Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR DI FKIP UNIVERSITAS KHAIRUN Khalisa Bakri; Liasari Armaijn; Abd Hikim Husen
Kieraha Medical Journal Vol 3, No 1 (2021): KIERAHA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.582 KB) | DOI: 10.33387/kmj.v3i1.3267

Abstract

Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan bentuk pertolongan pertama pada keadaan darurat yang dilakukan untuk mempertahankan dan memberikan bantuan berupa circulation, airway, dan breathing. Tindakan yang dapat dilakukan pada BHD yaitu Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan manuver Heimlich, back blows dan chest thrust pada kejadian obstruksi jalan napas oleh karena benda asing. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Khairun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa FKIP dengan jumlah sampel sebanyak 356 responden yang tersebar di 10 (sepuluh) program studi (prodi). Dari hasil penelitian, tingkat pengetahuan mahasiswa FKIP tergolong pada kategori cukup yaitu sebanyak 286 responden (80,3%). Tingkat pengetahuan mahasiswa berdasarkan jenis kelamin responden tergolong pada kategori cukup dengan persentase laki-laki 80% dan perempuan 79%. Tingkat pengetahuan mahasiswa berdasarkan prodi tergolong pada kategori cukup dengan persentase tertinggi yaitu prodi kimia sebanyak 28 responden (87,5%).
KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PADA ANAK DI KOTA TERNATE Abkari Rizal Wahid; Tuthanurani Nachrawy; Liasari Armaijn
Kieraha Medical Journal Vol 3, No 1 (2021): KIERAHA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.43 KB) | DOI: 10.33387/kmj.v3i1.3264

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis¸ yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau berbagai organ tubuh yang lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Beban kasus TB anak di dunia tidak dapat diketahui karena kurangnya alat diagnostik yang “child-friendly” dan tidak adekuatnya sistem pencatatan dan pelaporan kasus TB anak, sehingga diperkirakan banyak anak menderita TB yang tidak mendapatkan penanganan yang benar.Tuberkulosis pada anak akan menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang, bahkan sampai pada kematian. Beberapa faktor risiko yang berperan penting dalam penularan penyakit TB pada anak diantaranya riwayat kontak dengan penderita TB dewasa, status gizi, dan status imunisasi BCG. Untuk mengetahui karakteristik pasien TB pada anak di Kota Ternate tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan sampel 29. Data yang diambil adalah data sekunder yang diolah dengan SPSS dengan uji univariat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 29 kasus TB pada anak, penyakit ini terjadi pada anak dengan usia >5-14 tahun sebanyak 16 orang (55,2%), jenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang (72,4%), tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita TB sebanyak 21 orang (72,4%), belum mendapatkan imunisasi BCG sebanyak 19 orang (65,5%), terdiagnosis tuberkulosis klinis sebanyak 20 orang (69%) dan anak dengan status gizi baik sebanyak 10 orang(34,5%).
KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER SERVIKS DI RSUD Dr. H. CHASAN BOEOSIRIE TERNATE LIASARI ARMAIJN; abd Hakim Husen
Kieraha Medical Journal Vol 2, No 2 (2020): KIERAHA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.25 KB) | DOI: 10.33387/kmj.v2i2.2696

Abstract

Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada daerah serviks atau mulut rahim. Upayadeteksi dini perlu dilakukan karena biasanya penderita kanker serviks tidak menunjukkan gejala padastadium awal. Padahal, tingkat kesembuhan pada stadium awal lebih baik dibandingkan dengan stadiumlanjut. Lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita kanker serviks berdasarkan umur,alamat, pekerjaan, paritas, jenis persalinan, jumlah perkawinan dan stadium saat didiagnosis. Penelitianmenggunakan metode deskriptif retrospektif. Tempat penelitian di RSUD dr. H. Chasan BoesoirieTernate dan dilaksanakan pada bulan Juny-Agustus 2020. Populasi dan sampel penelitian adalah semuapenderita kanker serviks di poliklinik dan ruang rawat inap bagian obstetri dan ginekologi RSUD dr. H.Chasan Boesoirie Ternate tahun 2017-2019. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa penderita kanker serviks terbanyak pada usia 31-40 tahun sebanyak 8orang (36,36%), beralamat di Ternate Utara, Ternate Selatan dan Kab/Kota di Maluku Utara masingmasingsebanyak 5 orang (22,73%), pekerjaan, terbanyak adalah ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 21orang (95,46%), memiliki paritas > 4 orang anak sebanyak 12 orang (54,54%), jenis persalinanterbanyak adalah persalinan spontan 18 orang (81,82%), jumlah perkawinan terbanyak 1x sebanyak 19orang (86,36%), dan stadium saat didiagnosis adalah stadium IIIb sebanyak 8 orang (36,36%).Kata kunci : Kanker Serviks, RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Ternate
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Risiko Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar di Kota Ternate Liasari Armaijn; Dewi Darmayanti; Sonia Buyung; Rochmat Hidayat
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9284

