Claim Missing Document
Check
Articles

INTERNALISASI NILAI-NILAI NASIONALISME DI LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN KABUPATEN PESISIR BARAT Abdul Halim; Viyanti Viyanti; Ana Mentari; Nurhayati Nurhayati
Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKn Vol 9, No 1 (2022): Bhinneka Tunggal Ika: Kajian Teori & Praktik Pendidikan PKn
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v9i1.17590

Abstract

Indonesia is a country with various types of uniqueness, ranging from ethnicity, religion, culture, and race. Indonesia is a place of diversity wrapped in great unity and integrity and full of meaning in real life. Of course, this diversity must be maintained properly and should not just fade away. Therefore, a greatly nationalist attitude is needed. The spirit of Nationalism is the more significant implication that the Indonesian nation must have in facing challenges, threats, obstacles, and disturbances both within and outside the country. The aim of this research was as a way or method to fight radicalism not only in Islamic boarding schools in Pesisir Barat Regency but in all Islamic boarding schools in Indonesia by developing activities in Islamic boarding schools that can internalize the values of Nationalism. Pondok Pesantren Pesiisr Barat Regency does not have a especially program of activities for internalizing the values of nationalism, but only through daily activities in the pesantren, in instilling the norms of nationalism. The form of these activities consists of intracurricular activities, namely; the Koran, and rihlah ilmiyah and extracurricular activities, namely; khitobah and hadroh.Keywords: Diversity, Nationalism, RadicalismIndonesia merupakan Negara dengan berbagai macam keunikan di dalamnya, mulai dari suku, agama, budaya, dan ras. Indonesia menjadi tempat keberagaman yang dibungkus dengan persatuan dan kesatuan yang kuat dan penuh dengan makna dikehidupan kenyataan. Tentu adanya keberagaman ini harus dijaga dengan baik dan tidak boleh luntur begitu saja. Maka dari itu dibutuhkanya sikap nasionalisme yang kuat. Jiwa Nasionalisme merupakan implikasi penting yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari dalam dan luar negeri. Namun, muncul berbagai masalah sosial yang mengganggu keutuhan bangsa Indonesia. Salah satu masalah yang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini adalah penyebaran radikalisme. Paham ini berpotensi besar diterapkan pada generasi muda di lingkungan akademik terutama di lembaga pendidikan pondok pesantren di Indonesia. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah sebagai cara atau metode untuk melawan radikalisme tidak hanya di pondok pesantren Kabupaten Pesisir Barat tetapi di seluruh lembaga pendidikan pesantren di Indonesia dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan di pondok pesantren yang dapat menginternalisasi nilai-nilai Nasionalisme.Kata Kunci: Keberagaman, Nasionalisme, Radikalisme 
Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Tatanan Sistem Sosial Untuk Memperkuat Keadaban Kewarganegaraan Debora Patricia Sebayang; Berchah Pitoewas; Abdul Halim
JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 1, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v1i1.1190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Implementasi Pendidikan Antikorupsi, penerapan nilai-nilai Pendidikan Antikorupsi menerapkan nilai-nilai Pendidikan Antikorupsi oleh guru sebelum mereka menagajarkannya kepada peserta didik dan hubungannya dengan keadaban kewarganegaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Nilai yang terdapat dalam pendidikan antikorupsi sangat berkaitan dengan adab warga negara. Pendidikan Antikorupsi merupakan salah satu usaha yang diberikan kepada masyarakat untuk memberikan pengetahuan, nilai moral, sikap, serta keterampilan yang mereka butuhkan sehingga dapat mengurangi peluang mereka melakukan korupsi. Dalam Pendidikan Anti Korupsi terdapat 9 nilai dimana nilai ini merupakan nilai yang dikenalkan oleh lembaga KPK. Kesembilan nilai ini antara lain Jujur, Peduli, Tanggung Jawab, Kerja Keras, Mandiri, Sederhana, Berani. Disiplin, dan Adil. Kesembilan nilai antikorupsi saling berkaitan dengan nilai atau adab warga negara yang didalamnya memuat norma yang ada dalam masyarakat yaitu norma agama, norma sosial, norma kesusilaan, dan norma hukum.
Efektivitas Pelaksanaan Pembelajaran Daring terhadap Pembentukan Keadaban Peserta Didik pada Mata Pelajaran PPKn Wiwin Winarningsih; Muhammad Mona Adha; Abdul Halim
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 2 No. 1 (2022): Januari
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v2i1.512

