Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KAJIAN INTERTEKSTUALITAS PUISI NA>ZIK AL-MALA>`IKAH ‘ANA>’ DAN CHAIRIL ANWAR ‘AKU’ (Analisis Satra Bandingan) Irwan Mus; Aiyub Berdan
An-Nahdah Al-'Arabiyah Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : An-Nahdah Al-'Arabiyah is published by Department of Arabic Language and Literature in cooperation with The Center for Research and Community Service (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.84 KB) | DOI: 10.22373/nahdah.v1i2.1229

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang kajian intertekstualitas puisi Na>zik Al Mala>`ikah ‘Ana>’ dan Chairil Anwar ‘Aku’ menggunakan teori Satra Bandinga. Intertekstualitas terhadap kedua puisi di atas memiliki persamaan bedasarkan pencarian hakikat manusia yang ada dalam puisi ini adalah sebuah pencarian secara filsafati. Kajian intertekstualitas kedua puisi tersebut memiliki perbandingan dari segi persamaan dan perbedaan yang meliputi isi atau struktur batin dan struktur fisik. Perbandingan intertektualitas persamaaan dan perbedaan puisi kedua puisi tersebut dari segi isi atau struktur batin mencakup beberapa hal seperti: tema, nada, amanat, dan suasana. Sedangkan perbandingan intertektualitas persamaaan dan perbedaan puisi kedua puisi tersebut dari segi struktur fisik meliputi: kata konkret, bahasa figuratif (majas), dan tipografi. Dari segi budaya dan sejarah kedua puisi tersebut yang melatarinya dapat disimpulakan bahwa, pertama puisi Ana> ditulis oleh seorang satrawan kotemporer perempuan berkebangsaan Arab dari Irak sedangkan puisi Aku ditulis oleh sastrawan bekembangsaan Indonesia. Walaupun dari segi tema sama-sama berbicara mengenai perjuangan namun keduanya memiliki makna yang berbeda. Puisi Ana> karya Na>zik Al-Mala>`ikah memiliki makna perjuangan terhadap diri sendiri sebagai bukti jelas nampak pada lirik yang berbunyi ‘Aku tetap kontributor di sini’, sedangkan puisi Aku karya Chairil Anwar lebih berbicara kepada perjuangan membela negara melawan penjajahan, dan itu nampak pada lirik yang berbunyi ‘Biar peluru menembus kulitku’ ‘Aku tetap meradang menerjang’.
KAJIAN INTERTEKSTUALITAS PUISI NA>ZIK AL-MALA>`IKAH ‘ANA>’ DAN CHAIRIL ANWAR ‘AKU’ (Analisis Satra Bandingan) Irwan Mus; Aiyub Berdan
An-Nahdah Al-'Arabiyah Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : An-Nahdah Al-'Arabiyah is published by Department of Arabic Language and Literature in cooperation with The Center for Research and Community Service (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/nahdah.v1i2.1229

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang kajian intertekstualitas puisi Na>zik Al Mala>`ikah ‘Ana>’ dan Chairil Anwar ‘Aku’ menggunakan teori Satra Bandinga. Intertekstualitas terhadap kedua puisi di atas memiliki persamaan bedasarkan pencarian hakikat manusia yang ada dalam puisi ini adalah sebuah pencarian secara filsafati. Kajian intertekstualitas kedua puisi tersebut memiliki perbandingan dari segi persamaan dan perbedaan yang meliputi isi atau struktur batin dan struktur fisik. Perbandingan intertektualitas persamaaan dan perbedaan puisi kedua puisi tersebut dari segi isi atau struktur batin mencakup beberapa hal seperti: tema, nada, amanat, dan suasana. Sedangkan perbandingan intertektualitas persamaaan dan perbedaan puisi kedua puisi tersebut dari segi struktur fisik meliputi: kata konkret, bahasa figuratif (majas), dan tipografi. Dari segi budaya dan sejarah kedua puisi tersebut yang melatarinya dapat disimpulakan bahwa, pertama puisi Ana> ditulis oleh seorang satrawan kotemporer perempuan berkebangsaan Arab dari Irak sedangkan puisi Aku ditulis oleh sastrawan bekembangsaan Indonesia. Walaupun dari segi tema sama-sama berbicara mengenai perjuangan namun keduanya memiliki makna yang berbeda. Puisi Ana> karya Na>zik Al-Mala>`ikah memiliki makna perjuangan terhadap diri sendiri sebagai bukti jelas nampak pada lirik yang berbunyi ‘Aku tetap kontributor di sini’, sedangkan puisi Aku karya Chairil Anwar lebih berbicara kepada perjuangan membela negara melawan penjajahan, dan itu nampak pada lirik yang berbunyi ‘Biar peluru menembus kulitku’ ‘Aku tetap meradang menerjang’.
Strategic Utilization of Arabic Language Competencies of BSA Students for The Development of Tourism in Central Aceh Sumardi; Aiyub Berdan; Rasyad; Chairunnisa Ahsana Amalan Shalihah; Fajri, Akmal; Irwan mus; Achmad Yani
Jurnal Adabiya Vol. 28 No. 1 (2026): JURNAL ADABIYA
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/adabiya.v28i1.32565

