risk to the Adolescent Reproductive Health Triad. The purpose of the study was to determine the relationship between knowledge and attitudes with the behavior of the Reproductive Health Triad at SMK Duta Pratama Indonesia Tasikmalaya City in 2021. This type of research is an analytical survey using a cross sectional design. The population and sample of this study are all students of SMK Duta Pratama Indonesia based on inclusion criteria. The instrument uses Gform and the data are analyzed univariately and bivariately. The results showed that the average knowledge score was 4.54, the average attitude score was 17.21, and the average behavior score was 5.51. There is no relationship between knowledge and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad p value = 0.135, and there is a relationship between attitudes and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad p value = 0.043. From the results of the study, it can be concluded that there is no relationship between knowledge and behavior of the Adolescent Reproductive Health Triad and there is a relationship between attitudes and behaviors of the Adolescent Reproductive Health Triad. It is hoped that the school can instill spiritual values and provide adolescent reproductive health education in preventing risky behaviors in students.
Literature Review: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Novie Rusliani; Wuri Ratna Hidayani; Hariyani Sulistyoningsih
Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 1 No. 01 (2022): Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.279 KB) | DOI: 10.56741/bikk.v1i01.39

Abstract

Stunting (kerdil) adalah kondisi balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Pada tahun 2010 terjadi sedikit penurunan stunting menjadi 35,6%. Namun prevalensi stunting kembali meningkat pada tahun 2013, yaitu menjadi 37,2%. Menurut Kemenkes RI 2018, hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015 prevalensi stunting di Indonesia adalah 29%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%, namun kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan desain Literature Review dengan melakukan pencarian di Google Scholar melalui tahapan pemilihan sesuai kriteria inklusi sehingga mendapatkan 7 jurnal dari 7 jurnal yang berbeda yang berkaitan dengan topik pembahasan. Dari 7 jurnal yang didapat, terdapat variabel yang berhubungan yaitu BBLR, asi eksklusif, kelompok usia, tinggi badan ibu, CTPS, imunisasi dasar tidak lengkap, jenis kelamin, IMD, waktu pertama pemberian mp-asi yang terlalu dini, tingkat kecukupan zat besi dan seng, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pelaksanaan kadarzi dan phbs. Variabel yang tidak berhubungan yaitu : Jumlah anggota rumah tangga, asupan energi, asupan protein, status pekerjaan ibu. Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Puskesmas dan Posyandu memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan serta memberikan makanan tambahan untuk anak balita serta memberikan penyuluhan tentang pentingnya status gizi dan pemberian asupan zat gizi pada anak balita. Ibu/keluarga harus melakukan pemantauan peetumbuhan dan perkembangan pada balita secara rutin ke posyandu dan memberikan asupan nutrisi yang baik untuk balita agar tidak terjadi stunting.
POLA KONSUMSI TABLET Fe PADA IBU HAMIL SERTA FAKTOR YANG MEMEPENGARUHINYA DI DESA CIKUNIRKECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA Hariyani Sulistyoningsih; sinta Fitriani; Dadan Yogasawara
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 8 No. 1 (2017): Februari 2017
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v8i1.118

Abstract

Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah diketahuinya pola konsumsi tablet Feibu hamil serta faktor yang mempengaruhinya di Desa Cikunir Kecamatan SingaparnaKabupaten Tasikmalaya sehingga kemudian dapat dibuat program yang dapatmeningkatkan konsumsi Fe pada ibu hamil (tidak hanya cakupan pemberiannya) yangpada akhirnya akan menurunkan risiko anemia pada ibu hamil. Target khusus daripenelitian ini adalah diketahuinya faktor yang mempengaruhi pola konsumsi tablet Fepada ibu hamil di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.Kegiatan diawali dengan mengumpulkan seluruh ibu hamil trimester III yang berada diDesa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, yang kemudian akanmenjadi sampel dalam penelitian ini. Variabel yang diukur terdiri dari waktu pertamamendapatkan tablet Fe, jumlah tablet Fe yang telah dikonsusmi, cara mengkonsumsitablet Fe, serta pengetahuan tentang tablet Fe, sikap terhadap kesehatan, pendidikan,tingkat ekonomi, ketersediaan fasilitas kesehatan, dukungan dari bidan, dan dukungankeluarga.Alat ukur (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan data pada masing-masingvariabel adalah kuesioner yang diwawancarakan. Data masing-masing variabelkemudian diolah dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi untuk kemudiandianalisis sehingga dapat memberikan informasi yang lebih jelas tentang pola konsumsitabet Fe serta faktor yang mempengaruhinya. Data yang diperoleh diharapkan dapatmenjadi sumber informasi dalam menyusun program untuk meningkatan cakupankonsumsi tablet Fe pada ibu hamil sehingga risiko anemia pada ibu hamil dapatditurunkan yang pada akhirnya risiko perdarahan dan kematian pada ibu bersalin jugadapat diturunkan.
GAMBARAN PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA CIKADONGDONG KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2018 Hariyani Sulistyoningsih; Adinda bidari Hawa
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 11 No. 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v11i2.300

