Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Schadenfreude dan Critical Thinking dalam Diskusi di Media Sosial Putri Vanezia Ricardina Motta; Tio Rosalina; Nyoman Trisna Aryanata
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v1i1.1920

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor Schadenfreude dan Critical Thinking subjek. Secara lebih spesifik, Penelitian ini mengupas faktor-faktor schadenfreude seperti deservedness, dislike, inferiority, dan social sharing emotion yang mana berkaitan erat dengan malicious envy dan pola berpikir subjek. Peneliti menggunakan temuan van De Ven dan kolega, juga teori Critical Thinking oleh Ennis sebagai landasan teori dan paduan melakukan wawancara mendalam guna menggambarkan hal-hal di atas. Peneliti juga menggunakan alat Test of Everyday Reasoning untuk mengukur tingkat berpikir kritis subjek. Subjek penelitianini adalah emerging adults pengguna media sosial dan pelaku schadenfreude. Ditemukan bahwa keunikan anteseden tiap subjek ternyata bukanlah hal yang berdiri sendiri dengan kata lain perilaku schadenfreude subjek merupakan gabungan dari tiap antesedennya. Dalam kaitannya dengan berpikir kritis, ditemukan bahwa subjek menunjukkan adanya bias berpikir kritis yang mempengaruhi subjek untuk mengambil keputusan dalam berperilaku. Bias berpikir kritis ini salah satunya adalah egosentrisme. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggali lebih dalam lagi tiap-tiap anteseden khususnya envy.AbstractThis study aimed to describe the factors of Schadenfreude and Critical Thinking of the subject. More specifically, this study examined Schadenfreude factors such as deservedness, dislike, inferiority, and social sharing emotions which are closely related to malicious envy and the subject's mindset. The researcher used the findings of van De Ven and colleagues, as well as the Critical Thinking theory by Ennis as a theoretical basis and a combination of conducting in-depth interviews to describe the things above. The researcher also used the Test of Everyday Reasoning to measure the critical thinking level of the subject. The subjects of this study were emerging adults who were social media users and schadenfreude doers. Found that the uniqueness of the antecedents of each subject was not a stand-alone thing, in other words, the schadenfreude behavior of the subject was a combination of each of its prior. Concerning critical thinking, it was found that the subjects showed a critical thinking bias that influenced them to make decisions in behavior. One of the biases in critical thinking is egocentrism. Future researchers are expecting to be able to do depth research into each antecedent, especially envy.
Gambaran Anak Perempuan Etnis Hindu Bali yang Mengalami Toxic Parents Sari, Anak Agung Deby Purwita; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Rosalina, Tio; Wiriana
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i3.3635

Abstract

Toxic Parents merupakah sebutan dari disfungsional family, dimana orangtua tidak memperlakukan anaknya dengan baik dan tidak memperdulikan kebutuhan psikologis anak. Pola asuh toxic dapat terbentuk melalui lingkungan sekitar dan budaya. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran toxic parents yang diterima oleh anak Perempuan Etnis Hindu Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga narasumber anak Perempuan Etnis Hindu Bali mendapatkan perlakuan toxic dari orangtua mereka, Adapun perlakuan toxic yang narasumber terima adalah kekerasan fisik, disbanding-bandingkan dan dibentak dengan kata-kata kasar. Perilaku toxic orangtua tersebut bersumber dari lingkungan sekitar dan budaya yang turun dari generasi ke generasi.