Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ASUPAN KALSIUM DAN VITAMIN D PADA ANAK INDONESIA USIA 2 – 12 TAHUN [Calcium and Vitamin D Intake of Indonesian Children 2-12 Years Old] Victoria Valentina; Nurheni Sri Palupi; Nuri Andarwulan
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 25 No. 1 (2014): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.062 KB) | DOI: 10.6066/jtip.2014.25.1.83

Abstract

ASUPAN KALSIUM DAN VITAMIN D PADA ANAK INDONESIA USIA 2 – 12 TAHUN[Calcium and Vitamin D Intake of Indonesian Children 2-12 Years Old]Victoria Valentina*, Nurheni Sri Palupi dan Nuri AndarwulanDepartemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor Diterima 18 Januari 2014 / Disetujui 25 Juni 2014ABSTRACT  Food consumption is playing an important role for nutritional status of children 2-12 years old. During growth and development phase, body needs macro and micro nutrients even more than later phase. The process can not be catched up at later stage therefore it is very important to pay attention to food consumption during this phase. This study used secondary data of South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) 2011-2012 which was covered recapitulation profile data of 300 children age 2-12 years old representative of 48 districts in Indonesia. The study showed that Indonesian children consuming less calcium and vitamin D-rich foods than the recommended daily allowance (RDA). It does not reflects on the result of anthropometry data, vitamin D on the blood and bone mass density since the dietary recall 24 hours shows only food consumption in that specific day while nutritional status shows a result of longer process. However, vitamin D in blood has a significant correlation with bone mass density of tibia bone (p<0.05). Deficiency of calcium and mainly vitamin D is a new finding at this time. Therefore, the study showed that fortification of calcium and vitamin min D in food become important to improve nutritional status of Indonesian children. 20% of RDA per serving size twice a day is recommended as well for fortification level of Calcium and Vitamin D.  
PKM PENINGKATAN POTENSI PEMASARAN EDI PRINT DI BALI Tunjungsari, Hetty Karunia; Victoria Valentina
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i2.35158

Abstract

This Community Servic program aims to enhance the marketing potential of Edi Print in Bali through a comprehensive strategy. The methods applied in this program include surveys, training, mentoring, and evaluation. The survey was conducted to identify the needs and challenges faced by Edi Print artisans in Bali. The training sessions focused on improving innovative design skills in line with market trends, utilizing digital marketing technologies, and developing a strong and recognizable brand. Mentoring was provided to assist artisans in implementing the marketing strategies they had learned. The results of the program show that Edi Print artisans in Bali face challenges such as a lack of innovative designs, limited access to digital marketing technology, and insufficient understanding of branding. Through training and mentoring, artisans were able to enhance their design skills, leverage social media for digital marketing, and build a stronger, more widely recognized brand. In conclusion, this program successfully improved the marketing potential of Edi Print in Bali. These improvements contributed to the development of new designs better suited to consumer preferences, enhanced digital marketing capabilities, and greater branding awareness, which helped their batik products gain market recognition. The implication of this program is that similar initiatives can be implemented in other regions to support the growth of local creative industries while expanding product reach. ABSTRAK Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan potensi pemasaran Edi Print di Bali melalui strategi yang komprehensif. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini meliputi survei, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Survei dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh perajin Edi Print di Bali. Pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan desain yang inovatif dan sesuai dengan tren pasar, penggunaan teknologi pemasaran digital, dan pengembangan merek yang kuat dan dikenal di pasar. Pendampingan dilakukan untuk membantu perajin dalam mengimplementasikan strategi pemasaran yang telah dipelajari. Hasil PKM menunjukkan bahwa perajin Edi Print di Bali menghadapi tantangan dalam hal desain yang kurang inovatif, keterbatasan akses terhadap teknologi pemasaran digital, dan kurangnya pemahaman tentang branding. Melalui pelatihan dan pendampingan, perajin mampu meningkatkan keterampilan desain, memanfaatkan media sosial untuk pemasaran digital, juga membangun merek yang lebih kuat dan dikenal luas. Kesimpulan dari kegiatan PKM ini berhasil meningkatkan potensi pemasaran Edi Print di Bali. Peningkatan ini berkontribusi pada peningkatan desain-desain baru yang lebih sesuai dengan selera konsumen, kemampuan pemasaran digital, dan pemahaman branding yang membuat produk batik mereka dikenal di pasar. Implikasi dari PKM ini adalah bahwa program serupa dapat diterapkan di daerah lain untuk mendukung pengembangan industri kreatif lokal, sekaligus memperluas jangkauan produk.
ANALISIS POTENSI BERWIRAUSAHA PADA KELOMPOK PEREMPUAN DI DESA KENDRAN, SINGARAJA, BALI Tunjungsari, Hetty Karunia; Victoria Valentina
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 3 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i3.35749