Abstract

ABSTRACT Disability is one of the neglected tropical infectious diseases (NTD) and is still a health problem in the world. More than 1.5 billion people or 24% of the world's population are infected with earthworms. More than 270 million children of preschool age and more than 600 million children of school age live in areas, where parasitic worms spread intensively, requiring treatment and prevention. The prevalence of helminthiasis in Indonesia in general is still very high, especially in the underprivileged population, with poor sanitation. The prevalence of helminthiasis varies between 2.5%-62%. Worm species that infect humans include roundworms (Ascaris lumbricoides), whipworms (Trichuris trichiura) and hookworms (Necator americanus and Ancylostoma duodenale) or known as Soil Transmitted Helminth (STH). For the past 3 years, not all health centers in Ternate City have also provided deworming. In fact, the data shows a downward trend, namely in 2020, only 8 out of 11 health centers (72%) gave deworming to elementary school students. Meanwhile, in 2021 there were 7 puskesmas (63.6%) and in 2022 there were 5 puskesmas (45.5%).  To find out the factors related to the risk of helminthiasis in elementary school children in Ternate City. This study is an observational descriptive study. The research sample of 171 respondents was obtained using cluster random sampling and simple random sampling methods. The most respondents were women as many as 97 respondents (56.7%), the most respondents in Kalumata were 40 respondents (23.4%), the most knowledge level was good knowledge as many as 81 respondents (47.4%) and good attitudes as many as 72 respondents (42.1%).Environmental sanitation, level of knowledge and attitude towards helminthiasis are risk factors for the incidence of disability in children in elementary schools in Ternate City Keywords: Disability, Elementary School Children, Ternate City  ABSTRAK Kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi tropis terabaikan (Negleted Tropical Disease/NTD) serta masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi cacing tanah. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah, dimana cacing parasit menyebar secara intensif, sehingga membutuhkan pengobatan dan pencegahan. Prevalensi kecacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk. Prevalensi kecacingan bervariasi antara 2,5%-62%. Spesies cacing yang menginfeksi manusia diantaranya cacing gelang ( Ascaris lumbricoides ), cacing cambuk ( Trichuris trichiura ) dan cacing tambang ( Necator americanus  dan  Ancylostoma duodenale ) atau yang dikenal sebagai Soil Transmitted Helminth (STH). Selama 3 tahun terakhir, belum semua puskesmas di Kota Ternate juga memberikan obat cacing. Bahkan data menunjukkan tren penurunan yakni tahun 2020 hanya 8 dari 11 puskesmas (72%) yang memberikan obat cacing pada siswa SD. Sedangkan tahun 2021 sebanyak 7 puskesmas (63,6%) dan tahun 2022 sebanyak 5 puskesmas (45,5%).  Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko kecacingan pada anak sekolah dasar di Kota Ternate. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional. Sampel penelitian sebanyak 171 orang responden diperoleh dengan metode cluster random sampling dan simple random sampling. Responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 97 responden (56,7%), alamat responden terbanyak di Kalumata sebanyak40 responden (23,4%), tingkat pengetahuan terbanyak adalah pengetahuan baik sebanyak 81 responden (47,4%) dan sikap baik sebanyak 72 responden (42,1%). Sanitasi lingkungan, tingkat pengetahuan dan sikap terhadap kecacingan menjadi faktor risiko kejadian kecacingan pada anak di Sekolah Dasar di Kota Ternate. Kata Kunci: Kecacingan, Anak Sekolah Dasar, Kota Ternate
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI KOTA TERNATE Buyung, Sonia; Armaijn, Liasari; Toka, Wahyunita Do
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 20 No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/ikesma.v20i2.46569

