Dewi Angreini
Universitas Indonesia Timur

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Efek Regulasi Emosi terhadap Kecemasan Prapertandingan Atlet UKM Tekwondo di Kota Makassar Dewi Angreini; Nurul Khumaerah; Aswar
Psyche 165 Journal Vol. 14 (2021) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.537 KB) | DOI: 10.35134/jpsy165.v14i4.134

Abstract

This study aims to determine the effect of emotion regulation on pre-match anxiety of Taekwondo UKM athletes in Makassar City. This study uses a quantitative approach. The population in this study was SME Taekwondo athletes in Makassar City totaling 100 people with a sample of 50 people. By analyzing the data using SPSS 23.0 for Windows to test normality and linearity, and to test the hypothesis with simple regression. The results of this study indicate the value of F = 11,978 with a significance of 0.003 (p<0.05) which indicates that emotional regulation has a significant effect on anxiety in dealing with competition in Taekwondo UKM athletes in Makassar City. While the value of R is 0.195, it shows that emotion regulation affects the athlete's anxiety. Based on these results, the research hypothesis is accepted.  
COPING STRES AYAH SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL PASCA PERCERAIAN Dewi Angreini; Faisal Ramdhan
JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) Vol. 1 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi SKIsO
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36090/jps.v1i1.1561

Abstract

Penelitian ini mengkaji coping stres ayah yang menjadi orang tua tunggal pasca perceraian. Topik ini penting karena perceraian mengubah struktur keluarga dan menempatkan ayah pada peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh utama, kondisi yang dapat memunculkan tekanan emosional, sosial, dan praktis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi terhadap dua orang ayah tunggal di Kota Makassar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek mengalami tekanan psikologis yang kuat terkait beban pengasuhan, tanggung jawab ekonomi, pengelolaan rumah tangga, serta perubahan peran setelah perceraian. Pola coping yang tampak cenderung maladaptif, seperti meluapkan kemarahan kepada anak, menghindari rumah, merokok berlebihan, konsumsi minuman keras, perjudian, dan pada salah satu subjek penggunaan zat terlarang. Meskipun demikian, kedua subjek tetap menunjukkan keterikatan dengan anak dan berupaya menjalankan pengasuhan di tengah keterbatasan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan regulasi emosi, kompetensi pengasuhan, dan dukungan sosial bagi ayah tunggal pasca perceraian. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya layanan pendampingan psikologis dan edukasi pengasuhan agar strategi coping ayah menjadi lebih adaptif dan tidak berdampak negatif pada anak.
GAMBARAN REGULASI EMOSI REMAJA WANITA FATHERLESS DI LKSA FURQAN SUMANG Tarima Husnun Baderiyyah; Dewi Angreini; Syamsul Bchri Thalib
JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) Vol. 1 No. 2 (2026): Jurnal Psikologi UIT SKIsO
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36090/

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan regulasi emosi remaja wanita yang mengalami fatherless di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Furqan Sumang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Subjek dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dua remaja wanita berusia 18–21 tahun yang mengalami fatherless dan tinggal di LKSA Furqan Sumang, dengan pengasuh dan kerabat subjek sebagai informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman fatherless memengaruhi cara subjek dalam memilih dan memodifikasi situasi, mengalihkan perhatian, serta mengubah cara berpikir terhadap pengalaman emosional, sejalan dengan strategi regulasi emosi berfokus anteseden yang dikemukakan oleh Gross. Kedua subjek cenderung menyelesaikan tekanan emosional secara mandiri dan selektif dalam memilih tempat bercerita, namun masing-masing mengembangkan strategi adaptif berupa penerimaan dan pemaknaan positif seiring waktu. Dukungan pengasuh dan teman sebaya di lingkungan LKSA turut membantu subjek mengembangkan regulasi emosi yang lebih adaptif, meskipun kesulitan dalam mengekspresikan dan mengelola emosi terkait ketidakhadiran figur ayah masih dirasakan. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan intervensi psikologis bagi remaja dengan pengalaman fatherless, khususnya yang tinggal di lembaga kesejahteraan sosial anak.
RESILIENSI INDIVIDU PENGHUNI SENTRA GAU MABAJI DI KABUPATEN GOWA zulfikar; Munaing; Dewi Angreini
JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) Vol. 1 No. 2 (2026): Jurnal Psikologi UIT SKIsO
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36090/

Abstract

Resiliensi Individu Penghuni Sentra Gau Mabaji di Kabupaten Gowa. Lanjut usia yang tinggal di lingkungan pelayanan sosial menghadapi keterpisahan dengan keluarga, kehilangan orang terdekat, penurunan kondisi fisik, dan tuntutan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan menggambarkan resiliensi penghuni lanjut usia di Sentra Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif fenomenologis dengan dua subjek yang dipilih secara purposif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui transkripsi, kondensasi data, pemberian kode, pengelompokan kategori, pembentukan tema, serta verifikasi kesimpulan. Resiliensi berkembang bertahap dan memiliki bentuk berbeda. Subjek pertama beradaptasi melalui membaca, penyesuaian sosial, aktivitas fisik, dan harapan bertemu keluarga. Subjek kedua bertahan melalui kesabaran, doa, membaca buku agama, merajut, dan menghindari konflik di tengah keterbatasan mobilitas serta kehilangan keluarga. Dukungan petugas, aktivitas bermakna, dan spiritualitas memperkuat resiliensi, sedangkan keterpisahan keluarga, konflik sosial, keterbatasan fisik, dan melemahnya orientasi masa depan menjadi penghambat. Pelayanan sentra perlu memadukan dukungan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual secara terpadu.