Abstract

This community service activity aims to increase the awareness and understanding of West Jakarta Methodist High School students about risks in entrepreneurship. The background of this activity is based on the importance of equipping students with relevant knowledge and skills to face the challenges of the business world, as well as students' lack of understanding of the risks associated with entrepreneurial activities. The method used is interactive socialization involving lectures, presentations, discussions, and case studies. The participants of the activity were Methodist High School students, with a focus on students in grades X and XII. The results of the activity showed a significant increase in students' knowledge about entrepreneurial risks, as evidenced by the enthusiasm of the participants in participating in the activity and the ability of students to do the assignments in the Worksheet. The evaluation questionnaire showed that most students rated the material useful, the delivery of the material was easy to understand, and the activities increased their interest in entrepreneurship. Participant observations also showed a high level of student involvement during activities. The conclusion of this activity is that socialization about entrepreneurial risks is effective in increasing students' knowledge and interests. The practical implication is that this activity can be a model for the development of entrepreneurship education programs in other schools. Suggestions for further development include larger-scale research, long-term evaluations, and improvements to materials and delivery methods. Thus, this activity makes a real contribution in preparing students to face challenges in the world of entrepreneurship and encouraging the spirit of entrepreneurship among the younger generation. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis potensi berwirausaha pada kelompok perempuan di Desa Kendran, Bali. Pengumpulan data dan analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, observasi partisipan, dan studi dokumen. Hasil kegiatan abdimas menunjukkan bahwa perempuan di Desa Kendran memiliki potensi berwirausaha yang signifikan, didukung oleh beberapa faktor. Pertama, adanya keterampilan tradisional yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti keterampilan membuat kerajinan tangan dan mengolah makanan lokal. Kedua, adanya modal sosial yang kuat dalam bentuk jaringan kekerabatan dan komunitas yang mendukung kegiatan wirausaha. Ketiga, meningkatnya kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga. Keempat, dukungan dari pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dalam bentuk pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap modal. Namun, terdapat pula tantangan, seperti keterbatasan akses terhadap informasi pasar, modal usaha, dan teknologi. Kegiatan ini merekomendasikan pentingnya peningkatan kapasitas melalui pelatihan yang berkelanjutan, pengembangan jejaring pemasaran, dan fasilitasi akses terhadap sumber daya finansial untuk mengoptimalkan potensi wirausaha perempuan di Desa Kendran. Implikasi dari kegiatan ini adalah kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan.
SOSIALISASI PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH MENJADI PRODUK BERNILAI GUNA DALAM BENTUK SABUN CUCI Tunjungsari, Hetty Karunia; Marchia, Viella; Valentina, Victoria
Jurnal Abdimas Sangkabira Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Abdimas Sangkabira, Desember 2025
Publisher : Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdimassangkabira.v6i1.2684

Abstract

Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Namun, limbah ini masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai guna, salah satunya adalah sabun cuci. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan dan memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci. Survei dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah pelatihan, sedangkan wawancara dan observasi digunakan untuk memahami pengalaman peserta serta efektivitas kegiatan pelatihan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu persiapan bahan dan alat, sosialisasi mengenai dampak negatif minyak jelantah terhadap lingkungan dan kesehatan, pelatihan teknis pembuatan sabun cuci, serta evaluasi hasil kegiatan. Pelatihan diberikan secara langsung kepada kelompok masyarakat di lingkungan tempat tinggal yang telah ditentukan, dengan pendekatan partisipatif dan berbasis praktik. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah dan kemampuan mereka dalam memproduksi sabun cuci secara mandiri. Selain itu, masyarakat mulai melihat potensi ekonomi dari produksi sabun ini sebagai peluang usaha rumah tangga. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah yang berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara lokal. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi model kegiatan yang dapat direplika di wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa.
PERANCANGAN DESAIN KARAKTER PADA FILM ANIMASI PENDEK ‘BREAKING BARRIERS Valentina, Victoria; Giovanni Sutarman; Budi Darmo; Jessica Liandra; Fadillah Nila Riani Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v9i3.34385.2025

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi membawa pengaruh besar dalam komunikasi visual, termasuk pemanfaatan animasi sebagai media penyampai pesan sosial. Animasi kini tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga mampu menghadirkan narasi yang menyentuh dan reflektif. Salah satu elemen penting dalam animasi adalah desain karakter, yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga berfungsi untuk memberikan ikatan emosional dan menyampaikan isu-isu sosial yang tengah terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain karakter dalam animasi pendek berjudul Breaking Barriers, yang mengangkat isu pentingnya mencintai dan menerima diri sendiri serta menghargai perbedaan. Proses perancangan dilakukan dengan metode design thinking berdasarkan model Ambrose & Harris, yang meliputi tujuh tahapan: Define, Research, Ideate, Prototype, Select, Implement, dan Learn. Tahap riset mencakup studi literatur, observasi, serta wawancara dengan salah satu narasumber yang terkait erat dengan aspek illustrasi dan desain karakter. Hal ini bertujuan untuk memperkuat konteks isu yang ada dan arah desain yang diinginkan. Karakter dirancang menggunakan pendekatan antropomorfik dan gaya ilustrasi chibi untuk membangun kedekatan emosional, serta divisualisasikan secara simbolik dan ekspresif. Desain akhir diterapkan ke dalam animasi pendek dan poster promosi, lalu dievaluasi melalui kuesioner berupa Google Form kepada 74 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa desain karakter efektif menyampaikan pesan sosial secara visual, emosional, dan relevan dengan audiens muda masa kini.Abstract The development of technology has had a significant impact on visual communication, including the use of animation as a medium for delivering social messages. Animation today is not only a form of entertainment, but also a platform for presenting narratives that are touching and reflective. One important element in animation is character design, which serves not only as a visual attraction but also as a medium for conveying emotion and addressing current social issues. This study aims to design characters for the short animation Breaking Barriers, which explores the importance of self-love, self-acceptance, and appreciating differences. The design process is based on the Design Thinking model by Ambrose & Harris, which includes seven stages: Define, Research, Ideate, Prototype, Select, Implement, and Learn. The research phase involved literature review, observation, and interviews with a source experienced in illustration and character design to help contextualize the issue and guide the design direction. The characters were developed using an anthropomorphic approach and chibi illustration style to build emotional connection with the audience, while being expressed symbolically and expressively. The final character designs were applied to a short animation and promotional poster, and evaluated through a Google Form questionnaire involving 74 respondents. The results show that the characters successfully convey social messages in a way that is visually appealing, emotionally resonant, and relevant to today's younger audiences.