Rezka Dian Trisnanto
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Lama Analgesia Lidokain 2% 80 mg Dibandingkan Kombinasi Lidokain 2% dan Epinefrin pada Blok Subarakhnoid Rezka Dian Trisnanto; Uripno Budiono; Widya Istanto Nurcahyo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i3.6458

Abstract

Background: Subarachnoid block using isobaric lidocaine, has been applied on many variable clinic surgeries. In the country, lidocaine 2% 80 mg is preferable because of its cost The disadvantage of using lidocaine 2% 80 cc is short duration, 45 - 60 minutes, despite many surgeries take more than 1 hour, despite many surgeries take more than 1 hour.Objective: to prove whether addition of epinephrine 0.02 mg on subarachnoiod block with lidocaine 2% 80 cc able to make longer time of analgesia.Methods: It is a experimental study with quota sampling design on the 52 patients, which are undergoing surgery. In the room, blood pressure (BP), heart rate (HR), respiratory rate (RR) were measured. All of the patients were fasting 6 hour and no premedications. In the Central Operating Room/ COT ("Instalasi Bedah Sentral / IBS") vein access 18 G was inserted and colloid 7.5 cc/KgBW given as preload. The patients were divided randomly into 2 groups, lidocaine group and lidocaine - epinephrine group. Motoric block evaluation was performed on the same time with level of analgesia evaluation by using Bromage's criteria. Blood pressure, MAP, heart rate, respiratory rate were measured before and after subarachnoid block, in the first 10 minutes of surgery, measurement every minute, 20 th minute and every 10 minute, 20 th minute and then every 10 minute until there was no motoric block. Uncooperative patient and who need additional analgesia during surgery, was excluded. Using Mann - Whitney and p < 0.05. Data were gathered in tables.Results: There was no difference for patients characteristics and surgery distribution among 2 groups. Regression time of 2 segments on the lidocaine -epinephrine group was longer significantly than iidocaine group (p = 0.000). The onset of sensoric block on lidocaine was shorter significantly than lidocaine -epinephrine group (p = 0.025). Duration of motoric block on lidocaine -epinephrine group was longer significantly than lidocaine group (p = 0.000). There was no significant difference on maximal level in two groups. There was no difference significantly on BP, MAP, HR after preload. There was difference significantly on HR at 1 st and 2 nd during subarachnoid block given between two group. Side effect distribution had difference significantly.Conclusion: Regression time of 2 segments on iidocaine - epinephrine group was longer significantly than lidocaine group.Keywords : subarachnoid block, lidocaine 2% 80 mg, epinephrine 0.02 mgABSTRAKLatar belakang: Blok subarakhnoid menggunakan lidokain isobarik, banyak digunakan pada operas! untuk pasien dengan berbagai kondisi klinik. Di daerah banyak digunakan lidokain 2% 80 mg dikarenakan harganya yang relatif murah. Kerugian dari penggunaan lidokain 2% 80 mg adalah durasi yang singkat, yaitu antara 45 - 60 menit, padahal banyak tindakan pembedahan yang durasinya lebih dari 1 jam.Tujuan: Membuktikan apakah penambahan epinefrin 0,02 mg pada blok subarakhnoid dengan lidokain 2% 80 mg dapat memperpanjang lama analgesia.Metode : Merupakan penelitian eksperimental dengan desain quota sampling pada 52 pasien yang menjalani operasi di daerah region abdominal dengan blok subarakhnoid. Saat di ruangan dilakukan pengukuran tekanan darah, laju jantung, dan laju nafas. Semua penderita dipuasakan 6 jam dan tidak diberikan obat premedikasi. Penilaian blok motorik dilakukan pada saat yang sama dengan penilaian level analgesi dengan menggunakan criteria dari Bromage. Penilaian tekanan darah, TAR, laju jantung dan laju nafas dilakukan sebelum dan sesudah blok subarakhnoid selama 10 menit pertama pembedahan dilakukan tiap menit, menit ke 15,20 selanjutnya setiap 10 menit sampai hilangnya blok motorik. Pasien tidak kooperatif dan membutuhkan analgetik tambahan selama pembedahan dikeluarkan dari penelitian. Uji statistik menggunakan Mann - Whitney dan derajat kemaknaan p < 0,05. Penyajian data dalam bentuk tabel.Hasil: Karakteristik penderita dan distribusi operasi antara kedua kelompok tidak berbeda. Waktu regresi dua segmen kelompok lidokain - epinefrin lebih lama dibandingkan kelompok lidokain (p=0,000). Mula kerja blok sensorik kelompok lidokain lebih cepat dibandingkan dengan kelompok lidokain - epinefrin (pK),002). Mula kerja blok motorik kelompok lidokain lebih cepat dibandingkan dengan kelompok lidokain - epinefrin (/7= : 0,025). Lama kerja blok motorik kelompok lidokain - epinefrin lebih panjang dibandingkan dengan kelompok lidokain (p=0,000). Level maksimal blok sensorik tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. TDS, TDD, TAR, laju nafas pada keadaan hemodinamik setelah preload tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Pada laju jantung terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p=0,013). TDS, TDD, TAR, laju nafas selama blok subarakhnoid tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Laju jantung terdapat perbedaan bermakna pada menit pertama dan menit kedua selama blok subarakhnoid pada kedua kelompok. Distribusi efek samping terdapat perbedaan bermakna antaraKesimpulan: Waktu regresi 2 segmen kelompok lidokain - epinefrin lebih lama secara bermakna dibandingkan kelompok lidokain.Kata kunci : Blok subarakhnoid, lidokain 2% 80 mg, epinefrin 0,02 mg.
ASOSIASI HIPERTENSI DENGAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS Arissya, Azalea Farsya Kanya; Setyaningsih, Mayang; Trisnanto, Rezka Dian
Jurnal Pranata Biomedika Vol 5, No 1: Maret 2026
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/jpb.v5i1.15233