Abstract

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat terhadap program KB melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Jumlah akseptor KB di Indonesia tercatat sebesar 76,73% (Kemenkes RI, 2014). Sedangkan menurut Profil Kesehatan Indonesia 2018, jumlah akseptor KB aktif di Indonesia sebanyak 63,27%, dan jumlah akseptor KB di jawa barat sebanyak 66,48%. Metode penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif, sampel dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di RW 09 dan RW 10 yaitu 190 orang, Instrumen dalam penelitian yang digunakan adalah lembar kuesioner serta tehnik analisis data menggunakan analisis univariat yang dihitung persentasenya serta disajikan dalam bentuk tabel dan dinarasikan Hasil penelitian menyatakan bahwa responden yang ikut serta dalam program KB sebanyak 79 responden (58,5%) dan yang tidak ikut serta dalam program KB sebanyak 56 responden (41,5%), alasan berKB untuk menunda kehamilan sebanyak 25 responden (31,6%), menjarangkan kehamilan sebanyak 24 reponden (30,4%), dan mengakhiri masa kehamilan sebanyak 30 responden (38%), sedangkan jenis alat kontrasepi menggunakan Pil sebanyak 16 responden (20,3%), Suntik sebanyak 38 responden (48,1%), Kondom sebanyak 1 responden (1,3%), IUD sebanyak 14 responden (17,7%), Implant sebanyak 2 responden (17,7%), dan Implant sebanyak 2 responden (2,5%) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Program KB dengan cara promosi kesehatan atau melalui iklan yang ditempel di tempat-tempat umum agar pesan dapat dapat dibaca oleh masyarakat
GAMBARAN PENGETAHUAN, SUMBER INFORMASI DAN PERILAKU DETEKSI DINI KANKER CERVIKS PADA PASANGAN USIA SUBUR DI WILAYAH PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 Santi Susanti; Widya Maya Ningrum; Hariyani Sulistyoningsih
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 10 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v10i1.321

Abstract

Pendahuluan. Kanker serviks merupakan masalah kesehatan yang penting bagi wanita di seluruh dunia. Kanker ini adalah jenis kanker kedua yang paling umum pada perempuan. Dialami lebih dari 1,4 juta perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan data yang diperoleh kanker leher Rahim menempati urutan kedua dari kanker pada wanita. Tasikmalaya merupakan kota dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia (kementrian kesehatan, 2018). Penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku deteksi dini kanker serviks pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2018. Metode Penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini seluruh pasangan usia subur (PUS) di wilayah puskesmas Singaparna berjumlah 5.760 orang. Sampel size dihitung dengan menggunakan rumus Lameshow (1991) yaitu 374 sampel. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil. Sebagian besar respoden mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang tentang kanker serviks yaitu 245 (65,5%). Sumber informasi kanker serviks sebagian besar diperoleh melalui media televisi 277 (74,1%). Sebagian kecil responden sudah melaksanakan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks yaitu 18 orang (4,8%). Simpulan. Pengetahuan responden tentang kanker serviks dan perilaku deteksi dini kanker serviks masih kurang. Sumber Informasi lebih banyak didapatkan melalui media televise. Saran untuk pasangan usia subur dapat secara aktif mencari informasi tentang kaner serviks dengan berkonsultasi langsung ke petugas kesehatan atau media informasi lainnya. Petugas kesehatan hendaknya meningkatkan program edukasi tentang kanker serviks kepada masyarakat.
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2017 Hariyani Sulistyoningsih; annisa Rahmidini; Fenty Agustini; Hapi Apriasih; erwina sumartini; Lia Yuliastuti
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.134

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah keadaan gizi yang kurang baik bahkan buruk. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal settiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak disebabkan oleh karena keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak (WHO, 2011). Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berfikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10 persen. Keadaan ini memberi petunjuk bahwa pada hakikatnya gizi yang buruk atau kurang akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia. Gizi buruk masih menjadi salah satu masalah di Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2016 jumlah kasus gizi buruk berjumlah 63 kasus, sementara tahun 2017 turun menjadi 41 kasus. Kasus ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan, akan tetapi permasalahan gizi kurang masih menjadi masalah nasional yang perlu penanganan serius. Berdasarkan data yang didapat dari profil Puskesmas Singaparna tahun 2016 didapatkan bahwa kasus gizi buruk di Kecamatan Singaparna berjumlah 5 orang. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pemantauan Tumbuh Kembang Balita sebagai upaya peningkatan status gizi untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya.
PROGRAM LANSIA WILAYAH PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Santi Susanti; Hariyani Sulistyoningsih; Fenty Agustini; Tupriliany Danefi; wuri Ratna Hidayani
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.135