Abstract

Pembentukan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat merupakan tujuan dari pendidikan nasional. Salah satu langkah untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan dihadirkannya mata pelajaran PPKn sebagai mata pelajaran yang diharapkan dapat membentuk keadaban peserta didik. Namun pada saat pembelajaran daring dilakukan, untuk sekedar memberikan materi pelajaran pun kesulitan karena banyaknya kendala yang menjadi penghambat. Oleh karena itu, penelitin ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan pembelajaran daring terhadap pembentukan keadaban peserta didik pada mata pelajaran PPKn di SMA Negeri 1 Warunggunung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring di SMA Negeri 1 Warunggunung belum berjalan efektif dikarenakan keterbatasan teknologi diantaranya yaitu fasilitas yang tidak mendukung, jaringan internet yang tidak stabil, serta tidak adanya kuota. Hal tersebut berpengaruh pada proses pembelajaran mata pelajaran PPKn, yang mana keadaban peserta didik menjadi sulit untuk dibentuk karena interkasi antara pendidik dan peserta didik sangat terbatas.
Implementasi Pendidikan Anti Korupsi oleh Tenaga Pendidik Dalam Tatanan Sistem Sosial Untuk Memperkuat Keadaban Kewarganegaraan Debora Patricia Sebayang; Berchah Pitoewas; Abdul Halim
JALAKOTEK: Journal of Accounting Law Communication and Technology Vol 1, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jalakotek.v1i1.2058

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Implementasi Pendidikan Antikorupsi, penerapan nilai-nilai Pendidikan Antikorupsi menerapkan nilai-nilai Pendidikan Antikorupsi oleh guru sebelum mereka menagajarkannya kepada peserta didik dan hubungannya dengan keadaban kewarganegaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Nilai yang terdapat dalam pendidikan antikorupsi sangat berkaitan dengan adab warga negara. Pendidikan Antikorupsi merupakan salah satu usaha yang diberikan kepada masyarakat untuk memberikan pengetahuan, nilai moral, sikap, serta keterampilan yang mereka butuhkan sehingga dapat mengurangi peluang mereka melakukan korupsi. Dalam Pendidikan Anti Korupsi terdapat 9 nilai dimana nilai ini merupakan nilai yang dikenalkan oleh lembaga KPK. Kesembilan nilai ini antara lain Jujur, Peduli, Tanggung Jawab, Kerja Keras, Mandiri, Sederhana, Berani. Disiplin, dan Adil. Kesembilan nilai antikorupsi saling berkaitan dengan nilai atau adab warga negara yang didalamnya memuat norma yang ada dalam masyarakat yaitu norma agama, norma sosial, norma kesusilaan, dan norma hukum.
INTERNALISASI NILAI-NILAI NASIONALISME DI LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN KABUPATEN PESISIR BARAT Abdul Halim; Viyanti; Ana Mentari; Nurhayati
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v9i1.118

Abstract

Indonesia merupakan Negara dengan berbagai macam keunikan di dalamnya, mulai dari suku, agama, budaya, dan ras. Indonesia menjadi tempat keberagaman yang dibungkus dengan persatuan dan kesatuan yang kuat dan penuh dengan makna dikehidupan kenyataan. Tentu adanya keberagaman ini harus dijaga dengan baik dan tidak boleh luntur begitu saja. Maka dari itu dibutuhkanya sikap nasionalisme yang kuat. Jiwa Nasionalisme merupakan implikasi penting yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari dalam dan luar negeri. Namun, muncul berbagai masalah sosial yang mengganggu keutuhan bangsa Indonesia. Salah satu masalah yang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini adalah penyebaran radikalisme. Paham ini berpotensi besar diterapkan pada generasi muda di lingkungan akademik terutama di lembaga pendidikan pondok pesantren di Indonesia. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah sebagai cara atau metode untuk melawan radikalisme tidak hanya di pondok pesantren Kabupaten Pesisir Barat tetapi di seluruh lembaga pendidikan pesantren di Indonesia dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan di pondok pesantren yang dapat menginternalisasi nilai-nilai Nasionalisme.   Indonesia is a country with various types of uniqueness, ranging from ethnicity, religion, culture, and race. Indonesia is a place of diversity wrapped in great unity and integrity and full of meaning in real life. Of course, this diversity must be maintained properly and should not just fade away. Therefore, a greatly nationalist attitude is needed. The spirit of Nationalism is the more significant implication that the Indonesian nation must have in facing challenges, threats, obstacles, and disturbances both within and outside the country. The aim of this research was as a way or method to fight radicalism not only in Islamic boarding schools in Pesisir Barat Regency but in all Islamic boarding schools in Indonesia by developing activities in Islamic boarding schools that can internalize the values of Nationalism. Pondok Pesantren Pesiisr Barat Regency does not have a especially program of activities for internalizing the values of nationalism, but only through daily activities in the pesantren, in instilling the norms of nationalism. The form of these activities consists of intracurricular activities, namely; the Koran, and rihlah ilmiyah and extracurricular activities, namely; khitobah and hadroh.
Analisis Ekspresi Budaya Kolektif dalam Budaya Sekura Pada Era Globalisasi di Pekon Way Empulau Ulu Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat Rizky Novaldi; Muhammad Mona Adha; Abdul Halim; Susilo Susilo
JGK (Jurnal Guru Kita) Vol. 10 No. 2: Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jgk.v10.i2.72277

