Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

GAYA BAHASA PERSONIFIKASI PADA KUMPULAN PUISI PERJAMUAN KHONG GUAN KARYA JOKO PINURBO DAN IMPLIKASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X Ananda Putra Pramudya; Memmy Dwi Jayanti; Mirza Ghulam Ahmad
Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 2, No 2 (2022): Alegori : Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.485 KB) | DOI: 10.30998/.v2i02.8312

Abstract

Character Education in the Poetry Collection of Kidung Cisadane by Rini Intama: A Study of Literary Reception Endang Sulistijani; Sangaji Niken Hapsari; Mirza Ghulam Ahmad
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2022): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.607 KB) | DOI: 10.30998/jh.v6i1.1011

Abstract

The method used in this study is descriptive qualitative. Data were collected by distributing questionnaires to 20 respondents. The objectives of this study were to determine the understanding and responses of readers, namely junior high school teachers in Pasar Rebo District about the collection of Kidung Cisadane poems by Rini Intama and to increase teachers' knowledge about literary assessment. From 704 data on the value of character education which is the result of the literary reception of the teachers to the collection of Kidung Cisadane poems, the results obtained are the religious aspect totaling 119 data or about 16.9%, the cultural aspect totaling 212 data or about 30.1%, the environmental aspect amounting to 203 data or approx. 28.8% and aspects of self-potential amounted to 170 data or about 24.1%. So, the dominant aspects of character education are cultural aspects, environmental aspects, self-potential aspects, and religious aspects.Keywords: Poetry, character education, literary reception.
PENGGUNAAN MAJAS METAFORA DALAM KUMPULAN CERPEN SEPERTI SEMUT HITAM YANG BERJALAN DI ATAS BATU HITAM DALAM GELAP MALAM KARYA ANTON KURNIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Opik Barik Al Azmi; Heppy Atmapratiwi; Mirza Ghulam Ahmad
Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 3, No 1 (2023): Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/alegori.v3i1.8618

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penggunaan majas metafora dalam kumpulan cerpen Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam dalam Gelap Malam serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Penentuan klasifikasi majas metafora dibedakan menjadi empat bentuk; metafora antromorfomik, metafora hewan, metafora abstrak ke konkret, dan metafora sinestesia. Pendeskripsian secara detail aspek majas metafora dari suatu data yang telah didapat menghasilkan sejumlah 105 temuan data. Berdasarkan hasil analisis pada bab 4 dapat disimpulkan jika hasil penelitian  temuan majas metafora dari 10 cerpen berbeda tersebut, penggunaan majas metafora yang terdapat pada data temuan yang adalah sebagai berikut: metafora abstrak ke konkret 38 kutipan (36,19%), metafora antromorfomik sebanyak 32 kutipan (30,48%), metafora sinestesia sebanyak 20 kutipan (19,05%), dan metafora hewan sebanyak 15 kutipan (14,28%)
EKRANISASI NOVEL KE DALAM FILM “7 HARI MENEMBUS WAKTU “KARYA CHARON Fathiya Qonita; Sangaji Niken Hapsari; Mirza Ghulam Ahmad
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 1 No. 1 (2021): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v1i1.103

Abstract

Tujuan dibuatnya penelitian ini adalah untuk mencari tahu hasil dari proses ekranisas ipada alur, tokoh, dan latar novel 7 Hari Menembus Waktu karya Charon ke dalam film 7 Hari Menembus Waktu. Agar dapat mengetahui hal tersebut, penelitian ini dibuat dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara itu, data yang dipergunakan dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan alur sebanyak 79 temuan, terdiri dari 39 penciutan, 13 penambahan, dan 27 perubahan bervariasi. Proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan tokoh sebanyak 13 temuan, terdiri dari 6 penciutan, 4 penambahan, dan 3 perubahan bervariasi. Proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan latar sebanyak 23 temuan, terdiri dari 12 penciutan, 3 penambahan, dan 8 perubahan bervariasi. Berdasarkan perubahan dalam proses ekranisasi dalam novel ke film 7 Hari Menembus Waktu karya Charon dapat ditemukan perubahan alur sebanyak 79 temuan setara 69%, perubahan tokoh sebanyak 13 temuan setara 11%, dan perubahan latar sebanyak 23 temuan setara 20%. Total keseluruhan hasil temuan sebanyak 115 atau setara dengan 100%.
Sosialisasi Teknik Pembuatan Pantun sebagai Media Pendidikan Karakter pada Guru Sekolah Bening Indonesia Endang Sulistijani; Mirza Ghulam Ahmad; Sangaji Niken Hapsari
Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 (2025): Darma Cendekia
Publisher : CV Buana Prisma Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60012/dc.v4i1.178

Abstract

Pantun termasuk dari bentuk puisi lama yang mempunyai batasan tertentu pada aturan bunyi, banyaknya larik dan baris, banyaknya suku kata. Pantun yang merupakan puisi lama berasal dari sastra Melayu. Namun, variasi dari pantun ini menyebar ke seluruh Indonesia. Diantaranya, pantun dari Jawa Barat, Jakarta, parikan dari Jawa Tengah, panton dari Sulawesi, wewangsalan dari Bali, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini pantun sering digunakan dalam acara-acara resmi dan diucapkan saat membuka atau menutup suatu acara. Hal ini menandakan pantun sudah banyak dikenal oleh masyarakat baik muda ataupun tua. Namun, pantun yang diucapkan kadang tidak sesuai dengan aturan pantun itu sendiri, misalnya hanya terdiri dari 2 baris, atau tidak bersajak abab. Membuat pantun sebetulnya tidak terlalu sulit, jika dilakukan secara rutin. Misalnya, satu hari menulis satu pantun untuk dijadikan semangat dalam berkarya, dalam memulai aktivitas, atau untuk menyapa orang terdekat. Adapun dalam pencarian data pada pengabdian Masyarakat ini menggunakan teknik atau metode pembacaan pantun, tanya-jawab,diskusi, dan apresiasi pantun. Teknik atau metode yang digunakan dianggap tepat dan efektif pada pengabdian masyarakat ini.