p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sylva Scienteae
Gusti Muhammad Hatta
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL ARSITEKTUR POHON BERDASARKAN FUNGSI KAWASAN DI SMAN 2 BANJARBARU Bara Sukma Fajar; Gusti Muhammad Hatta; Adistina Fitriani; Wahyuni Ilham
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.334 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i6.4611

Abstract

The tree architecture model in the education area is an example of modeling in overcoming noise and pollution problems. This school area is the object of research which aims to identify the building blocks of vegetation, calculate noise levels and formulate tree architectural designs at SMA N 2 Banjarbaru in structuring tree architectural models. This school, which is strategically located in the middle of Banjarbaru city, is classified as an area with dense vegetation which is directly supported by the presence of an urban forest. The architectural model is a reference for ecological and extrinsic improvement in SMA N 2 Banjarbaru. Vegetation identification and tree architecture models use descriptive analysis methods adapted to the spatial layout and building functions based on aesthetic, comfort and ecological values. The results of this study are there are architectural models or tree branching types known to be 10 types of architectural models from 41 types of vegetation in the form of tree species and shrubs. The highest noise reaches 70.4 dBA and the lowest is 37.8 dBA with an average of 20 vehicles passing. The formulation of model architectural designs consists of 5 types of architectural models, namely the Troll, Scarrone, Roux, Stone and Aubreville models which are adapted to the designated conditions of the area at SMAN 2 Banjarbaru which are expected to support educational activitiesModel arsitektur pohon pada kawasan pendidikan menjadi contoh permodelan dalam mengatasi masalah kebisingan dan polusi.  Kawasan sekolah ini menjadi objek penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi struktur penyusun vegetasi, menghitung tingkat kebisingan dan merumuskan rancangan arsitektur pohon di SMA N 2 banjarbaru dalam penataan model arsitektur pohon. Sekolah yang terletak strategis di tengah kota Banjarbaru ini tergolong kawasan dengan padat vegetasi yang didukung langsung dengan adanya hutan kota. Model arsitektur menjadi acuan peningkatan ekologi maupun ekstrinsik di SMA N 2 Banjarbaru. Identifikasi vegetasi dan model Arsitektur pohon tersebut menggunakan metode analisis deskriptif yang disesuaikan dengan tata ruang dan fungsi bangunan berdasarkan nilai estetika, kenyamanan dan ekologi.  Hasil penelitian ini terdapat model arsitektur atau jenis bercabang pohon yang diketahui 10 jenis model arsitektur dari 41 jenis vegetasi berupa jenis pohon dan perdu. Kebisingan tertinggi mencapai 70,4 dBA dan terendah 37,8 dBA dengan rata-rata kendaraan yang melintas sebanyak 20 kendaraan. Rumusan rancangan arsitektur model sebanyak 5 jenis arsitektur model yaitu model Troll, Scarrone, Roux, Stone dan Aubreville yang disesuaikan dengan kondisi peruntukan area di SMAN 2 Banjarbaru yang diharapkan dapat menunjang aktivitas pendidikan
Modal Sosial dan Keberlanjutan Usaha Kelompok Masyarakat dalam Program Desa Mandiri Peduli Gambut di Kalimantan Selatan Rina Muhayah Noor Pitri; Kissinger Kissinger; Gusti Muhammad Hatta
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 2 Edisi APRIL 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i2.18424

Abstract

Kegiatan pemulihan ekosistem gambut berbasis masyarakat dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dari berbagai segmen usia dan jenis kelamin. Pengembangan usaha kelompok masyarakat menjadi salah satu bagian dari program revitalisasi ekonomi untuk mencapai tujuan pemulihan ekosistem gambut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis modal sosial dan keberlanjutan Usaha Kelompok Masyarakat.  Lokasi penelitian  berada pada 2 desa yaitu Desa Marampiau di Kabupaten Tapin dan Desa Awang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Responden dipilih secara purposive sampling yaitu anggota usaha kelompok, Fasilitator masyarakat (FM) dan Koordinator Fasilitator Masyarakat (KFM). Total jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 24 orang. Analisis modal sosial meliputi unsur kepercayan, tindakan proaktif, koordinasi, kerjasama, arus informasi dan kelembagaan. Focus Group Discusion (FGD) menjadi metode analisis dalam menentukan berbagai indikator yang menentukan dalam keberhasilan usaha kelompok masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa modal sosial masyarakat desa Marampiau adalah tinggi dan desa Awang adalah sedang.  Usaha kelompok masyarakat Desa Marampiau Kabupaten Tapin masih tetap bertahan hingga tahun ketiga dari pelaksanaan Program Desa Mandiri Peduli Gambut, sedangkan usaha kelompok desa Awang hanya bertahan selama 2 tahun mengikuti program Desa Mandiri Peduli Gambut. Kelemahan dalam modal sosial menjadi pemicu terhambatnya keberlanjutan usaha kelompok masyarakat di desa Awang. Hasil penelitian ini mengindikasikan bagaiamana peran modal sosial sebagai salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan usaha kelompok masyarakat.