Abstract

This study aims to identify and analyze strategies for utilizing the Arabic language skills of students from the Arabic Language and Literature Study Program (BSA) in supporting the development of tourism in Central Aceh. The background of this research is rooted in the need to strengthen the competitiveness of the regional tourism sector based on Islamic values and local culture, while at the same time optimizing the linguistic potential of BSA students as a strategic human resource asset. This research employs a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, and content analysis of digital publications produced by students and shared on the social media platforms of the BSA Department at UIN Ar-Raniry Banda Aceh. The findings indicate that Arabic language skills can be utilized in two main areas: digital marketing to attract tourists from Middle Eastern countries, and the development of educational tourism through the “Language Village” concept. Institutional collaboration between the BSA Study Program and the Central Aceh Tourism Office has also proven to create opportunities for sustainable synergy in training programs, cultural promotion, and applied research. This study concludes that Arabic is not only an academic tool, but also holds significant economic and cultural value for the development of local tourism. Abstrak Penelitian ini menganalisis model strategis pemanfaatan kompetensi bahasa Arab mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) untuk mendukung pengembangan pariwisata di Aceh Tengah. Dengan menggunakan desain kualitatif deskriptif dan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, serta analisis konten terhadap publikasi digital mahasiswa yang disebarluaskan melalui platform media sosial resmi Jurusan BSA UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan dua domain strategis utama, yaitu: (1) pemasaran digital yang menyasar wisatawan dari negara-negara Timur Tengah dan (2) pengembangan wisata edukasi melalui model “Kampung Bahasa”. Selain itu, kolaborasi kelembagaan antara Program Studi BSA dan Dinas Pariwisata Aceh Tengah terbukti mendorong terciptanya sinergi berkelanjutan dalam program pelatihan, promosi budaya, dan penelitian terapan. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi dengan memperluas kajian pendidikan bahasa Arab ke dalam kerangka pengembangan sosial-ekonomi dan budaya, serta secara praktis menawarkan model strategis yang aplikatif bagi perumusan kebijakan pariwisata daerah. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengajuan model integratif yang secara sistematis mengaitkan kompetensi bahasa Arab mahasiswa dengan strategi pengembangan pariwisata dalam konteks budaya Islam lokal.
Stylistics In The Arabic Tradition Nazm Theory According To Al-Jahidz, Al-Khattibiy, Al-Baqillaniy And Al-Jurjaniy: Stilistika Dalam Tradisi Arabteori Naz{M  Menurut Al-Jahidz, Al-Khattibiy, Al-Baqillaniy Dan Al-Jurjaniy Irwan Mus Muslim
Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Pusaka Cendekia Indonesia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65427/puscen.v1i1.5

