Penelitian ini mengkaji bagaimana pengelolaan persediaan bahan baku yang lebih baik dapat menghemat biaya dengan menerapkan metode JIT di CV. Raja Ngemil Bandung. Perusahaan saat ini menghadapi kendala dalam pengelolaan bahan baku, yang mengakibatkan pembelian tidak terencana, tingkat persediaan yang tidak stabil, serta tingginya biaya pembelian dan penyimpanan. Selama periode Januari hingga Juni 2026, kebutuhan tepung sebagai bahan baku utama mencapai 4.250 kg, dengan frekuensi pembelian sebanyak 24 kali. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi perusahaan, yang mencakup informasi mengenai penggunaan bahan baku, biaya pemesanan, biaya penyimpanan, frekuensi pemesanan, serta rincian proses produksi. Penelitian ini menganalisis sistem persediaan yang ada saat ini dan membandingkannya dengan metode EOQ serta metode JIT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan sistem persediaan saat ini, perusahaan mengeluarkan total biaya sebesar Rp7.530.000 dengan 24 kali pemesanan. Metode EOQ menyarankan pemesanan sebanyak 2.429 kg dalam dua kali pesan, Sementara itu, penerapan metode JIT menunjukkan bahwa jumlah pemesanan optimal adalah 4.207 kg, yang dilakukan melalui satu kali pemesanan namun dengan tiga kali pengiriman terpisah. Total biaya persediaan menggunakan metode JIT adalah Rp874.642. Hal ini menghasilkan penghematan sebesar Rp6.655,357 dan efisiensi biaya sebesar 88,38%. Metode JIT terbukti menjadi solusi yang bermanfaat bagi CV. Raja Ngemil Bandung dalam mengelola persediaan dan melakukan penghematan biaya secara lebih efisien.