Abstract

Latar belakang : Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan ginjal. Salah satu parameter untuk menilai fungsi ginjal adalah laju filtrasi glomerulus (LFG). Di Indonesia, penelitian spesifik mengenai hubungan derajat hipertensi dengan LFG masih terbatas.Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan antara derajat hipertensi dengan laju filtrasi glomerulus pada pasien rawat inap RS Panti Wilasa dr. Cipto Semarang tahun 2025.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder rekam medis. Sampel terdiri dari 108 pasien rawat inap hipertensi periode Januari-Maret 2025 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Derajat hipertensi ditentukan berdasarkan JNC 8 dan LFG dihitung menggunakan rumus CKD-EPI. Analisis meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Mann-Whitney, korelasi Spearman, dan Chi-square for trend.Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat hipertensi dengan laju filtrasi glomerulus pada pasien rawat inap RS Panti Wilasa dr. Cipto Semarang tahun 2025. Penurunan fungsi ginjal pada pasien hipertensi bersifat multifaktorial dan tidak semata-mata ditentukan oleh derajat hipertensi. 
ASOSIASI DEVIASI SEPTUM NASI DENGAN SINUSITIS KRONIS DI RSD K.R.M.T. WONGSONEGORO Kristanto, Ivana Gavrila; Kristanti, Alberta Widya; Trisnanto, Rezka Dian
Jurnal Pranata Biomedika Vol 4, No 2: September 2025
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/jpb.v4i2.15230

Abstract

Latar Belakang: Sinusitis kronis merupakan peradangan mukosa sinus yang berlangsung lebih dari 12 minggu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor obstruktif. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah deviasi septum nasi (DSN), yaitu penyimpangan septum hidung yang dapat menghambat aliran udara serta mengganggu drainase mukosilier. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara deviasi septum nasi dengan kejadian sinusitis kronis pada usia produktif di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang tahun 2023-2024.Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik consecutive sampling terhadap pasien THT berusia 15-64 tahun yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan data rekam medis periode Januari 2023-Desember 2024. Penilaian deviasi septum nasi dan sinusitis kronis dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan/atau radiologi. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR).Hasil: Dari 115 subjek penelitian, keluhan hidung lebih sering ditemukan pada perempuan dan kelompok usia 15-24 tahun. Sebanyak 77% subjek dengan sinusitis kronis tidak memiliki deviasi septum nasi, sedangkan 9,3% memiliki DSN. Pada kelompok tanpa sinusitis kronis, proporsi subjek dengan DSN mencapai 90,7%, sedangkan 23% tidak memiliki DSN. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara deviasi septum nasi dan sinusitis kronis (p = 0,048) dengan risiko hampir tiga kali lebih besar pada subjek dengan DSN (OR = 2,919). Hubungan paling kuat ditemukan pada sinus maksilaris dengan signifikansi tinggi (p = 0,001) dan peningkatan risiko sebesar OR = 4,258.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa deviasi septum nasi berhubungan dengan peningkatan kejadian sinusitis kronis, terutama pada sinus maksilaris.