Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PRODUKSI PROGRAM KEBUDAYAAN GAMBANG SEMARANG PADA PROGRAM ACARA SLUMAN SLUMUN CAKRA SEMARANG TV Gilang Wicaksono; Yanuar Luqman; Nurul Hasfi; Hedi Pudjo Santosa; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.35 KB)

Abstract

Gambang Semarang merupakan sebuah kesenian tradisional kerakyatan yang berkembang dikota Semarang sejak tahun 1930, hal ini berdasarkan peneltian yang dilakukan oleh tim peneliti kesenian Gambang Semarang, fakultas Ilmu Budaya, Universitas Dipongoro. Dalam sejarahnya kesenian Gambang Semarang merupakan sebuah kesenian yang berasal ataupun memiliki kemiripan dengan Gambang Kromong yang berasal dari Ciputat, dan ini menjadi sebuah perdebatan dalam asal-usul kesenian Gambang Semarang itu sendiri. Walaupun menjadi sebuah perdebatan, kini Gambang Semarang diamini oleh warga kota Semarang sebagai kesenian khas kota Semarang. oleh karena itu juga, tim peneliti kesenian Gambang Semarang FIB mengangkat kesenian gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang.Mengapa kemudian Gambang Semarang di anggap menjadi sebuah kesenian khas dan menjadi identitas kesenian kota Semarang, hal tersebut berdasarkan melalui proses sejarah, dimana Gambang Semarang memiliki sejarah yang panjang di kota ini, berkembang dan mendapat apresiasi dari warga kota Semarang. Dalam perkembangannya, Gambang Semarang mendapat penataan tari yang menggambarkan keadaan geografis kota Semarang. Tidak hanya tari, penataan alat musik turut serta dikembangkan baik itu bentuk, rupa, notasinya serta penggunaan lagu-lagu yang bernuansa Semarang. tidak hanya unsur musik dan tari, kesenian gambang semarang juga memiliki unsur lawak.Beragam kesenian dikota semarang sejatinya tidak bisa terlepas dari berbagai etnis yang berada di kota Semarang Yakni, etnis Jawa, Arab dan Cina. Ini juga yang terlihat dalam kesenian Gambang Semarang, dimana didalamnnya terdapat unsur Cina dan Jawa, baik itu dari segi peralatan dan juga pemainnya. Tak kadang pula perkembangan kesenian tersebut merupakan buah usaha dari berbagai etnis dalam melahirkan, mempertahankan hingga melestarikannya. Oleh karena itu gambang semarang memiliki visi misi sebagai kesenian yang membawa misi akulturasi, hibridasi dan juga asimiliasi.Dalam perkembangannya kesenian gambang semarang mengalami pasang surut, dan keadaan surut paling dirasakan pada tahun 2010, sebagian besar pemain Gambang Semarang klasik telah meninggal dunia. Agar tetap ada yang bisa melestarikan maka terbentuklah sebuah komunitas ang bernama Gambang Semarang Art Company. Melaui komunitas tersebutlah kesenian Gambang Semarang bisa terus ada, dan menjadi sebuah kesenian khas dan identitas kesenian di kota Semarang.Kata kunci : Identitas, Gambang Semarang, perkembangan, pelestarian.
Analisis Efisiensi dan Produktivitas Sektor Industri Mikro dan Kecil di Provinsi Lampung Gilang Wicaksono; Emi Maimunah
Moneter : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Vol. 4 No. 2 (2026): April : Moneter : Jurnal Ekonomi dan Keuangan
Publisher : Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/moneter.v4i2.2143

Abstract

This research addresses a paradoxical phenomenon in Lampung Province's Micro and Small Industry (MSI) sector (2018-2022), where high technology adoption is accompanied by declining business units and income inequality. The objective is to evaluate technical efficiency and productivity changes across 15 regencies/cities using the Variable Returns to Scale (VRS) Data Envelopment Analysis (DEA) model and the Malmquist Productivity Index (MPI). Results show an average technical efficiency of 0.838, indicating a 16.2% room for output improvement. Mesuji Regency serves as the benchmark with perfect efficiency. The main inefficiency stems from labor slack (averaging 3,458 people per region), reflecting disguised unemployment. The Malmquist index records an asymmetric productivity growth of 2.1% annually, entirely driven by technological progress (3.5%), while internal managerial efficiency contracted (-1.4%). Consequently, technology adoption requires structural intervention; regional governments must prioritize vocational training and basic managerial strengthening to reduce labor slack and break the MSI inefficiency cycle.