Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PEMANFAATAN BATU APUNG SEBAGAI ADSORBEN DALAM APLIKASI KOLOM ADSORPSI UNTUK PENYISIHAN LOGAM KROMIUM DARI AIR TANAH Indah, Shinta; Helard, Denny; Herdiani, Febbi
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2024
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol20.No1.2024.1510

Abstract

The utilization of pumice as an adsorbent has been tested in adsorption column applications in removing chromium (Cr) from groundwater. The pumice was taken from the banks of the Pasak River, Pariaman, West Sumatra. The column used is made of glass with 130 cm in height and 2,6 cm in diameter. The experiment was carried out by varying the bed height (65, 75, and 85 cm) and the influent flow rate (2, 3, and 4 gpm/ft2), while the influent concentration used was according to the groundwater sample conditions. The concentration of Cr was analyzed using inductively coupled plasma emission (ICPE). The performance of the adsorption column can be evaluated from the breakthrough curve, which is a plot between the Ct/C0 ratio and the sampling time. The experimental results showed that the optimum condition with the highest removal efficiency of 65.15% and an adsorption capacity of 0.0031 mg/g were obtained at a bed height of 85 cm and an influent flow rate of 2 gpm/ft2. Based on the experimental results, it was concluded that Cr removal efficiency increased as the influent flow rate decreased and as the bed height of adsorbent increased. The adsorption column with Sungai Pasak Pariaman pumice as an adsorbent has potential to be applied in removing Cr metal from groundwater.
Agen Desorpsi Terbaik pada Regenerasi Batu Apung Sungai Pasak untuk Penyisihan Amonium (NH4+) dalam Air Pratiwi, Ningsih Ika; Indah, Shinta; Helard, Denny
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.432 KB)

Abstract

Batu apung dikenal sebagai material low-cost yang memiliki struktur berpori sehingga berpotensi sebagai adsorben untuk menyisihkan senyawa polutan dalam air, seperti amonium yang hadir sebagai dampak aktivitas industri, pertanian maupun domestik. Keberadaan batu apung yang melimpah terdapat di daerah Sungai Pasak dan hingga saat ini belum dimanfaatkan. Kemungkinan adanya regenerasi dari adsorben yang telah digunakan merupakan keuntungan proses adsorpsi sebagai salah satu teknologi ramah lingkungan. Regenerasi dapat dilakukan melalui proses desorpsi sehingga reuse dapat diterapkan terhadap adsorben dan recovery terhadap senyawa yang disisihkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui agen desorpsi terbaik yang berguna untuk regenerasi, yaitu memperpanjang masa pakai batu apung khususnya pada proses penyisihan amonium. Regenerasi terdiri dari percobaan adsorpsi dan desorpsi dengan metode batch sebanyak 2 kali reuse menggunakan kondisi optimum yang diperoleh, terdiri dari pH, waktu kontak, ukuran serta dosis batu apung yang diaplikasikan pada larutan artifisial dan sampel. Proses desorpsi menggunakan agen desorpsi asam (HCl), netral (akuades) dan basa (NaOH). Percobaan pada larutan artifisial amonium 4 mg/l menghasilkan HCl sebagai agen desorpsi terbaik dengan kapasitas adsorpsi tertinggi, yaitu reuse I 6,335 mg/g serta reuse II 6,018 mg/g dengan efisiensi penyisihan rata-rata 46,324%. Agen HCl juga memberikan % desorpsi tertinggi pada proses desorpsi I dan II sebesar 89,734% dan 88,048%. Percobaan juga dilakukan terhadap sampel air tanah dekat area pertanian dengan % desorpsi pada desorpsi I dan II yaitu 87,875% dan 86,892%, dengan kapasitas adsorpsi saat reuse I dan II adalah 1,889 mg/g dan 1,845 mg/g. Hasil penelitian menunjukkan agen terbaik untuk regenerasi batu apung yaitu asam (HCl) dengan kemampuan hingga 2 kali reuse dengan nilai efisiensi penyisihan dan kapasitas adsorpsi hampir sama dengan nilai adsorpsi awal, sehingga memungkinkan untuk dilakukan reuse selanjutnya. Potensi batu apung Sungai Pasak ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air tanah maupun air limbah dengan kandungan amonium yang rendah.