Gregorius Sandjaja Sentosa
Universitas Tarumanagara

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGARUH JARAK ANTAR TIANG TERHADAP EFISIENSI DAYA DUKUNG TIANG KELOMPOK BOR Robert S; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 4, Nomor 2, Mei 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10528

Abstract

ABSTRACTThe main purpose of this thesis is to determine the effective pile spacings. In this study, the foundation design is bored pile group 3x3 with length 12m and diameter 0,6m. The load capacity of a pile group is depends on pile spacings. Therefore, the spacings that is used in this thesis is 1,7D ; 2D ; 2,5D ; 3D ; 4D ; 5D ; 6D. To determine the efficiency of a pile group with varying spacings, calculations are made using several methods. From the results of the calculation of the efficiency, the most relative effective pile spacings are determined. The results show 2,5D spacing is the most relative effective for bored pile group with diameter 0,6m and length 12m has most relative effective spacing 2,5D.ABSTRAKTujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk menentukan jarak tiang yang efektif. Pada penelitian kali ini, digunakan jenis fondasi kelompok tiang bor 3x3 dengan panjang 12m dan diameter 0,6m. Kapasitas dukung sebuah fondasi tiang kelompok tergantung pada jarak tiang yang ditentukan. Oleh karena itu, ditentukan pemasangan jarak tiang sebesar 1,7D ; 2D ; 2,5D ; 3D ; 4D ; 5D ; 6D. Untuk mendapatkan nilai efisiensi dari kelompok tiang dengan jarak yang bervariasi tersebut dilakukan perhitungan menggunakan beberapa metode. Dari hasil perhitungan nilai efisiensi tersebut kemudian ditentukan jarak tiang yang relatif paling efektif untuk kelompok tiang. Hasil analisi menunjukkan bahwa tiang bor dengan diameter 0,6m dan panjang 12m memiliki jarak tiang yang relatif paling efektif sebesar 2,5D. 
STUDI KASUS PERBANDINGAN ANALISIS PENURUNAN AKIBAT TIMBUNAN, DI TANGERANG, BANTEN Fachry Ibrahim; Gregorius Sandjaja Sentosa; Aksan Kawanda
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 2, Mei 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i2.4297

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi dalam konstruksi pembangunan jalan adalah kondisi tanah dasar pada permukaan tanah yang lunak. Apabila tidak dilakukan perbaikan tanah terlebih dahulu pada jenis tanah ini, maka tanah dasar akan mengalami penurunan yang relatif besar, maka dari itu penimbunan yang dilakukan pada tanah lunak akan mengalami penurunan konsolidasi. Konsolidasi merupakan fenomena dalam mekanika tanah yang sering menimbulkan permasalahan geoteknik yang terjadi pada waktu yang lama. perbaikan tanah dilakukan dengan pemasangan PVD yang diberi beban untuk mempercepat proses konsolidasi demi tercapainya penurunan akhir. Studi ini bertujuan untuk mengetahui penurunan konsolidasi dengan metode Terzaghi, program FEM (finite element method), dan metode Asaoka, lalu membandingkan hasil dari penurunan konsolidasi ketiga metode dengan aktual. Prediksi penurunan konsolidasi teori Terzaghi, memberikan hasil yang lebih besar dari penurunan aktual. Pada prediksi penurunan tanah dengan FEM, analisis terhadap penurunan dan waktu sangat bergantung terhadap parameter, sehingga metode ini tidak memberikan hasil yang cukup baik jika tidak berdasarkan parameter pada tanah aslinya. Estimasi hasil dari Asaoka dapat diperoleh nilai penurunan akhir yang lebih mendekati penurunan aktual lapangan. Nilai penurunan ini diperoleh berdasarkan pengamatan penurunan awal di lapangan, sehingga hasil analisis akan lebih sesuai.
SIMULASI SUMUR RESAPAN BERDASARKAN ANALISIS PERBANDINGAN KETINGGIAN AIR BANJIR DI KELAPA GADING JAKARTA Lionel Felix; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8289

