Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

THE RELATIONSHIP OF TRADITIONAL HOUSE AND COMMUNAL FARMING LAND AS CULTURAL PROPERTIES OF CLAN IN MANGGARAIAN SOCIETY (A CULTURAL LINGUISTIC ANALYSIS) Sumitri, Ni Wayan; Bustan, Fransiskus
Academic Journal of Educational Sciences Vol 7 No 2 (2023): December
Publisher : Postgraduate School, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/ajes.v8i2.14188

Abstract

This study aims to describe the relationship of traditional house and communal farming land in Manggaraian society. The study is viewed from the perspective of cultural linguistics as one of the new theoretical perspectives in cognitive linguistics exploring the relationship of language, culture, and conceptualization. The study is descriptive-qualitative. The results of study show that the relationship of traditional house and communal farming land in Manggaraian society is reflected in the verbal expression of Manggaraian language, Gendangn one, lingkon pe’ang ‘Drum inside, round field outside’. The forms and meanings of linguistic phenomena used in the verbal expression designate the conceptualization of Manggaraian society regarding the ownership of the mbaru gendang as the origin house of the wa’u as a patrilineal-genealogic clan living in one village and the lingko randang as common farming land belonging to the wa’u as the source of their life welfare as dry land farmers. The verbal expression is a linguistic evidence inherited from the ancestors of Manggaraian society indicating the existence of the wa’u as partilineal-genealogic clan as a house-based community whose livelihood is as dry land farmers.
CERITA RAKYAT DU WANGKA RANA MESE: KAJIAN MAKNA SEBAGAI REPRESENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MANGGARAI TIMUR (PERSPEKTIF LINGUISTIK KEBUDAYAAN) Ni Wayan Sumitri; Gunartha, I Wayan; Sudarthi, Ni Wayan
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4815

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna cerita rakyat “Du Wangka Rana Mese” (DWRM) sebagai representasi kearifan lokal masyarakat Manggarai Timur. Fokus kajian pada aspek makna secara tekstual dan kontekstual dari perspektif linguistik kebudayaan. Sumber data utama adalah data lisan dari pencerita dengan metode simak catat serta wawancara mendalam dengan didukung oleh data kepustakaan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan metode induktif. Temuan  menunjukkan bahwa teks cerita rakyat DWRM memiliki karakteristik bentuk prosa gaya narasi  dengan menggunakan bahasa Manggarai sebagai media penceritaan. Cerita ini sarat makna budaya  secara tekstual dan tontekstual yang saling terkait sebagai representasi kearifan lokal Masyarakat Manggarai Timur. Secara tekstual cerita DWRM mengungkap kisah mendalam, yang mengisahkan pengorbanan  tokoh Kae Anus serta cinta kasih, keberanian dan  penghargaan terhadap kebaikan hati. Dalam tataran kontekstual mengungkap makna terkait keyakinan dan kepercayaan, gotong royong dan solidaritas, hubungan harmonis dengan alam dan makhluk halus atau gaib, simbolisme lokal, dan pemberian nama terhadap peristiwa. Pengetahuan tradisional ini  merupakan nilai-nilai budaya warisan leluhur  masyarakat Manggarai Timur yang masih sangat relevan dalam dunia modern dan perlu diketahui, termasuk mempertahankan pewarisannya untuk generasi penerus.
GURATAN MAKNA RELIGIUS DALAM TRADISI RITUAL DHEKE SA’O ETNIK RONGGA DI MANGGARAI TIMUR: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Sumitri, Ni Wayan
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i1.4119