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekspresi budaya kolektif yang terkandung dalam tradisi Sekura di tengah dinamika globalisasi di Pekon Way Empulau Ulu, Kabupaten Lampung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi untuk mengkaji makna simbolik, praktik sosial, serta nilai-nilai kolektif yang hidup dalam pelaksanaan budaya Sekura. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, serta pelaku budaya Sekura. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Sekura masih berfungsi sebagai bentuk ekspresi budaya kolektif yang merefleksikan nilai kebersamaan, solidaritas sosial, kesetaraan, gotong royong, dan spiritualitas. Selain itu, Sekura dimaknai sebagai representasi simbolik identitas budaya lokal yang berperan penting dalam memperkuat kohesi sosial serta menjadi media pewarisan nilai budaya antargenerasi. Meskipun globalisasi menghadirkan tantangan berupa pergeseran makna dan perubahan pola pikir generasi muda, keberlanjutan budaya Sekura tetap terjaga melalui partisipasi masyarakat, upaya pelestarian, serta adaptasi budaya yang memungkinkan tradisi ini tetap relevan tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Makna Sosial dan Dinamika Budaya Upacara Adat Nguruk Diway Pada Masyarakat Adat Lampung Pepadun Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Erni Yanti; Muhammad Mona Adha; Edi Siswanto; Yunisca Nurmalisa; Abdul Halim
JGK (Jurnal Guru Kita) Vol. 10 No. 2: Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jgk.v10.i2.73033

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami makna sosial dan dinamika budaya dalam pelaksanaan upacara adat sebagai bagian dari keberlangsungan identitas budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna sosial dan dinamika budaya dalam upacara adat Nguruk Diway pada masyarakat adat Lampung Pepadun di Kecamatan Sungkai Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Subjek penelitian meliputi tokoh adat, pelaku upacara, dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan Nguruk Diway. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna sosial Nguruk Diway tercermin dalam simbol-simbol adat, praktik gotong royong, musyawarah, penghormatan terhadap garis keturunan, serta penguatan identitas sosial melalui pemberian gelar adat (adok). Dinamika budaya terlihat dari adanya penyesuaian pelaksanaan upacara terhadap kondisi ekonomi, keterlibatan generasi muda, serta pengaruh modernisasi. Kesimpulannya, Nguruk Diway merupakan sarana integrasi sosial dan pewarisan nilai budaya yang tetap adaptif tanpa kehilangan esensi adat.
Dampak Sosialisasi Pelajar Bijak Digital terhadap Penguatan Civic Empathy Siswa di Lingkungan SMPN 10 Bandar Lampung Muhammad Rizky Al-Farizi; Desta Prianti; Anita Yunida Fikri; Martika Suci Ristyawati; Ziya Ibnu Wafi; Reni Mulia Septia; Anung Mabilla; Rizki Septia Pratiwi; Aftesia Labira Lauli; Diva Aziza Mardiya; Laila Fatia Maharani; Neneng Saputri; Abdul Halim
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2026): MEI-JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/d1cbe978