Abstract

Flooding has been a problem for the past few decades in Jakarta. The flooding in early January 2020 was one of the worst floods since 2013. One of the most severely affected areas was Kelapa Gading. To find a solution, infiltration wells are used. Infiltration well is a simple conservation in the form of a container that is built in the soil that functions to accommodate, hold and absorb surface water into the soil to increase the amount and position of the ground water level. The analysis begins by calculating the rainfall intensity from the January 2020 rainfall data, proceeding with the calculation of rainwater discharge with USSCS rational method, and calculation of the volume of water entering and not entering the drainage channel. This analysis focuses on flood water levels due to extreme rainfall, to then design infiltration wells. Analysis using the program is done after getting the results of manual calculations. The results of this analysis conclude that millions of infiltration wells are needed to absorb entire volume of flood water. This is due to the shallow groundwater and extreme conditions of rainfall.  Banjir sudah menjadi masalah selama beberapa dekade terakhir di Jakarta. Banjir pada awal Januari 2020 adalah salah satu banjir terparah sejak tahun 2013. Salah satu daerah yang paling terdampak adalah Kelapa Gading. Untuk mencari solusi banjir, digunakan sumur resapan. Sumur resapan adalah konservasi sederhana berupa wadah yang dibangun ke dalam tanah yang berfungsi menampung, menahan dan meresapkan air ke dalam tanah untuk meningkatkan muka air tanah. Analisis dimulai dengan menghitung intensitas hujan dari data curah hujan Januari 2020, lalu dilanjutkan dengan perhitungan debit air hujan dengan metode rasional USSCS, dan perhitungan volume air yang masuk dan tidak masuk ke saluran drainase. Analisis ini berfokus pada ketinggian air banjir akibat curah hujan yang ekstrim, untuk kemudian mendesain sumur resapan. Analisis menggunakan program dilakukan setelah mendapatkan hasil dari perhitungan manual. Hasil analisis ini menyimpulkan bahwa dibutuhkan jutaan sumur resapan untuk menyerap seluruh volume air banjir. Hal ini dikarenakan kondisi muka air tanah yang dangkal dan tingginya curah hujan.
STUDI KASUS KEMIRINGAN GEDUNG 4 LANTAI AKIBAT KEGAGALAN FONDASI DI PANGKAL PINANG Orlando Orlando; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12596

Abstract

Foundation is the lower structure of the building located below the ground that has the function to bear the load of the building. The building has been standing for ± 5 years and the slope of the building is ± 1-20. The authors analyzed soil bearing capacity, settlement and the slope of the building and the possibility of repairing the building for reuse. In 1 pile cap there are 4 bore piles with a depth of 6m-12m, because the pile cap data is not obtained then the size and thickness is assumed and the soil data used is secondary data without lab data derived from soil data in locations adjacent to the building site that is ±100m from the building site. After the analysis, soil bearing capacity is not strong to bear the dead load of the building when using a foundation with a depth of 6m-12m, there is a possibility that the foundation used is not suitable and there is a reduction in the load of the building due to the presence of other buildings that are adjacent to the building in the analysis resulting in a considerable decrease and slope of the building.Fondasi adalah struktur bagian bawah bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul beban bangunan. Bangunan ini sudah berdiri selama ± 5 tahun dan  kemiringan bangunan sebesar ± 1-20. Penulis menganalisis daya dukung tanah, penurunan tanah dan kemiringan bangunan dan kemungkinan memperbaiki bangunan agar dapat digunakan kembali. Pada 1 pile cap terdapat 4 buah bore pile dengan kedalaman 6m–12m, karena data pile cap  tidak diperoleh maka ukuran dan ketebalannya diasumsikan dan data tanah yang digunakan adalah data sekunder tanpa data lab yang berasal dari data tanah di lokasi berdekatan dengan lokasi bangunan yang berjarak ±100m dari lokasi bangunan. Setelah di analisis, daya dukung tanah tidak kuat untuk menahan beban mati bangunan bila menggunakan fondasi dengan kedalaman 6m–12m dan ada kemungkinan fondasi yang digunakan tidak sesuai dan terjadi reduksi beban bangunan karena adanya bangunan lain yang berdempetan dengan bangunan yang di analisis sehingga mengakibatkan penurunan dan kemiringan bangunan yang cukup besar.
ANALISIS FONDASI RAFT PILE BANGUNAN TINGGI TERHADAP STRUKTUR BANGUNAN DI SEKITAR Giovann Giovann; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8297

