Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES HANGAT REBUSAN SERAI TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA LANSIA NYERI SENDI DI PANTI WREDHA KARITAS CIBEBER KOTA CIMAHI Wahyuningsih, Tri; Deasy, Afrieany; Astuti, Reini
Jurnal Osadhawedyah Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Osadhawedyah
Publisher : PT NAFATIMAH GRESIK PUSTAKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri sendi adalah gangguan yang sering dikeluhkan oleh lansia. Nyeri sendi yang bila tidak segera ditangani akan menganggu aktifitas sehari-hari lansia.Oleh karena itu, diperlukan upaya yang tepat dalam menanggulanginya baik farmakologi dan non farmakologi. Kompres hangat daun serai merupakan salah satu upaya non farmakologi yang bermanfaat untuk mengatasi nyeri sendi pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompres hangat rebusan daun serai terhadap penurunan skala nyeri pada lansia nyeri sendi di Panti Wredha Karitas Cimahi. Jenis penelitian ini tergolong Pre-Experimental Design dengan menggunakan desain penelitian One Group Pretest-Postest Design. Sampel dalam penelitian adalah 12 lansia yang mengalami nyeri sendi. Terdapat 2 jenis variabel dalam penelitian ini yaitu variabel independent adalah nyeri sendi dan variabel dependen yaitu kompres hangat rebusan daun serai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dengan penggunaan instrumen skala nyeri. Data dianalisis dengan univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon diperoleh ρ =0,002< ???? =0,05, maka Ho ditolak dengan tingkat signifikasi 5% menunjukkan bahwa terdapat penurunan skala nyeri pada lansia yang mengalami nyeri sendi setelah diberikan kompres hangat rebusan daun serai.  Kesimpulan bahwa terdapat pengaruh terapi kompres hangat rebusan daun serai terhadap nyeri sendi pada lansia.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Dengan Modul Proses Penuaan Terhadap Tingkat Stres Keluarga Dengan Lansia Tri Wahyuningsih; Reini Astuti
Health Idea Vol 2, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Ide Insan Kreatif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63860/hi2306

Abstract

Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%).  Dalam proses penuaan, akan terdapat kemunduran pada lansia yang bersifat fisiologi baik bio, psiko dan sosio lansia. Kemunduran yang dialami pada tubuh lansia akan beresiko mengakibatkan lansia menjadi mudah sakit, mengalami sindroma lansia dan kesakitan sehingga lansia akan sangat bergantung terhadap lingkungannya terutama keluarga sebagai pengasuh terdekat. Dalam proses pemberian asuhan kepada lansia, keluarga seringkali mengalami ketidakmampuan pengendalian diri sehingga mengalami frustasi atau stress. Keluarga sebagai pendukung utama bagi lansia harus mengerti terhadap proses perubahan yang diakibatkan dari penuaan sehingga keluarga akan memiliki koping yang baik ketika merawat lansia. Edukasi kesehatan dengan menggunakan modul merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang lansia. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan dengan modul proses penuaan terhadap tingkat stress keluarga dengan lansia. Metode yang digunakan adalah non-probability sampling. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel berjumlah 15 responden. Pengumpulan data menggunakan Kingston Caregiver Stress Scale. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji wilcoxon. Hasil uji wilcoxon  diperoleh p= 0,005< a =0,05, maka Ho ditolak, dengan tingkat signifikasi 5% maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terhadap tingkat stress keluarga pada sebelum dan sesudah diberikan edukasi modul proses penuaan. Dalam upaya meningkatkan kesehatan lansia sebaiknya pelayanan kesehatan tidak hanya dilakukan kepada lansia saja namun juga kepada keluarga dengan lansia.Kata Kunci : edukasi; modul; lansia; stress; keluarga
Peningkatan Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Hipertensi Melalui Edukasi Kesehatan, Senam Hipertensi, Dan Terapi Rendam Kaki Air Hangat Jahe Merah Di RW 07 Kelurahan Cibeber Reini Astuti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v5i2.2113