Abstract

Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan reproduksi perempuan secara sempit dengan mengaitkannya pada masalah seputar perempuan usia subur, kehamilan dan persalinan. Secara lebih spesifik, berbagai masalah dalam kesehatan reproduksi mulai dari perawatan kehamilan, pertolongan pada persalinan, infertilitas, penggunaan kontrasepsi, kehamilan tidak diinginkan dan aborsi, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, pelecehan dan kekerasan pada perempuan, perkosaan, layanan dan informasi pada remaja, serta menopause pada perempuan dewasa, merupakan bagian dari upaya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran kesehatan reproduksi bagi individu, khususnya bagi perempuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seluruh tingkatan hidup perempuan merupakan fokus persoalan kesehatan reproduksi itu sendiri. Menurut Manuaba sampai akhir abad 21, diperkirakan antara 8%- 10% penduduk Indonesia adalah lansia dan lansia perempuan akan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa ledakan menopause pada tahun-tahun mendatang sulit sekali dibendung dan diperkirakan di tahun 2030 nanti ada sekitar 1,2 miliar perempuan yang berusia diatas 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (sekitar 80%) tinggal di negara berkembang dan setiap tahunnya populasi perempuan menopause meningkat sekitar tiga persen. 3 Artinya kesehatan perempuan khususnya patut mendapatkan perhatian, sehingga akan meningkatkan angka harapan hidup dan tercapainya kebahagiaan serta kesejahteraan secara psikologis. Dalam rangkaian disnatalis STIKes Respati Tasikmalaya ke-15 dilaksanakan program pengabdian masyarakat pemeriksaan status kesehatan lanjut usia di wilayah kerja puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya tahun 2017.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMBENTUKAN KADER TANGGAP STUNTING SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN STUNTING DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Sinta Fitriani; Hariyani Sulistyoningsih; Erwina Sumartini; Ade Rahmat; amalia siti zahra; agung NN; MUHAMMAD JAMALUDIN; Risma n; nina Nurjanah
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.287

Abstract

Latar belakang program ini adalah Stunting (kerdil) merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (Kemenkes RI : 2018)Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai lokasi prioritas penurunan stunting. Jumlah ini akan bertambah sebanyak 60 kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini diharapkan dapat menekan angka stunting di Indonesia sehingga dapat tercapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan angka stunting hingga 40%.Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya didapatkan bahwa wilayah Kecamatan Singaparna merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi stunting pada bulan Februari tahun 2019 yaitu sebanyak 136 balita dengan status gizi sangat pendek dan 444 balita dengan status pendek. Dari 5 Desa Cikunir prevalensi kejadian stunting paling tinggi dengan 26 balita dengan status gizi sangat pendek dan 113 balita dengan ststus gizi pendek. Potensi kegiatan pemberdayaan di wilayah Desa Cikunir sangat besar, hal ini dikarenakan Pemerintahan Desa Cikunir sangat kooperatif dan focus pada kegiatan kesehatan salah satunya adalah issue stunting dan ODF. Dalam kegiatan Kabupaten sehat Bupati Tasikmalaya14menyampaikan lokasi khusus untuk permsalahan stunting adalah wilayah Kecamatan Singaparna. Selain itu potensi lain yang memungkinkan untuk dapat menjadi pendukung program adalah ketersediaan kader aktifyang terdistribusi di 12 posyandu.Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak Jangka Pendek meliputi Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian; Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal, pada anak tidak optimal; dan peningkatan biaya kesehatan. Dampak Jangka Panjangyang timbul : Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya); Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya; Menurunnya kesehatan reproduksi; Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah; dan Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.Dalam penanganan stunting, Pemerintah Indonesia merumuskan 5 pilar penanganan stunting. Pada Pilar ke 4 berisi tentang Mendorong Kebijakan Akses Pangan Bergizi; Dalam rangka intervensi penanganan stunting di 2018, disasar 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pun terlibat aktif dalam upaya menekan angka stunting. Ragam penanganan stunting yang berhubungan dengan intervensi spesifik dan sensitif terkait stunting terwadahi lewat Peraturan Menteri Desa tentang Pemanfaatan Dana Desa. Lewat peraturan yang dikeluarkan tersebut, Warga Desa bisa terlibat aktif menghadirkan aneka kegiatan yang berhubungan upaya penanganan stunting. Kehadiran Dana Desa telah membangun 6.041 Pondok Bersalin Desa (Polindes), penyediaan 32.711unit air bersih, 82.356 unit sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Berhasil pula membangun 13.973 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), 21.357 unit bangunan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).Berdasarkan hal tersebut, tim pengusul telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk mewujudkan Pemodelan DEBASTING (Desa Bebas Stunting) melalui pemberdayaan perempuan dan pendekatan budaya di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.