Abstract

Abstrak Penelitian ini secara garis besar mengungkap guratan makna religius dalam tradisi Dheke Sa’o pada masyarakat etnik Rongga di Manggarai Timur. dikaji dari perspektif etnolinguistik. Dheke Sa’o (RDS) adalah tradisi ritual dikaitkan dengan keberhasilan membangun rumah baru. Penelitian ini bersifat deskriptif dan kualitatif dengan sumber data utama tuturan tradisi ritual Dheke Sa’o yang dipraktikkan oleh etnik Rongga. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, pencatatan, perekaman, dan studi pustaka. Data dianalisis secara kualitatif pada aspek penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan leksikon religius pada tataran tekstual dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sudut pandang etnolinguisti, ciri-ciri penggunaan Bahasa dalam RDS menunjukkan ciri-ciri kiasan (gaya bahasa sastra) dengan ciri sosiolinguistik yang menggunakan bahasa Rongga sebagai alat komunikasi dengan campuran beberapa kata-kata arkais sebagai bagian dari manipulasi pengaruh kuat Bahasa ritual sacral magis, sarat makna religius, merupakan aspek makna paling penting. Makna ini berkaitan dengan keyakinan orang Rongga dikaitkan dengan konseptualisasi keberadaan Tuhan, roh nenek moyang, dan roh alam dipahami sebagai kekuatan supranatural yang sangat menentukan kelangsungan hidup mereka di dunia dan di akhirat. Ciri etnolinguistik yang menonjol digunakan menonjol bermoduskan indikatif-imeperatif sebagai latar/alasan untuk harapan/keinginan agar mereka diberkati dalam kehidupan di dunia. Secara kontekstual, RDS pemeliharaan hubungan harmonis dengan kekuatan di luar kemampuan mereke sebagai manusia. Oleh karena itu, RDS harus dilestarikan agar makna religious yang dikandungnya tetap hidup dan berkembang sesuai substansi sebenarnya dalam realitas kehidupan masyarakat etnik Rongga Kata kunci: makna religius, tradisi ritual dheke sa’o, etnik rongga, etnolinguistik STROKES OF RELIGIOUS MEANING IN THE DHEKE SA'O RITUAL TRADITION ETHNIC RONGGA IN EAST MANGGARAI: AN ETHNOLINGUISTIC STUDY Abstract This research largely reveals the strokes of religious meaning in the Dheke Sa'o tradition in the Rongga ethnic community in East Manggarai. studied from an ethnolinguistic perspective. Dheke Sa'o (RDS) is a ritual tradition associated with the success of building a new house. This research is descriptive and qualitative in nature with the main data source being the speech of the Dheke Sa'o ritual tradition practiced by the Rongga ethnic group. The method of data collection is through observation, interview, recording, recording, and literature study. The data were analyzed qualitatively on aspects of language use in relation to religious lexicon at textual and contextual levels. The results show that from an ethnolinguistic point of view, the characteristics of language use in RDS show figurative characteristics (literary language style) with sociolinguistic characteristics that use Rongga language as a means of communication with a mixture of some archaic words as part of manipulating the strong influence of sacred magical ritual language, full of religious meaning, is the most important aspect of meaning. This meaning is related to the beliefs of the Rongga people associated with the conceptualization of the existence of God, spirits of ancestors, and spirits of nature understood as supernatural forces that greatly determine their survival in the world and in the afterlife. A prominent ethnolinguistic feature is used prominently modulated indicative-imperative as a background/reason for hope/desire that they are blessed in life in the world. Contextually, RDS maintains a harmonious relationship with forces beyond their ability as humans. Therefore, RDS must be preserved so that the religious meaning it contains remains alive and develops according to its true substance in the reality of the lives of the Rongga ethnic community. Keywords: religious meaning, dheke sa'o ritual tradition, ethnic cavity, ethnolinguistics
CERITA RAKYAT TANTING MAS DAN TANTING RAT: MENGUNGKAP KONSEP RWA BHIENDA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI-HINDU (DALAM KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF) Ni Wayan Sumitri; Gunartha, I Wayan; Junianti, Putu Sri
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5598

Abstract

Cerita rakyat Tanting Mas dan Tanting Rat merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Bali-Hindu dalam istilah Bali disebut dengan satua yang artinya cerita. Teks cerita rakyat ini mengungkap ajaran-ajaran filosofis kehidupan utamanya konsep Rwa Bhineda. Tujuan tulisan ini mengkaji bagaimana pengungkapan konsep Rwa Bhineda itu digambarkan sebagai objek kajian. Fokus kajian pada aspek kognitif dalam perspektif sosio-kultural linguistik yang terintegrasi dalam analisis tekstual dan kontesktual. Sumber data utama adalah teks cerita rakyat Tanting Mas dan Tanting Rat yang dianalsis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklor dan linguistik kognitif kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara tekstual cerita rakyat Bali Tanting Mas lan Tanting Rat menunjukkan penggunaan bahasa yang khas misalnya majas (gaya bahasa) sastra prosa naratif untuk menciptakan efek kognitif ‘kesucian dan magis’ dengan memanfaatkan fitur sosio-linguistik dan simbol-simbol budaya Hindu (Bali). Efek kesucian dan magis dicapai dengan sumber daya bahasa menggunakan bahasa Bali halus yang secara sosial sarat makna simbolis, juga menunjukkan tingginya penggunaan bahasa secara simbolik sosial. Cerita ini sarat dengan lambang dan isi pengetahuan black magic yang berhubungan dengan konsep Rwa Bhineda (simbol dualistis) yakni kebaikan dan kejahatan sebagai simbol perlawanan. Dalam konteks budaya menggambarkan kehancuran negara. Ada dua elemen yang saling terkait, yakni ilmu putih dan ilmu hitam (black magic) yakni Rwa Bhineda yang saling bertentangan dan berlawanan seperti pebuatan baik dan jahat/buruk dharma-adharma yang tidak terlepas dari perbuatan manusia.