Abstract

Kesehatan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang berperan penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, serta bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan saja (WHO, 1948). Definisi ini menegaskan bahwa kesehatan tidak hanya berfokus pada ketiadaan penyakit, tetapi juga mencakup keseimbangan dan kondisi optimal dari berbagai aspek kehidupan seseorang. Salah satu masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh masyarakat global adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara terus-menerus sehingga dapat menyebabkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung dan stroke. WHO mendefinisikan hipertensi sebagai kondisi ketika tekanan darah sistolik mencapai atau melebihi 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik mencapai atau melebihi 90 mmHg (WHO, 2021). Hipertensi dikenal sebagai “silent killer” karena seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Masalah hipertensi menjadi perhatian penting dalam bidang kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang tinggi dan dampak negatifnya terhadap morbiditas dan mortalitas global. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang konsep kesehatan dan hipertensi sangat penting sebagai dasar dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit ini.
The Relationship Between Quality of Life and Successful Aging Reini Astuti; Tri Wahyuningsih; Ratna Wulan Hadian Noviani
Jurnal Kesehatan Budi Luhur: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Kebidanan Vol. 18 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes Budi Luhur Cimahi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62817/jkbl.v18i2.419

Abstract

The elderly population is increasing rapidly worldwide, including in Indonesia, leading to significant health, social, and economic implications. The aging process often leads to physical, psychological, and social changes that can negatively affect quality of life.Thus, ensuring a high quality of life is crucial for achieving successful aging. This study aimed to analyze the relationship between the quality of life and successful aging among elderly individuals in Cimahi City. A cross-sectional study was conducted with 128 elderly participants, selected proportionally WHOQOL-BREF and SAS should be briefly explained with full names in parentheses when first mentioned for clarity to readers unfamiliar with them. Was used to assess quality of life, while the Successful Aging Scale (SAS) was employed to evaluate successful aging. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test at a significance level of p<0.05. A significant relationship was found between successful aging and the physical (p=0.003), psychological (p=0.000), and environmental (p=0.002) domains of quality of life. However, no significant association was observed in the social domain (p=0.114). The results suggest that physical health, psychological well-being, and environmental support are key factors contributing to successful aging. Social relationships, though important, did not show a statistically significant impact in this study. Health interventions and policies aimed at promoting successful aging should prioritize improving the quality of life for the elderly, particularly by enhancing physical and mental health and ensuring a supportive and secure living environment.
Relationship Between Anxiety Levels and Sleep Quality Among Older Adults at the West Java Elderly Social Service Center Tri Wahyuningsih; Desi Natalia; Supiyanto; Reini Astuti
Jurnal Kesehatan Budi Luhur: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Kebidanan Vol. 19 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : STIKes Budi Luhur Cimahi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62817/jkbl.v19i2.537

Abstract

Sleep disturbance and anxiety are common among older adults, but evidence from residents of social care institutions in West Java remains limited. This study examined the association between anxiety levels and sleep quality among older adults residing at the West Java Elderly Social Service Center. A cross-sectional correlational study was conducted among 62 residents drawn from a source population of 160. Anxiety was assessed using the Indonesian version of the Geriatric Anxiety Scale (GAS), and sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The association was evaluated using the Fisher-Freeman-Halton exact test, with Cramer's V used as a measure of effect size. Moderate anxiety was observed in 67.7% of participants, while 82.3% had good sleep quality. Good sleep quality was reported by 100% of participants with mild anxiety and 95.2% of those with moderate anxiety. Poor sleep quality was reported by 77.8% of participants with severe anxiety and all participants with panic-level anxiety. Anxiety level was significantly associated with sleep quality (p = 0.001; Cramer's V = 0.786). Higher anxiety categories were associated with a greater frequency of poor sleep quality, although the cross-sectional design did not establish causality. These findings provide institution-specific evidence for gerontological nursing and support the integrated assessment of anxiety and sleep quality among older adults in residential care.