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2, suatu penyakit kronik dengan hiperglikemia persisten akibat defek sekresi dan resistensi insulin ini masih menjadi ancaman kesehatan dunia hingga saat ini dikarenakan morbiditas, mortalitas, kejadian komplikasi serta pengeluaran biaya kesehatannya yang tinggi. DM tipe 2 memerlukan penatalaksanaan jangka panjang sehingga peran pasien terkait kepatuhan pengobatan menjadi krusial dalam mencapai tujuan pengobatan. Kepatuhan pengobatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama pengetahuan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara tingkat kepatuhan pengobatan dan tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 di Kota Ternate, tepatnya di Puskesmas Kalumata. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional terhadap 109 sampel yang diperoleh dengan metode consecutive samplingmenggunakan kuesioner DKQ-24 dan MMAS-8. Dari total 109 sampel ditemukan distribusi pasien terbanyak pada kelompok usia 56-65 tahun (35,8%), jenis kelamin perempuan (66,1%), tamatan SMA sederajat (44%), Ibu Rumah Tangga (44%), telah berobat selama 6 bulan atau lebih (77,1%), memiliki riwayat DM dalam keluarga (58,7%), berpengetahuan cukup (45,9% ) dan memiliki kepatuhan pengobatan sedang (36,7%). Analisis korelasi spearman menghasilkan nilai signifikansi (p value) sebesar <0,001 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,739. Hasil tersebut mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan dan kuat, dengan arah korelasi positif, antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Kalumata Kota Ternate.
Edukasi Faktor Risiko Kecacingan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah Pesisir Jambula Armaijn, Liasari; Darmayanti, Dewi; Nurhidayat, Rochmat; Tamsil, Fauziah Auliah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i5.13630

Abstract

ABSTRAK Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminthiases/STH) diperkirakan telah menginfeksi 1,5 milyar orang (24%) dari populasi penduduk dunia. Penularan terjadi akibat kotoran manusia yang mencemari tanah pada daerah dengan sanitasi yang buruk. Anak sekolah dasar merupakan kelompok yang paling berisiko menderita kecacingan karena faktor anak tidak mencuci tangan sebelum makan dan sesudah Buang Air Besar (BAB), kebersihan kuku, jajan sembarangan dan perilaku BAB Sembarangan (BABS). Kecacingan dapat mengganggu kecerdasan dan gizi anak sehingga menjadi salah satu penyebab stunting atau gangguan pertumbuhan anak. Salah satu upaya pencegahan adalah melalui edukasi tentang faktor-faktor penyebab kecacingan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada siswa sekolah dasar. Untuk meningkatkan pengetahuan dan derajat kesehatan pada siswa sekolah dasar di pesisir Jambula, sehingga membantu menurunkan angka kesakitan dan mencegah terjadinya kecacingan pada siswa anak sekolah dasar. Dilakukan dengan edukasi dan simulasi PHBS pada 90 orang siswa SDN 65 Jambula. Dari kegiatan pengabdian ini didapatkan 80 anak dengan pengetahuan baik dan 10 anak dengan pengetahuan kurang. Disimpulkan bahwa masih dibutuhkan peningkatan pengetahuan guna mencegah perkembangan kecacingan. Kata Kunci: Kecacingan, Pesisir, Jambula  ABSTRACT Soil Transmitted Helminthiases/STH had been infected 1,5 milion people (24%) of world population. The transmission caused contaminated land by human faeces at poor sanitation areas. Primary school children are the most highly risk population to infected STH because lack washed hand behavior before eating and after defecation, random snacks and open defecation. Helminthiases can decrease the inteligance and nutrision than became causes of stunting. One of the efforts to prevent helminthiases by education about the factors causes helminthiases with clean and healthy behaviour to primary school children. Purpose to increase the knowledge and health degree of children at primary school in the Jambula coastal area, thereby helping to reduce the morbidity and preventing helminthiases  at primary school children. Carried out by education and simulation about clean and healthy behaviour to 90 primary school children. 80 primary school children had good knowledge and 10 primary school children had poor knowledge. There is still a need for increased knowledge to prevent helminthiases. Keywords: Helminthiases, Coast, Jambula
KARAKTERISTIK INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD Dr. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE Warnangan, Faridha; Ambar, Edwin; Armaijn, Liasari
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi kedua tersering pada tubuh manusia setelah infeksi saluran pernafasan yang dilaporkan sebanyak 8,3 juta kasus per tahun. Di Indonesia kejadian ISK masih cukup banyak sekitar 180.000 kasus baru pertahun. Usia, jenis kelamin, pendidikan, Diabetes Melitus, batu saluran kemih, dan kehamilan merupakan faktor risiko terhadap kejadian ISK. Penelitian terkait karakteristik ISK di Maluku Utara belum pernah dilakukan. Tujuan : Untuk mengetahui karakteristik ISK pada pasien rawat inap di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Ternate Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan data rekam medik pasien ISK yang di rawat inap tahun 2017-2020 dengan menggunakan rumus slovin untuk pengambilan sampelnya. Hasil: Dari 218 pasien ISK diperoleh 25,2% pada usia 25-44 tahun, 75,2% perempuan, 38,5% pada tingkat pendidikan SMA, 94,5% tidak memiliki riwayat DM, 96,8% tidak memiliki riwayat batu saluran kemih dan 95,7% pada wanita tidak hamil. Simpulan: Karateristik ISK pada pasien rawat inap di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Ternate sebagian besar pada usia 25-44 tahun, perempuan, tingkat pendidikan SMA, tidak memiliki riwayat Diabetes Melitus, tidak memiliki riwayat batu saluran kemih, dan pada wanita yang tidak hamil.
Hubungan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) dengan Angka Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kalumata Putri Widyaningrum; Liasari Armaijn; Aryandhito Widhi Nugroho
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 7 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i7.1421

