Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.) Untuk Adsorben Methylene Orange Ilham Budiawan; Naning Citra Lestari; Ahmad Muhammad Fuadi
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Teknik dan Rekayasa
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.867 KB)

Abstract

Kulit Pisang kepok merupakan adsorben yang menjadi solusipengurangan kandungan zat warna pada methylene orange denganmetode adsorpsi. Kulit pisang kepok dijadikan karbon aktif denganaktivator HCl 0,15 M. Setelah itu diadsorpsi pada larutan methyleneorange 6 ppm sebanyak 25 mL. Dilakukan dengan dua variasi yaitumassa adsorben dan waktu adsorpsi. Untuk yang pertama yaitumenentukan massa adsorben yang optimal, dengan variasi massaadsorben 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5; 4; 4,5; dan 5 gram. Selanjutnya variasi waktu yaitu 5, 10, 15, 20, 30, 60, 80, 100 dan 120 menit..Setelah dilakukan adsorpsi tiap variasi dilakukan pengecekan nilaiabsorbansi pada hasil adsorpsi di spektrofotometer UV-Vis. Dengandidapatkan nilai absorbansi dapat mengetahui berapa persenpenjerapan adsorben kulit pisang kepok pada larutan methyleneorange. Kondisi optimal pada massa adsorben 5 gram selama 120menit.
Pengaruh Konsentrasi Serta Waktu Proses Fiksasi Ekstrak Kayu Jambal (Pheltophorum pterocarpum) Pewarnaan Batik Ditinjau dari Ketahanan Luntur dan Ketajaman Warna Nabila Tria Anggita; Agus Haerudin; Ahmad M Fuadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 41, No 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v41i1.8163

Abstract

Pewarnaan kain batik yang dilakukan dengan menggunakan pewarna alami serta pewarna sintesis atau buatan. Pada umumnya pewarna sintesis memiliki beberapa keunggulan antara lain: memiliki warna yang beragam, dijamin kecerahan warnanya, stabil, tidak mudah pudar, tahan pada berbagai kondisi lingkungan, memiliki kekuatan warna yang baik, mudah didapatkan, harganya ekonomis. Namun, penggunakan pewarna sintetis dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dikarenakan sifatnya yang karsinogenik. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk menghasilkan pewarna alami yang dapat digunakan untuk menggantikan pewarna sintetis. Kulit kayu jambal berpotensi sebagai pewarna alami karena mengandung senyawa (+)-leucocyanidin-3-O--D-galactopyranoside. Penelitian ini menggunakan kulit kayu jambal dengan pengaruh jenis konsentrasi dan waktu proses fiksasi dengan konsentrasi  20 g/L, 50 g/L, 70 g/L dan 90 g/L. dari hasil penelitian yang dilakukan guna mengetahui kelayakan dari bahan alami Kulit Kayu Jambal (Peltophorum Pterocarpum) dilakukanlah penelitian dengan uji luntur warna kain dan L*a*b* Hasailnya, untuk diuji pencucian menggunakan sabun (kelunturan) mendapatkan nilai 4-5 atau baik