Abstract

Raft pile is an option for high rise building that has more than 30 stories on soft to moderate soil conditions. Either spun pile or bored pile can be used as the pile foundation. This study focuses on 34-story building that is constructed near electric rail train station, where the soil type is dominantly clay with average N-SPT 20 – 30, there is also thin layer of soil with N-SPT 60. The study compares two types of piles, 30 m depth floating pile and 32 m depth end bearing pile, where the raft thickness is 2 m. The study was conducted by calculating the bearing capacity and settlement with formulas based from correlations of N-SPT and the N-SPT data. Midas 3D also used to simulate the settlement of the building and settlement around the building. The results show that for bored pile with depth of 30 and 32 m respectively has settlement of 20,757 cm and 3,0475 cm while the settlement around the building consecutively is around 10 – 11 cm and 1,5 – 2 cm. Bearing capacity of bored pile with 30 m depth is around 1593,6779 – 5382,5954 kN while bored pile with 32 m depth  is around 1978,9153 – 6021,3859 kN.Fondasi rakit merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan untuk bangunan tinggi lebih dari 30 lantai pada tanah kondisi lunak sampai sedang. Untuk jenis fondasi tiang dapat digunakan tiang bor atau tiang pancang. Dalam penelitian ini dilakukan studi fondasi bangunan 34 lantai yang didirikan dekat dengan stasiun kereta rel listrik di mana lapisan tanah dominan lempung dengan N-SPT rata-rata 20 – 30 dan juga ada nilai N-SPT 60 namun berupa lapisan tipis. Studi dilakukan dengan membandingkan dua jenis tiang yaitu tiang dengan daya dukung friksi kedalaman 30 m dan tiang dengan daya dukung ujung kedalaman 32 m dengan ketebalan fondasi rakit 2 m. Studi dilakukan dengan menghitung daya dukung serta penurunan menggunakan pendekatan rumus-rumus berdasarkan data N-SPT dan korelasi dari data N-SPT, juga dilakukan simulasi Midas 3D untuk mengetahui besar penurunan yang terjadi di sekitar bangunan. Dari hasil studi banding diperoleh penurunan fondasi tiang 30 m dan tiang 32 m berturut-turut sebesar 20,757 cm dan 3,0475 cm sedangkan penurunan sekitarnya diperoleh berturut-turut 10 – 11 cm dan 1,5 – 2 cm. Daya dukung yang diperoleh tiang 30 m berkisar 1593,6779 – 5382,5954 kN dan tiang 32 m berkisar 1978,9153 – 6021,3859 kN.
ANALISIS KESTABILAN JALAN GIRIAN - KEMA PADA DAERAH PERBUKITAN MINAHASA UTARA Pricilia Imanuela Jozias; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 4, Nomor 1, Februari 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10493

Abstract

The construction of a highway in a hilly area requires attention to the stability of the land on which the road body is laid. On the widening of the road between the cities of Girian-Kema, North Sulawesi, the road body is designed to pass through hillside areas that have a slope of about 36°. In designing the road body in the hilly area must be considered the stability of the slopes on the left and right side of the road, the ability to support the soil and other structures so that the road is in a safe condition. To check the safety of this roadway, three locations of the most critically considered points will be selected to fail. At the location, slope stability analysis was carried out using the MIDAS GTS NX program and obtained the most critical security factors ranging between 1,1 and 1,4. To find out the carrying capacity of the soil, calculated the possibility of roads supporting the most extreme load using standard a crated load of 80 kN, from the analysis is known that the stress that occurs if strengthened with soil geogrid can support the load better by 46,1042 kN/m2, and obtained efficiency of 18,83%.Pembuatan jalan raya di daerah perbukitan memerlukan perhatian terhadap kestabilan tanah tempat badan jalan diletakkan. Pada pelebaran jalan antar kota Girian-Kema, Sulawesi Utara, badan jalan dirancang harus melewati daerah lereng perbukitan yang memiliki kemiringan lereng sekitar 36°. Dalam merancang badan jalan pada daerah perbukitan tersebut harus diperhatikan kestabilan lereng yang berada di kiri dan kanan jalan, kemampuan daya dukung tanah dan struktur lainnya agar jalan berada dalam kondisi aman. Untuk memeriksa keamanan lintasan jalan ini, dipilih tiga lokasi titik yang dianggap paling kritis akan mengalami kegagalan. Pada lokasi tersebut dilakukan analisis kestabilan lereng dengan menggunakan Program aplikasi MIDAS GTS NX dan diperoleh Faktor kemanan paling kritis berkisar antara 1,1 dan 1,4. Untuk mengetahui daya dukung tanah, dihitung kemungkinan jalan mendukung beban yang paling ekstrem menggunakan beban gandar standar 80 kN, dari analisis diketahui bahwa tegangan yang terjadi jika diperkuat dengan geogrid tanah dapat mendukung beban dengan lebih baik sebesar 46,1042 kN/m2, dan diperoleh efisiensi 18,83%.