Abstract

Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan, sanitasi lingkungan terbukti memiliki kaitan yang erat dengan angka kejadian diare. Pada tahun 2021 Puskesmas Kalumata menduduki peringkat pertama dengan kasus diare terbanyak di Kota Ternate yaitu sebanyak 609 kasus. Belum ada penelitian tentang hubungan water, sanitation and hygiene (WASH) dengan angka kejadian diare sebelumnya di Maluku Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan WASH dengan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Kalumata. Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan menggunakan pendekatan case control dengan uji fisher exact guna mendapatkan hubungan WASH dan kejadian diare. Sebesar 33 kasus dan 33 kontrol diambil menggunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Hasil penelitian didapatkan hubungan yang bermakna antara sanitasi yang meliputi penanganan sampah dan sarana pembuangan tinja dengan angka kejadian diare (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara sarana sumber air bersih dengan angka kejadian diare. Dan tidak terdapat hubungan bermakna perilaku cuci tangan dengan angka kejadian diare (p>0,05).
Gambaran Hematuria Terhadap Lokasi Batu Pada Pasien Batu Saluran Kemih di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Radila H. Wahab; Prita Aulia M. Selomo; Liasari Armaijn
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 8 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i8.12

Abstract

Batu Saluran Kemih adalah pembentukan batu di saluran kemih akibat pengendapan berupa kristal di urin. Pengendapan ini timbul pada bagian sel epitel yang mengalami lesi sehingga terjadi hematuria. Penyakit BSK merupakan penyakit tersering ketiga di bidang urologi serta belum ada penelitian yang terkait dengan gambaran hematuria terhadap lokasi batu pada pasien BSK di RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hematuria terhadap lokasi batu pada pasien BSK. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan sampel pasien BSK di rekam medik RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie tahun 2018-2022 sampel yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil dari penelitian ini yaitu dari sampel 27 pasien, kejadian hematuria sebanyak 19 sampel (70,4%). Lebih banyak ditemukan pada perempuan sebanyak 12 sampel (63,2%) dibandingkan laki-laki yaitu 7 sampel (36,8%), dan tertinggi pada usia 35-45 tahun sebanyak 7 sampel (36,8% ) dan 46-55 tahun yaitu 7 sampel (36,8%). Kejadian hematuria terhadap lokasi batu pada pasien BSK yang menempati proporsi tertinggi yakni pada batu ginjal, lebih banyak ditemukan pada perempuan, usia tertinggi pada kelompok 35-45 tahun dan 46-55 tahun.
Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu dalam Upaya Pencegahan DBD di Puskesmas Kalumata Kecamatan Ternate Selatan Habiba Sangka, Nur; Armaijn, Liasari; Hakim Husen, Abd
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v3i1.319

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes, dengan pengetahuan ibu berperan penting dalam pencegahannya. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, di mana angka kejadian DBD cukup tinggi. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dalam pencegahan DBD. Metode yang digunakan adalah desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 100 ibu yang datang berobat pada September-Oktober 2021. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39% responden berusia 26-35 tahun, 54% berpendidikan SMA, dan 69% bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pengetahuan ibu tentang pencegahan DBD berada pada kategori cukup (67%), sikap baik (97%), dan perilaku cukup (70%). Mayoritas ibu di Puskesmas Kalumata memiliki pengetahuan yang cukup, sikap baik, dan perilaku yang memadai dalam upaya pencegahan DBD. Kesimpulannya, meskipun pengetahuan dan sikap ibu tergolong baik, perilaku pencegahan masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya edukasi dan sosialisasi lebih lanjut mengenai pencegahan DBD untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif di masyarakat.