Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SOLAH PURUS I Kadek Adi Gunawan; I Gusti Ngurah Sudibya; Sulistyani Sulistyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 2 No 2 (2022): Terbitan Kedua Bulan November tahun 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v2i2.1886

Abstract

Tari Solah Purus adalah karya tari kontemporer mengambil tema kesuburan yang sumber kreatifnya dari peristiwa budaya yaitu Sanghyang Enjo-Enjo.Sanghyang Enjo-Enjo merupakan wujud keyakinan masyarakat yang mempunyai makna kesuburan, menggunakan alat vital laki-laki sebagai simbol. Sanghyang Enjo-Enjo ini memiliki keunikan yaitu dari segi wujud dibuat dari ilalang (ambengan) Berbentuk sosok laki-laki (purusa), yang memegang simbol kesuburan laki-laki dan symbol kesuburan tersebut bisa digerakan dengan cara tarik-ulur serta dari segi penyajian yang ada lima yaitu didorong, ditarik, diangkat, dibanting, dan diputar. pencipta tertarik mengangkat prosesi, bentuk penyajian dan makna dari peristiwa budaya tersebut. Karya tari Solah Purus ini ditarikan oleh Sembilan penari putra dengan postur tubuh yang sama. Metode penciptaan yang digunakan dalam karya tari Solah PurusiniadalahmetodeMencipta LewattariolehY.sumandiyoHadi yangmencakup tahap penjajagan, tahap percobaan dan tahap pembentukan. Karya tari Solah Purus ini menggunakan tata rias wajah dan busana berupa baju dan celana menjadi satu dengan variasi kain rangrang khas Nusa Penida, gelang kana, gelang lengan, deker kaki, gelang kaki, jestring, kancut purus dan sabuk pinggang. Iringan yang digunakan dalam karya tari Solah Purus ini adalah beberapan instrumen gamelan Semar Pegulingan yaitu Riong, Kajar, Jegog, Jublag, Gong, Gentorang serta menggunakan vokal pada bagian opening dan Ending. Karya tari kontemporer Solah Purus dipentaskan di panggung proscenium Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar. Tujuan penciptaan karya ini yaitu untuk memberikan pesan moral bahwa janganlah menyia-nyiakan kesuburan karena kesuburan dibutuhkan setiap manusia dan mewujudkan karya tari baru berbasis kearifan lokal. Hal ini dilatari karena banyaknya kini generasi muda tidak mengenali kearifan lokal budaya mereka sendiri, padahal peristiwa budaya tersebut mengandung nilai-nilai budaya adiluhung yang patut untuk dilestarikan. Kata Kunci: Solah Purus, Kontemporer, Karya Tari, Sanghyang Enjo-Enjo, kesuburan
Tari Nampi, perubahan diri untuk masa depan I Wayan Gede Artha Saputra; I Gusti Ngurah Sudibya; I Wayan Adi Gunarta
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman empiris adalah sesuatu yang dirasakan secara individual dan biasa terjadi pada saat indera merasakan, melihat, mendengar, serta melaksanakan sesuatu. Pengalaman selalu ada pada setiap individu guna memberikan pengetahun baru serta menjadi guru utama dalam menjalani kehidupan. “Pengalaman adalah guru yang terbaik” yang diutarakan oleh Julius Cesar. Pengalaman empiris yang penata rasakan dan menghancurkan perasaan penata saat bersekolah di SMK N 3 Sukawati menjadi ide dalam menciptakan sebuah karya tari, dengan judul Nampi. Karya tari Nampi merupakan karya tari dengan pola garap kontemporer, berbentuk kelompok besar dengan penari berjumlah 10 orang yang diantaranya 6 orang penari laki-laki dan 4 orang penari perempuan. Kata Nampi berasal dari bahasa Bali yaitu menerima, dalam sebuah pengalaman atau proses yang dilalui setiap individu selalu mendapatkan sesuatu guna menjadi senjata ataupun wawasan. Karya tari Nampi memiliki struktur yang digunakan adalah awal, isi dan akhir. Setiap bagian struktur memiliki pembicaran yang berbeda, pesan serta tujuan yang memiliki keinginan yang sama. Dalam pembicaraan setiap struktur terdiri dari pengalam pahit, proses, dan perjuangan. Dalam menciptakan karya tari Nampi penata menggunakan metode Alma M. Hawkins yang terdiri dari 3 tahap yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, dan forming. Melalui tahap-tahap yang telah dilakukan penata menemukan sebuah gerakan- gerakan yang berasal dari kegiatan sehari-hari dan menjadi sumber dari gerak yang digunakan. Terciptanya karya tari Nampi memiliki pesan serta tujuan untuk memberikan pemikiran baru atau sudut pandang baru dalam menjalani perjalanan hidup. Kata Kunci: pengalaman, kehidupan, proses
Fungsi dan Peran Api dalam Seni dan Kehidupan Masyarakat Bali I Gusti Ngurah Sudibya; Pande Made Sukerta; Sardono Waluyo Kusumo; Eko Supriyanto
PANGGUNG Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.520