Abstract

This paper aims to explain how Stylistics in the Arabic Tradition, especially regarding the theory  of naz}m developed by al-Jahidz, al-Khattibiy, al-Baqillaniy and Abdul Qa>hir al-Jurja>ni. This theory is considered one of the theories of literary criticism that is still used today. The naz}m  theory  developed by them is a combination of the existing theories of nahwu and balaghah. In this case they imply that in order to truly understand the concept of naz}m theory  , one is required to have in-depth knowledge in the study of language (linguistics) and also a broad knowledge of poetry and literature. So that what they mean about the theory of  nazm and the beauty of literature can be conveyed and understood well. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana Stilistika dalam Tradisi Arab khususnya mengenai teori nazm yang dikembangkan oleh al-Jahidz, al-Khattibiy, al-Baqillaniy  dan Abdul Qahir al-Jurjani. Teori ini dianggap sebagai salah satu teori kritik sastra yang masih digunakan hingga saat ini. Teori naz}m  yang dikembangkan oleh mereka ini merupakan kombinasi dari teori-teori nahwu dan balaghah yang sudah ada. Dalam hal ini mereka menyaratkan bahwa untuk benar-benar memahami konsep teori naz}m ini, seseorang dituntut untuk memiliki pengetahuan yang mendalam dalam kajian Bahasa (linguistik) dan serta pengetahuan yang luas tentang syair dan kesastraan. Sehingga apa yang dimaksudkan oleh mereka mengenai teori nazm dan keindahan dalam bersastra dapat tersampaikan dan dipahami dengan baik.
Samih Al-Qasim's Poem Kama Nasya' as a Representation of Palestinian Social Reality: A Sociology of Literature Study Ichsanul Hasri; Aiyub Berdan; Irwan Mus; Ivan Aulia Trisnady; Sumardi
Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia Vol. 1 No. 3 (2025)
Publisher : Pusaka Cendekia Indonesia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65427/puscen.v1i3.17

Abstract

Palestinian poetry, particularly the works of Samih Al-Qasim, constitutes a form of artistic expression that cannot be separated from the socio-political realities surrounding it. As noted by Jayyusi (1992), Palestinian literature emerges from a collective historical experience marked by oppression, alienation, and the struggle to preserve identity. In this context, poetry functions not only as an aesthetic expression but also as a medium for articulating the social and political consciousness of the Palestinian people. Samih Al-Qasim, as one of the most significant Palestinian poets, consistently presents poems that reflect the relationship between the individual and the community. His works represent the tension between personal experience and the collective suffering endured by his people.This article aims to analyze the poem “Kama Nasya” by Samih Al-Qasim using the sociology of literature approach proposed by Lucien Goldmann (1964). This approach is chosen because it enables literary works to be read as expressions of the worldview of a collective subject, rather than merely as products of an individual poet’s creativity. The research employs a qualitative-descriptive method with interpretative analysis techniques focusing on the poetic structure, including diction, metaphor, and patterns of intersubjective relations. The structural analysis is then connected to the social and historical contexts that underlie the poem’s creation, as suggested in sociological studies of literature. Thus, this study seeks to systematically relate the structure of meaning in the text to the social conditions of Palestinian society. The results of the analysis indicate that the poem “Kama Nasya” not only expresses individual emotional experiences but also reflects the collective voice of the Palestinian people who have experienced marginalization and structural oppression. The relationship between the lyrical subjects “I” and “you” in the poem can be understood as a symbolic representation of the individual’s relationship with the community and the homeland. Through metaphorical language and reciprocal, egalitarian relations, the poem articulates values of solidarity, the resilience of identity, and the continuity of life’s meaning. Therefore, as emphasized by Said (1979), poetry functions as an important medium for social and cultural critique in the context of colonialism, while simultaneously serving as a means of symbolic resistance against domination and the erasure of collective identity. Puisi Palestina, khususnya karya-karya Samih Al-Qasim, merupakan bentuk ekspresi artistik yang tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial-politik yang melingkupinya. Sebagaimana dikemukakan Jayyusi (1992), sastra Palestina lahir dari pengalaman historis kolektif yang ditandai oleh penindasan, keterasingan, dan perjuangan mempertahankan identitas. Dalam konteks ini, puisi tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan estetis, tetapi juga sebagai medium artikulasi kesadaran sosial dan politik masyarakat Palestina. Samih Al-Qasim, sebagai salah satu penyair penting Palestina, secara konsisten menghadirkan puisi-puisi yang merefleksikan relasi antara individu dan komunitasnya. Karya-karyanya merepresentasikan ketegangan antara pengalaman personal dan penderitaan kolektif yang dialami oleh bangsanya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis puisi “Kama Nasya” karya Samih Al-Qasim dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Lucien Goldmann (1964). Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pembacaan karya sastra sebagai ekspresi pandangan dunia suatu subjek kolektif, bukan sekadar hasil kreativitas individual penyair. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis interpretatif terhadap struktur puisi, meliputi diksi, metafora, dan pola relasi antarsubjek. Analisis struktural tersebut kemudian dihubungkan dengan konteks sosial dan historis yang melatarbelakangi lahirnya puisi, sebagaimana disarankan dalam kajian sosiologi sastra. Dengan demikian, penelitian ini berupaya mengaitkan struktur makna teks dengan kondisi sosial masyarakat Palestina secara sistematis. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi “Kama Nasya” tidak hanya mengekspresikan pengalaman emosional individu, tetapi juga mencerminkan suara kolektif masyarakat Palestina yang mengalami peminggiran dan penindasan struktural. Relasi antara subjek “aku” dan “engkau” dalam puisi dapat dipahami sebagai representasi simbolik dari hubungan individu dengan komunitas dan tanah airnya. Melalui bahasa metaforis dan relasi timbal balik yang setara, puisi ini menyuarakan nilai solidaritas, keteguhan identitas, dan keberlanjutan makna hidup. Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan oleh Said (1979), puisi berfungsi sebagai medium penting untuk kritik sosial dan kultural dalam konteks kolonialisme, sekaligus menjadi sarana perlawanan simbolik terhadap dominasi dan penghapusan identitas kolektif.
Poetry Kama Nasya’ Works of Samih Al-Qasim (Analysis of The Semiotic Riffaterre) Irwan Mus
JOURNAL OF SOCIETY INNOVATION AND DEVELOPMENT Vol 5 No 2 (2024): JSID: May 2024
Publisher : Winaya Inspirasi Nusantara Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63924/jsid.v5i2.26

