Eko Santosa
Universitas Muhammadiyah Purworejo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UPAYA PELESTARIAN TRADISI FOKLOR UPACARA NYADRAN BAGI ORANG JAWA DI MAKAM SEWU BANTUL YOGYAKARTA Eko Santosa
p-ISSN 2356-0576
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/btr.v9i1.7819

Abstract

Abstrak Studi foklor Jawa adalah studi perilaku budaya masyarakat yang hidup secara berkelompok di lingkungan masyarakat Jawa salahsatu contohnya foklor dalam tradisi upacara nyadran. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi, fungsi folklor upacara Nyadran Makam Sewu di Bantul. Sumber data ini adalah informasi dari warga Dusun Pijenan-Pedak, panitia upacara Nyadran, pemimpin upacara, kaum atau rois, pengurus makam sewu, mantan pengurus makam sewu, juru kunci, serta perangkat Dusun Pijenan-Pedak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam terbuka, wawancara terstruktur, observasi partisipasi/ pengamatan berperan serta, dan dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti dengan menggunakan alat bantu kamera, tape recorder, dan buku catatan. Teknik analisis data dengan  menggunakan cara etnografi (1) tahap pemrosesan satuan meliputi; tipologi satuan, penyusunan satuan, (2) kategorisasi/pengelompokan,(3) penafsiran data/kesimpulan. Selanjutnya metode keabsahan data menggunakan (1) triangulasi sumber dan triangulasi metode. Kajian ini menyimpulkan bahwa deskripsi rangkaian upacara Nyadran Makam Sewu di Bantul yang dibagi menjadi tiga tahap, tahap pertama adalah tahap persiapan upacara meliputi bersih lingkungan, tarub, midodareni, tahap kedua, pelaksanaan upacara meliputi (a) Semaan Al Qur’an, (b) Haul dan pengajian, (c) Khataman, tahlil, dan pengajian, (d) Kirap Jodhang, tahlil, kenduri, dan tabur bunga. Tahap ketiga, acara hiburan sholawat. Fungsi folklor dalam upacara Nyadran Makam Sewu di Bantul adalah (1) Fungsi sosial meliputi fungsi kegotong-royongan, fungsi sarana kerukunan hidup antar-warga, (2) Fungsi pelestarian tradisi, dan (3) Fungsi ritual.Kata kunci: foklor, jawa, nyadran.
PENGGUNAAN BAHASA IBU DAN KESANTUNAN BAHASA DALAM INTERAKSI SOSIAL PEMERINTAH DAERAH PURWOREJO Eko Santosa; Rochimansyah Rochimansyah; Aris Aryanto; Yuli Widiyono
p-ISSN 2356-0576
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/btr.v8i2.7502

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan bahasa ibu (bahasa Jawa) salah satunya wujud dialek dan kesantunan bahasa dalam interaksi sosial di Pemerintah Daerah Purworejo, prinsip kesantunan dan faktor yang mempengaruhi kesantunan bahasa dalam interaksi sosial di pemerintah Daerah Purworejo. Penelitian  ini  digolongkan  sebagai  penelitian  naturalistik. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber lisan yang berasal dari peristiwa tutur yang terjadi di antara para penutur, yaitu  masyarakat, pejabat di lingkungan Pemerintahan daerah Purworejo. Objek penelitian ini adalah   penggunaan   bahasa   ibu   (Jawa)   wujud   dialek   masyarakat,   pejabat   di lingkungan Pemerintahan daerah Purworejo. Pengumpulan data dalam penelitian ini, antara lain; dengan observasi, wawancara secara mendalam, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis model interaktif. Bentuk wujud bahasa ibu (Jawa) wujud dialek serta kesantunan tuturan direktif dalam peristiwa tutur di lingkungan Pemerintah daerah (PEMDA) Purworejo dapat dilihat berdasarkan penanda dan kaidah bahasa yang santun, yaitu (a) penutur berbicara wajar dengan akal sehat, (b) penutur mengedepankan pokok masalah yang diungkapkan, (c) penutur selalu berprasangka baik kepada mitra tutur, (d) penutur terbuka dan menyampaikan kritik secara umum, (e) penutur menggunakan sindiran jika harus menyampaikan kritik kepada mitra tutur, (f) penutur mampu membedakan situasi  bercanda dengan  situasi  serius,  (g) penutur  bertutur  mengenai  topik  yang dimengerti oleh mitra tutur, (h) penutur mengemukakan sesuatu yang rumit dengan bentuk yang lebih sederhana, (i) penutur menggunakan bentuk konfirmatori berdasarkan pendapat orang lain yang terpercaya jika harus membantah pendapat mitra tutur, dan (j) penutur selalu mawas diri agar tahu secara pasti apakah yang dikatakan benar-benar seperti yang dikehendaki oleh mitra tutur. Prinsip kesantunan bentuk tuturan direktif yang diterapkan oleh Pejabat, pegawai di wilayah Pemerintah daerah Purworejo antara lain (a) maksim kearifan, (b) maksim kemurahan hati atau kedermawanan, (c) maksim pujian atau penghargaan, (d) maksim kerendahan hati atau  kesederhanaan,  (e)  maksim  kesepakatan  atau  persetujuan,  dan  (f)  maksim simpati. Selain   itu  juga   prinsip   penghindaran   pemakaian   kata   tabu   dengan penggunaan eufemisme dan penggunaan pilihan kata honorifik.Kata kunci : bahasa ibu, kesantunan, imperative.
STRATEGI BUDAYA DAN PENGEMBANGAN KRITIK KARYA SASTRA JAWA MODERN DI LINGKUNGAN SEKOLAH Eko Santosa
Jurnal Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 10, No 1 (2023): JURNAL BAHTERA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/btr.v10i1.8491

Abstract

ABSTRAKSastra Jawa modern terus dikeluhkan bernasib buruk. Salahsatu indikasi nasib buruk sastra Jawa itu ialah lemahnya sistem kritik.Lemahnya sistem kritik itu terlihat jelas pada minimnya publikasi karya-karya kritik. Minimnya publikasi karya-karya kritik itu terjadi akibat tradisi kritik dalam masyarakat (sastra) Jawa belum berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu,agar kritik karya sastra Jawa modern berperan sekaligus mengembangkan sastra Jawa, kritik karya sastra Jawa itu perlu ditradisikan dan dikembangbiakkan dimasyarakat, termasuk di sekolah (SLTP,SLTA Perguruan tinggi/PT). Budaya dan pengembang ini perlu langkah dan tindakan nyata, tidak hanya sekadar diskusi ataupun temu sastra, seminar sastra maupun kongres satra, tapi juga perlu menampung produksi  distribusi dan kontribusi buku-buku karya sasta  Jawa modern secara  nyata dan proporsional.Kontrbusi budaya kritik sastra di sekolah diharapkan dapat menjadi tradisi tulis sastradisamping secara langsung sebagaipembelajaran sastradi sekolah.Kritik sebagai pembelajaran,kritik sebagai kontrol sosial yang jadi media tulis karya anak-anak muda melelui ruang-ruang sastra seperti buletin sastra,majalah sastra atau majalah dinding yang ada salah satunya di sekolah-sekolah.