Eunike Sri Tyas Suci
Universitas Katolik Atma Jaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MERUBAH PERILAKU MEROKOK DENGAN SUBLIMINAL CONDITIONING: SEBUAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL (CHANGE SMOKING BEHAVIOR BY SUBLIMINAL CONDITIONING: AN EXPERIMENTAL STUDY) Thomas, Whisnu; Tyas Suci, Eunike Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subliminal messages merupakan cara mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan manusia dengan memasukkan informasi ke pikirannya dalam waktu yang sangat cepat sehingga tidak dapat ditangkap oleh indera manusia. Subliminal messages berhasil dilakukan dalam bidang industri dan perdagangan, namun kurang berhasil dilakukan di bidang klinis untuk terapi karena berbagai kelemahan. Peneliti mencoba memperbaikinya dengan mengubah subliminal messages menjadi subliminal conditioning dan diuji coba sebagai terapi berhenti merokok. Subliminal conditioning tidak menyampaikan pesan, melainkan asosiasi. Metode penelitian ini adalah eksperimen laboratorium desain within group, dengan variabel bebas subliminal conditioning dan variabel terikat perilaku merokok. Partisipan penelitian adalah mahasiswa sebuah universitas swasta di Jakarta berusia 20 tahun atau lebih, merokok minimal 5 batang seminggu dan ingin berhenti merokok. Dari 34 partisipan yang mendaftar, hanya data dari 12 partisipan yang dapat digunakan. Asosiasi yang diberikan adalah merokok dengan rasa takut, dengan memberikan gambar rokok bersamaan dengan gambar yang menakutkan berupa orang mati secara tragis, yang diselipkan dalam sebuah film serial. Eksperimen dilakukan dengan menonton film tersebut selama satu jam per hari dalam 10 hari berturut-turut, kecuali hari minggu. Partisipan diminta untuk mencatat perilaku merokok mereka setiap hari selama eksperimen berlangsung. Berdasarkan hasil analisis statistik Wilcoxon Signed Rank Test, terapi subliminal conditioning terbukti berhasil menurunkan perilaku merokok secara signifikan (Z = 2.1, p < 0.05), namun tidak cukup kuat untuk membuat partisipan berhenti merokok. Penelitian ini merupakan awal pengembangan terapi bagi perokok dan perlu dikembangkan di masa depan. Hal yang perlu diperhatikan adalah persiapan eksperimen yang lebih terkontrol, jumlah partisipan yang lebih banyak, dan tingkat kecanduan rokok yang lebih tinggi.Kata kunci: subliminal, conditioning, merokok, terapi, psikoterapi, adiksi.Subliminal messages are the ways to influence human attitude, decision and action by inserting information to his/her mind in a so fast a fashion that it can’t be captured by human sense. Subliminal messages have been successfully applied in the area of industry and trade, but not so in clinical area as a therapy due to a number of weaknesses. We tried to improve it by modifying subliminal messages into subliminal conditioning, and examined it to smokers. Subliminal conditioning does not send messages, but associations. This study was a laboratory experiment with a within group design. The independent variable was Subliminal Conditioning, and the dependent variable is smoking behavior. Participants were selected from students at a private university in Jakarta aged at least 20 years old, and smoked at least five cigarettes a week. Of the 34 participants who participated in the study, only the data of 12 of them could be used. The association was smoking with fear, in which a picture of a cigarette was concurrently presented with a picture of a tragic death to the participants through a movie serial. The participants were required to watch the movie serial one hour each day for 10 consecutive days, except Sunday. They were also required to make notes on the number of cigarettes they smoked every day during the experimental week. Using the Wilcoxon Signed Rank Test, the study showed that subliminal conditioning therapy was able to significantly reduce their smoking behavior (Z = 2.1, p < 0.05), though it failed to entirely stop their smoking behavior. This research was a start to the development a better therapy for smokers. The use of a better control, more participants, and higher level of smoking addiction was recommended for future research.Keywords: subliminal, conditioning, smoking cessation,therapy, psychotherapy, addiction.