Abstract

Penelitian ini membahas dampak sosialisasi “Pelajar Bijak Digital” terhadap penguatan civic empathy siswa di SMP Negeri 10 Bandar Lampung. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja yang memicu menurunnya rasa empati, maraknya cyberbullying, komentar kasar, serta budaya flexing di ruang digital. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan oleh mahasiswa PPKn Universitas Lampung kepada siswa kelas VIII melalui metode penyampaian materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, dokumentasi, dan analisis respons siswa selama kegiatan berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran siswa mengenai etika digital, pentingnya menjaga privasi, serta bahaya cyberbullying. Selain itu, kegiatan ini mampu menumbuhkan empati kolektif, refleksi diri, dan dorongan perubahan perilaku digital yang lebih bertanggung jawab. Antusiasme siswa selama kegiatan juga menunjukkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka sebagai generasi digital. Dengan demikian, sosialisasi “Pelajar Bijak Digital” dinilai efektif dalam memperkuat civic empathy siswa dan membangun karakter digital yang lebih bijak, peduli, serta bertanggung jawab dalam penggunaan media sosial.
KETERLAMBATAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI TPS INDUK RAJABASA BANDAR LAMPUNG SEBAGAI ANALISIS DAMPAK SOSIAL DAN FORMULASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN Atikah Ramadhani; Ahmad Rama; Malikah Alya Azzahra; Annisa Dwi Lestari; Abdul Halim; Hasan Hariri
JURNAL ILMIAH EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS DAN AKUNTANSI Vol. 3 No. 4 (2026): JULI
Publisher : CV. KAMPUSA AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jemba.v3i4.2583

Abstract

The delay in waste transportation at the Rajabasa Main Temporary Waste Disposal Site (TPS Induk Rajabasa) in Bandar Lampung has become a significant obstacle to achieving effective and sustainable waste management. This issue has led to waste accumulation, resulting in environmental pollution, public health risks, and declining community trust in public services. This study aims to analyze the factors causing delays in waste transportation, identify the social impacts experienced by surrounding communities, and formulate sustainable waste management policy recommendations. The research employed a qualitative approach with a case study design through field observations, in-depth interviews with waste management personnel and local residents, and analysis of relevant policy documents. The findings reveal that transportation delays are primarily caused by limited transportation fleets, increasing waste volumes, inadequate infrastructure, and weak operational coordination. These conditions have generated various social impacts, including disruptions to daily activities due to unpleasant odors, increased health risks, environmental degradation, and reduced public confidence in local government performance. Based on these findings, the study proposes policy formulations focused on improving transportation capacity, utilizing monitoring technologies, strengthening community participation, implementing circular economy principles, and enhancing coordination among stakeholders. The implementation of these policies is expected to support a more effective, sustainable, and environmentally sound waste management system
Persepsi Pemuda-Pemudi Lampung Sai Batin Terhadap Pergeseran Tradisi Sebambangan di Era Modern (Pekon Turgak Kabupaten Lampung Barat) Jesi Devialita; Hermi Yanzi; Edi Siswanto; Berchah Pitoewas; Abdul Halim
Jurnal Pendidikan Sosial Dan Konseling Vol. 4 No. 1 (2026): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpdsk.v4i1.4685

