Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA BERWIRAUSAHA DENGAN METODE ELECTRE II Laila Safitri; Poningsih Poningsih; Jalaluddin Jalaluddin
KOMIK (Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer) Vol 3, No 1 (2019): Smart Device, Mobile Computing, and Big Data Analysis
Publisher : STMIK Budi Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30865/komik.v3i1.1690

Abstract

This study aims to determine the most fundamental factors in influencing student interest in entrepreneurship at Pematangsianta. The method used in decision making is the ELECTRE II method. Which will be implemented into vb net 2010. Based on the research results obtained by Capital (A3) as rank 1, It is hoped that this research will provide input and convenience to the education parties in knowing what fundamental factors influence student interest in entrepreneurship.Keywords: Students, Interests, Entrepreneurship, SPK, Electre II.
Lokakarya Penguatan Karakter Tanggung Jawab dan Kebugaran Jasmani melalui Metode Permainan O2 di Tingkat SMP di Kabupaten Buleleng Gede Hendri Ari Susila; Ketut Agus Artha; Kadek Arry Anderzen; Ketut Hendry WijayaKusuma; I Putu Herry Widhi Andika; Ketut Perdi Arya Perdana; Laila Safitri
Jurnal Bina Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bina Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jbpkm.v4i1.1723

Abstract

Hasil penelitian pada bulan Agustus tahun 2023 diketahui terdapat permasalahan pada mata pelajaran PJOK tingkat SMP di kabupaten Buleleng yang meliputi: (1) 83% guru masih kurang memahami sinkronisasi dimensi literasi dan kinestetik pada 4 dimensi pendidikan karakter; (2) 90% guru menyatakan nilai karakter tanggung jawab dan kebugaran jasmani peserta didik menurun; dan (3) 100% guru menyatakan tidak memiliki metode permainan dalam mensinkronisasi dimensi literasi dan kinestetik. Sehingga dibutuhkan solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut. Metode permainan otak dan otot (O2) merupakan metode pembelajaran yang mampu mensinkronisasi dimensi literasi dan kinestetik dalam pembelajaran PJOK. Metode lokakarya dilakukan melalui (1) mulai dari diri; (2) eksplorasi konsep.; (3) refleksi terbimbing; (4) ruang kolaborasi; (5) demontrasi kontektual; (6) elaborasi pemahaman; dan (7) rencana aksi nyata. Hasil yang lokakarya menunjukkan bahwa kesadaran guru baru terbentuk dan paham dengan metode permainan O2. Selain itu juga, hasil tes yang dilakukan dalam lokakarya menunjukkan 100% peserta memahami konsep metode permainan O2 dan siap melaksanakan di masing-masing sekolah. Dapat disimpulkan lokakarya penguatan karakter tanggungjawab dan kebugaran jasmani melalui metode permainan O2 memberikan dampak positif dan pengalaman baru bagi para guru PJOK.
Penerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis Kondisi Geografis pada Pembelajaran IPS Laila Safitri; Nuansa Bayu Segara; Dwi Murwanti
Jurnal Pendidikan : Riset dan Konseptual Vol 8 No 4 (2024): Volume 8, Nomor 4 Tahun 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/riset_konseptual.v8i4.1082

Abstract

Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran IPS kelas VIII yaitu masih rendahnya kemampuan peserta didik dalam menganalisis materi kondisi geografis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran dan kurangnya bahan ajar yang menghubungkan materi dengan latar belakang budaya peserta didik. Hal tersebut dapat menghambat proses pencapaian hasil pembelajaran secara maksimal. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap penerapan CRT dalam meningkatkan kemampuan analisis peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan capaian kemampuan analisis kondisi geografis dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I hasil kemampuan analisis geografis kurang optimal terlihat dari masih banyak peserta didik yang mencapai tingkatan “cukup” dan “kurang” sedangkan di siklus II hasil kemampuan analisis geografis mengalami peningkatan pada kategori “sangat baik” dan “baik” serta terjadi penurunan pada kategori “cukup” dan “kurang”. Peningkatan juga terlihat dari nilai rata-rata hasil belajar, jumlah peserta didik yang tuntas, dan persentase ketuntasan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menerapkan pendekatan Culturally Responsive Teaching terbukti meningkatkan kemampuan analisis kondisi geografis.