Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN HIBUALAMO DALAM PENYELESAIAN KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA Ansar Tohe; safri Miradj
Al-Tadabbur Vol 7, No 1 (2021): Al-Tadabbur
Publisher : IAIN TERNATE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46339/altadabbur.v7i1.565

Abstract

Penelitian pembinaan kerukunan beragama pasca konflik sangat diharapkan tercipta kerukunan masyarakat dan agama dapat tercipta kembali seperti sedia kala yang hidup berdampingan antara pemeluk agama yang berbeda satu dengan lainnya. Agama dalam kaitan ini bukan pemicu konflik, karena isu agama itu muncul belakangan. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang menekankan pada penggunaan data lapangan. Data yang di peroleh bersumber dari gejala, fenomena dan realitas atau fakta sosial yang di lakukan langsung oleh peneliti dalam situasi apa adanya. Dengan menggunakan pendekatana Teologis yaitu pendekatan ini digunakan untuk melihat sisi persamaan dan perbedaan masing-masing doktrin agama dan pendekatan filosofis yaitu pendekatan ini gunukan untuk memahami ajaran agama lebih kritis dan rasional. Dalam filosofi Hibualamo terdapat lima unsur utama yang saling terkait dan tak dapat dilepas pisahkan satu dengan yang lainnya. Kelima unsur dimaksud adalah sebagai berikut: Pertama, O dora : dapat diartikan dengan (kasih), yakni kasih terhadap sesame manusia (antar individu) maupun antara individu dengan masyarakat. O dora memiliki makna mendalam sebagai dasar (foundation) hubungan saling mengasihi yang kental antar sesame dan juga diri sendiri, Kedua, O hayangi (bahasa Tobelo) dan O sayangi (bahasa Galela) maknanya sama dengan kata saying yang artinya masih dekat pula dengan O dora, akan tetapi O hayangi lebih dekat pada masalah tolong menolong, Ketiga, O baliara dapat diartikan dengan “pelihara” yang mengandung pengertian saling peduli, saling menopang/menunjang, saling melayani, dalam rangka menciptakan suasana kehidupan bersama yang makmur, aman dan damai, Keempat, O adili, artinya keadilan yang didalamnya mengandung makna kesetaraan derajat, harkat dan martabat, keseteraan hak dan kewajiban di depan aturan-aturan normatif yang diakui dan diterima sebagai hukum adat yang sangat dijunjung, dan Kelima, O diai, sama dengan kebenaran dan kejujuran yang erat kaitannya dengan O adili (keadilan). Norma yang diterima, disepakati dan dihargai sebagai “yang benar” merupakan kriteria yang menata kehidupan masyarakat. 
The Etnohistorical Trajectory of the Banda Ely Diaspora in Ternate: Memory, Migration, and Cultural Transformation Jamain Warwefubun; Ansar Tohe; Hasnani Siri
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 28 No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v28.n1.p01-08.2026

Abstract

This study traces the ethnohistorical trajectory of the Banda Ely diaspora in Ternate by emphasizing the interconnectedness of collective memory, lived experience, migration, and processes of cultural transformation. Using an ethnographic approach, data were collected through in-depth interviews with 15 key informants and analyzed through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings show that memories of the ancestral exodus from Banda to Kei serve as a foundation of identity as well as a source of sociocultural resilience for the community in Ternate. Migration across spaces and generations not only shaped economic and social adaptation, but also generated dynamic identity negotiations within Ternate’s multiethnic context. The cultural transformations occurring in language, ritual practices, and social structure reflect the Banda Ely community’s ability to maintain core elements of their identity while responding to external change. Cultural transformation is not merely a process of alteration, but a survival strategy that enables a minority group to remain present and relevant in a new environment.