Abstract

ABSTRACTFire is made up of three elements, such as heat, combustible materials and oxygen. A fire has heat and light. Fire is used in real life in various human life from cooking, to marriage and to burning dead bodies. Fire is available in space, on earth, and in oneself. Symbolically the fire is employed as a symbol of spirit, a sanctification, a destruction, enlightenment, heating temperatures, fire of romance, and fire of revenge. Overheated is possible when one ignores norms, ethics, and rules. Library studies, interviews, observations, and experiments are the methods used in this compilation. Fire both as symbol and text, functioned according to the capacity/role of each, both in and outside themselves, the use of it must be controlled for the harmony of the macrocosms and microcosms, when is the right time is to use small, medium and large fire, because all of them is important.Keywords: function, fire, symbol, harmonic.ABSTRAKApi terbentuk dari tiga elemen yakni, panas, bahan mudah terbakar dan oksigen. Api memiliki panas dan cahaya. Api digunakan dalam kehidupan manusia dari memasak, penerangan, perkawinan sampai pembakaran jenazah. Api terletak di angkasa, di bumi, dalam diri. Api dijadikan simbol semangat, penyucian, peleburan, pencerahan, api asmara, api dendam. Terjadi over heated/panas berlebih yang tidak lagi mengindahkan norma, etika, aturan. Studi kepustakaan, wawancara, observasi, dan percobaan merupakan metode yang digunakan dalam penyusunan ini. Seyogyanya api baik sebagai simbol maupun teks, difungsikan sesuai kapasitas/perannya masing-masing, baik dalam diri maupun diluar diri, semua itu harus dikendalikan penggunaannya, agar keharmonisan bhuana alit dan bhuana agung dapat terwujud, kapan menggunakan api kecil, sedang maupun besar, karena semuanya penting.Kata kunci: fungsi, api, simbol, harmonis.
Tari Nampi, perubahan diri untuk masa depan I Wayan Gede Artha Saputra; I Gusti Ngurah Sudibya; I Wayan Adi Gunarta
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman empiris adalah sesuatu yang dirasakan secara individual dan biasa terjadi pada saat indera merasakan, melihat, mendengar, serta melaksanakan sesuatu. Pengalaman selalu ada pada setiap individu guna memberikan pengetahun baru serta menjadi guru utama dalam menjalani kehidupan. “Pengalaman adalah guru yang terbaik” yang diutarakan oleh Julius Cesar. Pengalaman empiris yang penata rasakan dan menghancurkan perasaan penata saat bersekolah di SMK N 3 Sukawati menjadi ide dalam menciptakan sebuah karya tari, dengan judul Nampi. Karya tari Nampi merupakan karya tari dengan pola garap kontemporer, berbentuk kelompok besar dengan penari berjumlah 10 orang yang diantaranya 6 orang penari laki-laki dan 4 orang penari perempuan. Kata Nampi berasal dari bahasa Bali yaitu menerima, dalam sebuah pengalaman atau proses yang dilalui setiap individu selalu mendapatkan sesuatu guna menjadi senjata ataupun wawasan. Karya tari Nampi memiliki struktur yang digunakan adalah awal, isi dan akhir. Setiap bagian struktur memiliki pembicaran yang berbeda, pesan serta tujuan yang memiliki keinginan yang sama. Dalam pembicaraan setiap struktur terdiri dari pengalam pahit, proses, dan perjuangan. Dalam menciptakan karya tari Nampi penata menggunakan metode Alma M. Hawkins yang terdiri dari 3 tahap yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, dan forming. Melalui tahap-tahap yang telah dilakukan penata menemukan sebuah gerakan- gerakan yang berasal dari kegiatan sehari-hari dan menjadi sumber dari gerak yang digunakan. Terciptanya karya tari Nampi memiliki pesan serta tujuan untuk memberikan pemikiran baru atau sudut pandang baru dalam menjalani perjalanan hidup. Kata Kunci: pengalaman, kehidupan, proses