Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KETIDAKADILAN GENDER DALAM JANGAN PULANG JIKA KAMU PEREMPUAN KARYA RIYANA RIZKI Hubbi Saufan Hilmi; Sri Wahyuni; Adriani; Darlisa Muhamad
MABASAN Vol. 16 No. 1 (2022): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mab.v16i1.519

Abstract

Ketidakadilan gender merupakan produk dari adanya kuasa dan budaya patriarki dalam kehidupan bermasyarakat. Ketidakadilan gender ini juga tercermin dalam karya sastra, karya sastra merupakan dunia rekaan atas realitas yang ada. Karya sastra tersebut salah satunya ialah kumpulan cerita pendek Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan karya Riyana Rizki. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan dan menjelaskan bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang terlahir oleh dan dalam kuasa dan budaya patriarki yang ada dalam semesta kumpulan cerpen Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis yang membaca karya sastra dari perempuan sebagai pembaca (woman as reader), dan menjadikan kumpulan cerpen sebagai sumber datanya. Sementara yang menjadi data dalam penelitian ini ialah kutipan-kutipan dalam kumpulan cerpen yang mengindikasikan masalah dan tujuan penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis data model analisis interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakadilan gender dalam kumpulan cerpen Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan karya Riyana Rizki termanifestasikan dalam sejumlah bentuk ketidakadilan gender, seperti marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan juga dalam bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan.
Kuasa Patriarki dalam Kumpulan Cerita Pendek Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya Eka Kurniawan Hubbi Saufan Hilmi; NFN Sasmayunita; Asriani Thahir; Rizmada Azzahra
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.312

Abstract

This study aims to describe and explain the power of patriarchy, as well as the resistance of women in the collection of short stories Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Eka Kurniawan. The research method used in this research is descriptive qualitative with feminist literary criticism as the approach used to obtain the desired data. The data source is a collection of short stories Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Eka Kurniawan. The data are in the form of a number of quotations that reflect the problems in the research. The results of the study indicate that there are nine short stories in the collection that displays patriarchal power and women's resistance. The patriarchal power displayed is in the form of patriarchal power in the domestic and public spheres which are manifested in the form of gender injustice in the form of subordination, marginalization, stereotypes, and violence against women. As for the resistance to patriarchal power, there are only four short stories in the collection. The resistance to patriarchal power is displayed by the female characters in those short stories.AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan kuasa patriarki serta perlawanan perempuan yang ada dalam kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminisme. Sumber data penelitian ini ialah kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan. Data dalam penelitian ini berupa sejumlah kutipan dalam kumpulan cerpen yang mencerminkan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sembilan cerpen yang menampilkan kuasa patriarki dan perlawanan perempuan. Kuasa patriarki yang ditampilkan berupa kuasa patriarki dalam ranah domestik dan publik yang terejawantahkan dalam bentuk ketidakadilan gender yang berupa subordinasi, marginalisasi, stereotip, dan kekerasan terhadap perempuan. Adapun perlawanan terhadap kuasa patriarki hanya terdapat dalam empat cerpen. Perlawanan terhadap kuasa patriarki ditampilkan oleh para tokoh perempuan yang ada dalam keempat cerpen tersebut.
The Problematics of Learning Indonesian Literature in the Pandemic Era at Islamic Junior High School 1 Ternate City Sasmayunita; Hubbi Saufan Hilmi
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Magister of Linguistic, Postgraduated Program, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.996 KB) | DOI: 10.55637/jr.8.2.5757.201-206

Abstract

This study aims to describe the problems in learning Indonesian Language and Literature during the Islamic Junior High School 1 Ternate City pandemic. The method used in this research is qualitative, with the research location in Islamic Junior High School 1 Ternate City. The data in this study are the results of observations about the process of learning literature in Islamic Junior High School 1 Ternate city. Data collection techniques in this study are observation, documentation, and interviews. The data that has been collected is analyzed in several stages, including data reduction, data presentation, member checks, and conclusion. The results showed that the problems of learning literature in Islamic Junior High School 1 Ternate city were caused by some factors. They are the unprepared implementation of the online teaching and learning process, inadequate devices, the high price of data packages for eastern Indonesia, the lack of enthusiasm of students in online learning, and the mastery of science and technology among teachers, which is not sufficient. In addition, problems in learning literature arise due to the lack of innovative and creative teachers in applying learning methods, learning media, and students reading interest in reading materials in the form of literary works, which are still in the low category.
MEDAN MAKNA ‘JATUH’ DALAM BAHASA SASAK DIALEK NGENO-NGENE Hubbi Saufan Hilmi; Indra Purnawan Panjaitan; Sri Wahyuni; Alpan Ahmadi
Sirok Bastra Vol 10, No 2 (2022): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v10i2.374

Abstract

Salah satu cara pemertahanan eksistensi bahasa daerah ialah dengan cara menginventarisasi bahasa daerah tersebut. Inventarisasi bahasa daerah salah satunya dapat berupa penelitian terkait bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan mendeskripsikan komponen makna ‘jatuh’ dalam bahasa Sasak dialek Ngeno-Ngene. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitiaan ini ialah metode deskriptif dengan bentuk kualitiatif. Data dalam penelitian berupa data lisan dari 25 informan penutur bahasa Sasak dialek Ngeno-Ngene di Dusun Montong Meong. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode cakap dan simak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah bentuk dan komponen makna yang berbeda-beda dari setiap bentuk yang bermakna ‘jatuh’ dalam bahasa Sasak dialek Ngeno-Ngene yang digunakan para penuturnya di Dusun Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Sejumlah bentuk kata jatuh dalam bahasa Sasak tersebut berdasar pada objek dan proses objek tersebut jatuh. Objek dengan kriteria makhluk hidup meliputi teri', reba', nyuksur, nunjem, kelegong, gelontong, kedarsot, kederos, kelengguk, kekelak, kekalep, ketumpak, sedangkan yang objek jatuhnya berupa benda (padat/cair) menggunakan kata teri', reba', klepos, nunjem, urut, numpas, gelontong, kesangkur, dan geriti’. Sementara komponen makna ‘jatuh’ dalam bahasa Sasak dibedakan menjadi proses terjadinya peristiwa jatuh baik manusia maupun benda (padat/cair) dan posisi objek yang terjatuh. Komponen makna ‘jatuh’ dalam bahasa Sasak dilihat dari proses terjadinya peristiwa jatuh baik manusia maupun benda (padat/cair) dengan pengertian objek meluncur dari atas ke bawah, objek terlepas dari tumpuan yang mengakibatkan perubahan posisi dari posisi vertikal menuju posisi horizontal, dan yang termasuk ihwal keduanya. Ihwal yang pertama meliputi teri', klepos, nunjem, kelegong, urut, numpas, kesangkur, dan geriti’. Ihwal proses jatuh yang kedua meliputi reba', nyuksur, kedarsot, kederos, dan kelengguk. Kemudian proses jatuh yang termasuk ke dalam dua ihwal tersebut meliputi kekelak, kekalep, dan ketumpak. Kriteria berikutnya ialah penyebutan kata jatuh dalam bahasa Sasak dialek Ngeno-Ngene berdasarkan posisi terjatuhnya meliputi kekelak, kekalep, dan ketumpak.