Abstract

The material object of this writing is the poetry of the Kama Nasya’ works of Samih al-Qasim, Palestinian poet and the object formal is a semiotic Riffaterre. In his theory, Michael Riffaterre introduce two levels of reading, namely the heuristic (the reading of mimetic, based on the dictionary meaning, characterized by (grammatical irregularities) and retroactive or hermeneutics (the reading process of decoding by finding the models, matrices, hipogram: potential and actual to get the unity of the meaning of the poem). The results of this study reveal that the poem Kama Nasya’ in the reading of heuristics is still scattered, fragmentary, and have not focused. In the reading of the retroactivity or hermeneutics, hipogram potential suggests the idea that the author have a supposition full of puzzles. Model (sentence monumental of poetry) is the sentence likun kama nasya’ in the ninth line rinse and the sentence is similar to the title selected by the author in his poem, namely Kama Nasya’. Matrices poetry that is ‘Nationalism’ a love of country. Hipogram the actual into the background of the formation of the matrix is the taste will be stirrings in his homeland attacked by Zionist Israel.
EMOSI TOKOH UTAMA DALAM CERPEN AL-YATIM KARYA MUSTHAFA LUTHFI AL-MANFALUTHI: PERSPEKTIF PSIKOANALISIS DAVID KRECTH Siti Fatimah; Syarifuddin Syarifuddin; Irwan Mus; Azizah Nurmi’raj Amin
INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 6 Number 2 June 2025
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/indonesia.v6i2.74675

Abstract

The purpose of this research is to classify emotions in the short story Al-Yatim using David Krech's literary psychology approach. This type of research is descriptive qualitative. The data collection method consists of literature study and reading and recording techniques. Data analysis was carried out through the stages of identification, classification, analysis, and conclusion of emotion data that appeared in the main character. The results showed six main classifications of emotions depicted in the main character, namely: alienation, loss, sadness, happiness, pent-up feelings, and love. These findings show the psychological complexity of the main character and demonstrate how emotions shape character and storyline. This research contributes to the development of literary psychology studies, especially the application of David Krech's emotion theory in character analysis. The results are expected to be a reference for similar studies in exploring the emotional dimensions of characters in literary works.