Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Evaluasi Pola Pergeseran Stasiun CORS untuk Keperluan Pemantauan Deformasi Sesar Baribis Widyatma, Tata Mulya; Yulaikhah, Yulaikhah
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.106603

Abstract

Letak Indonesia yang berada pada pertemuan empat lempeng yaitu Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik menyebabkan tingginya aktivitas tektonik termasuk terbentuknya sesar-sesar, salah satunya Sesar Baribis. Pergerakan sesar ini dapat diamati dengan pengamatan GNSS. Penelitian sebelumnya menggunakan data CORS untuk mengidentifikasi pola pergerakan Sesar Baribis. Penggunaan data stasiun CORS memiliki keunggulan yaitu data tersedia secara kontinu, namun CORS tidak dirancang khusus untuk memantau pergerakan sesar tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi apakah stasiun CORS dapat mewakili pergerakan sesar tersebut. Penelitian ini menggunakan data tujuh stasiun CORS di sekitar Sesar Baribis pada tahun 2019 s.d. 2023 dan data campaign pengamatan GNSS di sekitar Sesar Baribis pada tahun 2019 s.d. 2021. Data tersebut diolah dengan metode Precise Point Positioning (PPP), kemudian dilakukan analisis laju dan arah pergeseran. Laju pergeseran dihitung dengan metode linear square adjustment. Evaluasi pergerakan CORS apakah dapat merepresentasikan pergerakan sesar atau tidak dilakukan dengan membandingkan pola kecepatan dan arahnya terhadap titik campaign yang memang didesain untuk pemantauan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik pantau campaign secara keseluruhan memiliki laju pergeseran yang lebih besar dibandingkan dengan CORS. Sementara itu, arah pergeseran komponen horizontal titik CORS secara umum mengarah ke timur, sedangkan titik pantau campaign memiliki arah yang cukup beragam. Pola pergerakan stasiun CORS di sekitar Sesar Baribis tidak menunjukkan kesesuaian dengan tipe Sesar Baribis yaitu sesar naik, sekaligus tidak menunjukkan kesesuaian dengan pola laju dan arah pergeseran titik campaign. Dapat dikatakan bahwa stasiun CORS tidak merepresentasikan pola pergerakan Sesar Baribis.
Evaluasi Pemetaan Risiko Multi Bencana di Kabupaten Karo Berdasarkan Perka BNPB 2012 dan Modul Teknis KRB 2019 Menggunakan Multi Criteria Decision Analysis (MCDA) Michael Ariel Brema Pinem; Purnama Budi Santosa; Yulaikhah Yulaikhah
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 9, No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.116364

Abstract

Kabupaten Karo terletak pada zona subduksi aktif dan beriklim tropis ekstrem, sehingga rawan terhadap bencana seperti letusan gunung api, gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Untuk mendukung penanggulangan bencana, penelitian ini memetakan risiko multi bencana berdasarkan dua acuan yaitu Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) No. 2 tahun 2012 dan Modul Teknis Penyusunan Kawasan Rawan Bencana (KRB) BNPB tahun 2019. Risiko dihitung dari komponen ancaman, kerentanan, dan kapasitas dengan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Perbedaan hasil pemetaan berdasarkan kedua acuan dievaluasi dari luas dan/atau kelas indeks yang diperoleh. Ancaman bencana di Kabupaten Karo bervariasi dari kelas rendah hingga tinggi. Kerentanan dan kapasitas didominasi kelas sedang, sehingga risiko bencana tunggal sebagian besar berada pada kelas rendah hingga sedang. Indeks risiko multi bencana berada pada rentang 0,097 hingga 0,551 untuk metode Perka BNPB No. 2 tahun 2012 dan 0 hingga 0,466 untuk metode Modul Teknis Penyusunan KRB BNPB tahun 2019. Jumlah bencana yang berisiko lebih memengaruhi indeks risiko multi bencana dibandingkan besarnya indeks risiko tunggal. Perbandingan hasil menunjukkan bahwa metode Perka BNPB No. 2 tahun 2012 menghasilkan cakupan wilayah lebih luas yang serupa dengan area ancaman, sedangkan metode Modul Teknis Penyusunan KRB BNPB tahun 2019 lebih terbatas karena mempertimbangkan wilayah kerentanan. Perbedaan hasil kedua acuan dipengaruhi oleh jenis data, seleksi daerah kerentanan, serta metode pengolahan data.