KONFLIK INTRAPERSONAL WANITA LAJANG TERHADAP TUNTUTAN ORANGTUA UNTUK MENIKAH (INTRAPERSONAL CONFLICT OF SINGLE WOMEN TOWARDS PARENT’S DEMAND TO MARRIED) Dian Noviana, Catarina Laboure; Tyas Suci, Eunike Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah wanita lajang usia dewasa awal yang bekerja meningkat di Indonesia. Mereka memilih melajang karena ingin memusatkan waktu dan energinya pada karir. Di lain pihak, orangtua berharap anak wanitanya segera menikah agar terhindar dari pelabelan negatif oleh masyarakat, hidup anaknya terjamin, dan segera memberi cucu.Label yang paling sering didengar adalah “perawan tua” atau “tidak laku.” Hal ini membuat orangtua menuntut anak wanitanya segera menikah. Tuntutan ini membuat konflik intrapersonal pada wanita lajang yang bekerja. Konflik intrapersonal adalah konflik antara individu dengan dirinya sendiri dan terjadi pada waktu yang bersamaan ketika individu memiliki kebutuhan, keinginan, kenyataan dan nilai yang tidak sejalan satu sama lain dan tidak mungkin dua atau lebih kebutuhan dapat dipenuhi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran konflik intrapersonal yang dialami wanita bekerja yang masih lajang pada usia dewasa awal menghadapi tuntutan menikah oleh orangtuanya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam kepada 4 subjek dari tingkat sosial menengah ke atas yang terbagi menjadi 2 kelompok usia: 25–29 dan 30–35 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan orangtua untuk menikah bagi wanita lajang merupakan nilai yang harus dipatuhi. Intensitas konflik intrapersonal dipengaruhi oleh budaya, karakteristik subjek, seberapa besar nilai dapat mempengaruhi perilaku serta perasaan subjek, urutan kelahiran dan saudara yang sudah menikah. Penelitian ini diharapkan membuat cakrawala orangtua dalam memahami anak wanitanya yang hidup melajang di masa kini dan menjadi terbuka dan membuat mereka mampu mengkomunikasikan dengan baik keinginan mereka agar anak perempuannya segera menikah sehingga kesejahteraan mental anak tetap terjaga.Kata kunci: wanita lajang, konflik intrapersonal, harapan menikah, tuntutan orangtua.The number of single working women in their early adult life tends to increase in Indonesia. They chose to stay single because they want to spend their time and energy for their career. On the other hand, parents expect them to get married to avoid negative social labeling, to make sure that their daughters are secured, and also to give them grandchildren. The common labels include “perawan tua” or “tidak laku.” These make parents expect them to get married soon. This expectation creates intrapersonal conflict in single working women. Intrapersonal conflict is a conflict between an individual with herself and occurrs when the individual has needs, desires, realities and values that are inconsistent one another, and fails to meet two or more needs. This study aims to describe intrapersonal conflict in single working women agaist parents’ demand to get married. This study applied descriptive qualitative approach and used in-depth interviews to four respondents with various characteristics (middle to upper-middle class with two age groups: 25-29 and 30-35 years old). The results showed that parental demand to their single working daughters to get married is a value that must be obeyed. Intrapersonal conflict intensity is influenced by culture, respondents’ characteristics, the extent that value influences behavior, respondents’ feelings, birth order, and married sisters. In order to make intrapersonal conflict free from negative impact on single working women, it is hoped that this research may broaden parents’ understanding about their daughters. Parents’ expectation to their daughters to get married should be communicated so that it does not influence their daughters’ mental well-being.Keywords: single women, intrapersonal conflict, marriage expectation, parental demand
MINANGKABAU WOMEN IN JAKARTA: THEIR PERCEPTIONS OF THEIR HERITAGE LANGUAGE AND CULTURE Sukamto, Katharina Endriati; Tyas suci, Eunike Sri
Jurnal KATA Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Kata : Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.516 KB) | DOI: 10.22216/jk.v2i2.3221

Abstract

Of the so many ethnic groups in Indonesia, the Minangkabau-or Minang-people have the strongest tradition of migration. This ethnic group is also known as the largest matrilineal society in the world (Wikipedia). This qualitative study looks at how the Minang women who live in the surrounding areas of Jakarta perceive the Minang language, Indonesian language, and Minang culture in their daily lives. The data were collected through in-depth interviews with four adult female Minang informants, aged between 39 to 55 years old. This study reveals that the four women no longer perceive the Minang language as important to be maintained. They prefer to use Indonesian in their daily communication, both in the family domain as well as the public domain. In relation to the Minang culture, the four women tend to maintain the egalitarian and democratic principles of the Minang tradition. In fact, the quality of maintaining and passing on the Minang culture to their children depends on the attachment of the women to the culture itself.