Abstract

This study aims to analyze in-depth the perceptions of young men and women in Saibatin Lampung regarding the shift in the Sebambangan tradition in the modern era, particularly in the Turgak Village area of ​​West Lampung Regency. This study employed a qualitative approach with descriptive methods. Data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation involving informants from among the youth and local traditional leaders. The results indicate that most young men and women disagree with the practice of the Sebambangan tradition in the modern era. This is based on the perception that its current implementation often deviates from original customary rules, is prone to triggering social conflict between families, and is considered out of step with current developments, educational levels, and the economic rationality of today's youth. Nevertheless, a small number of informants still accept the tradition with the following conditions: its implementation must return to strict customary guidelines and prioritize communication to avoid harming any party. The Sebambangan tradition is undergoing a significant paradigm shift among young people. This phenomenon indicates the need for adaptation efforts and cultural dialogue to prevent the noble values ​​of custom and local identity from being completely eroded by the dynamics of modernization.
Co-Authors Adelia Novita Sari Adelia Novitasari Adinda Armilia Putri Adinda Salsabila Rizki Oktavia Aftesia Labira Lauli Agil Fitrah Lanova Agus Ananda Ahmad Rama Alvina Juliana Bahri amelia irwana Ana Mentari Andika Wildan Fachrezi Andita Novaliana Anggraenie Inka Amyairi Anis Sri Wijayanti Anisia Rianti Tamara Anita Yunida Fikri Annisa Dwi Lestari Annisa Salsabila Azahra Anung Mabilla Asshifa Shalihah Atikah Ramadhani Ayu Nur Safitri B. WULANDARI Bagus Permana Bagus putra Setiawan Berchah Piteowas Berchah Pitoewas Chaca Alfarica Cahyani Dea Azzahra Dea Resman Palestan Debora Patricia Sebayang Della Soraya Desika Fitriana Desta Prianti Desvika Putri Lailani Dewi Ayu Nawang Wulan Dewi Rahayu Dhea Novitasari Dhefa Ardhelia Kusnadi Dian Permatasari Dian Puspita Sari Dina Ramadhani Dini Apriliani Diva Aziza Mardiya Diva Azizah Mardiya Dwi Khusnatun Nisa Edi Siswanto Eka Dea Pramudita Elisa Marlina Elza Zeriana Enggy Yose Erni Yanti Esti Angelita Febri Hana Nurholisah Feby Fiola Ayu Femas Erlangga Dwi Saputra Feni Sundari Ferdiansyah Ferdiansyah Fina Tri Nur Maharani Hafifah Ananda Hariri, Hasan Hendi Efrianto H Herbiyansa Hermansyah Hermi Yanzi Ichwan Karunia Imelda Mauly Jevita Indah Purwoningsih Indah Septia Lestari Indriani Anggita Putri Intan Primawitha Intan Rasita Ira Kurniawan Irhas Khasais Irma Yunita Isnaini Rahmawati Jelis Pramadanti Jesi Devialita Kayla Zahara Salsabila Komang Winda Sari Laila Fatia Maharani Lanang Maulana Laura Gayatri Laura Gayatri Leonardus Pandu Priambodo Lisa Lorensa Lulu Rintan Apriliyani Luluk Maghfiroh M. Fathurrozak M. Mona Adha M. Sulton Robani Maelinda Destriana Maelinda Devi Destiana Malikah Alya Azzahra Marsela Marsela Martika Suci Ristyawati Martines Sabiliun Muttaqina Meta Sari Mila Agustin Mira Puji Astuti Muhammad Bagus Dewantara Muhammad Mona Adha Muhammad Rizky Al-Farizi Mutiara Putri Syahrani Nabia Dilla Derma Pratiwi Nabila Laura Nadia Sabila Nadiyah Salamah Nadya Mahamida Nadya Paramitha Naela Faiza Khaerani Najua Fauzani Natanael Sitinjak Nayla Azizah Neneng Saputri Nourel Islamay Diandra Nugraha Gading Priandana Nur Hidayah Anggraini Nurhayati Nurhayati Nurhayati Perina Dwi Astuti Putri Cahya Negara Qitallya Adinda Zahrani Qorry Ainaf Raden Muhammad Setiawan Rahma Isnawati Ramadhan Hidayatulloh Ratna Wulandari Ratri Pramudita Rejeki Charistias Siregar Reni Mulia Septia Rezky Tania Rhaina Rifka Nefindia Ria Rahmanisa Rifdah Assyifa Rima Fadhilatunnisa Rintan Amelia Rio Rinanta Ririn Izzati Pangestuti Riska Meilisa Riskiya Dina Paramita Rita Fatma Syafira Rizka Maydikta Rizka Nurlita Rizki Septia Pratiwi Rizky Novaldi Rizky Wahyudi Rozalia Rozalia Rucy Hayuningrat Arum Puspita Sabrina Birri Sintia Salma Tabina Salsabila Mutiyah Sandriana Devi Seli Safitri Julianti Serly Pramudita Shalwa Desti Alfiana Sifah Maharani Sinta Bela Farah Kirani Sintya Sari Siti Musaroh Maydiana Alpa Sujatnico Sujatnico Susan Febrianti Susiati Susilo Susilo Tara Marza Citra Dewi Titan Cicilia Tsalitsa Fadilatu Rahmania Umi Wahyutin Viyanti Viyanti Viyanti Wilda Efendi Ruslan Wiwin Winarningsih Yashinta Zahra Alfitri Yolanda Fatima Agustine Yosia Agustant Parulian Yunida Nurlina Yunisca Nurmalisa Zahra Nur Farida Zaskia Falia Putri Ziya Ibnu Wafi Ziya Ibnuwafi