Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Perbaikan Struktur Existing Bangunan Tingkat Rendah Akibat Penambahan Beban BTS (Base Transceiver Station) Didik Yulianto
JOURNAL VISION TECHNOLOGY (V-TECH) Vol. 6 No. 1 (2023): JOURNAL V-TECH (VISION TECHNOLOGY)
Publisher : LPPM Universitas Adiwangsa Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35141/sme43387

Abstract

Perubahan akibat fungsi bangunan dapat mempengarui masa layan struktur dari keseluruhan kekuatan bangunan tersebut sehingga harus mampu memenuhi kapasitas penambahan akibat beban baru. Penambahan beban di atas bangunan tersebut apakah bangunan existing mampu dan cukup untuk menerimah penambahan beban dimana saat existing beban tersebut tidak diperhitungkan dalam perencanaan. Bangunan existing ini adalah Rumah Toko (RUKO) yang berlokasi di Batam-Riau yang terdiri dari 3 lantai. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mencari solusi atas perkuatan struktur yang digunakaan untuk bangunan tingkat rendah akibat penambahan beban BTS Tower pole 9m. Dalam analisis perhitungan ini digunakan perangkat lunak Staad Pro, dimana data yang digunakan adalah hasil survey tim yaitu hasil pengukuran dilapangan dan hasil hammer tes pada kolom, balok dan pelat lantai total sebanyak 90 titik. Dimensi ukuran kolom existing lantai 1 sampai dengan lantai 3 adalah K20x40, ukuran balok lantai 1 dan lantai 2 B20x50, ukuran balok lantai 3 B20x30 dan pelat lantai dimensi 12 cm dengan tinggi perlantai 4,0 m. Hasil analisis maka dilakukan perbaikan perkuatan struktur dengan penambahan Serat Carbon Fiber Reinforced Polymer pada struktur bangunan yang harus dilakukan perkuatan akibat penambahan beban berlebih. Adapun hasil analisis dari struktur bangunan yang harus diperkuat adalah balok lantai 3 dengan dimensi ukuran 20x30 diarea titik tumpu dari bangunan tower BTS (Base Transceiver Station) Pole 9m. Metode perbaikan perkuatan struktur ini adalah dengan memberikan serat Carbon Fiber Reinforced Polymer di area balok tersebut karena dengan Fiber Reinforced Polymer (FRP) dapat mampu memperbaiki dan meningkatkan ketahanan struktur. Selain itu bangunan FRP cukup mudah diaplikasikan pada beton bertulang. FRP merupakan bahan yang ringan, kuat dan tahan terhadap korosi.
Isolation, Screening, and Characterization of Carbonatogenic Bacteria From Bukit Bulan Lime Soil as Alternative Biocement Agents for Self-Healing Concrete Cracks Kurniawan, Hafiz Muchti; Yulianto, Didik; Bestnissa, Nadya; Satria, Darma; Pratomo, Soni
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 19 No. 1 (2026): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v19i1.43636

Abstract

Eight carbonatogenic bacterial isolates have been successfully isolated from the limestone soils of Bukit Bulan, Jambi Province, Indonesia. This research aims to obtain superior bacteria as biocement agents that can help the self-healing process of concrete cracks. The eight carbonatogenic bacteria are isolates coded BB1, BB2, BB3, BB4, BB5, BB6, BB7, and BB8. Qualitative screening revealed that all isolates were capable of forming calcium carbonate (CaCO₃) precipitation in the test medium. Quantitative tests revealed that all isolates were capable of producing precipitation of calcium carbonate (CaCO₃). CaCO₃ crystals produced by carbonatogenic bacteria exhibit properties of both calcite and vaterite phases, which can potentially enhance the strength of concrete structures. Seventy-five % of the isolates are gram-positive, and 25% are gram-negative. All isolates can produce the enzyme cytochrome oxidase C, which enhances the natural self-healing ability of bacteria in repairing concrete. All isolates can decompose urea, suggesting that they may contribute to the formation of CaCO₃ minerals. The motility test revealed that 50% of carbonatogenic bacteria are motile, which can enhance the efficiency in self-healing concrete. When applied to concrete mixtures, it is known that the carbonatogenic bacteria BB1, BB2, BB3, and BB4 can aid in repairing concrete cracks. The BB3 isolate can close concrete cracks faster than other isolates, indicating that it has the potential to be further developed as a biocement agent.
Analisa Perencanaan Bangunan Gedung Hijau Klas 1a Di Kota Jambi Menggunakan Pendekatan Partial Least Square (PLS) Didik Yulianto; Hendi Matalata; Abdul Manap
Jurnal Khazanah Intelektual Vol. 7 No. 3 (2023): Khazanah Intelektual
Publisher : Brida Provinsi Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37250/khazanah.v7i3.221

Abstract

The climate challenge is essentially an energy challenge. With that in mind, policymakers around the world are trying to accelerate the adoption of clean energy technologies. Stronger policy support such as minimum performance standards is needed so that the building sector is on the right track towards a Zero Emission Scenario by 2050. PUPR Ministerial Regulation number 21 of 2021 concerning green building performance assessment which is a minimum performance standard as a government policy must be implemented in Indonesia. The districts/cities of Jambi province currently have not carried out green building construction at any time, both in terms of planning and implementation. Therefore, it is hoped that this policy can be implemented well from the aspect of building construction. This research aims to identify factors exploring the performance of green building criteria, environmental awareness and the implementation of workshops on the impact of barriers to green building construction. A qualitative approach was used in this research and data was collected from workshop participants in Jambi City. The analysis method was carried out using SmartPLS 3.0 qualitatively. From the results of the research conducted, environmental concern for barriers to green buildings has a significant influence, so it is important to socialize the impacts of global warming to the community, one of which is the role of implementing green buildings. The results of this research are expected to include workshops, training and outreach activities as well as policies in the form of PERDA providing incentives to the community so that they can trigger the interest of building owners Keywords: SmartPLS, Green Building.
DAMPAK KOEFISIEN DEPRISIASI TERHADAP INTENSITAS PENCAHAYAAN BUATAN matalata, Hendi; Leily W Johar; Didik Yulianto; Syafriyudin abu bakar
Jurnal Andalas: Rekayasa dan Penerapan Teknologi Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jarpet.v5i2.129

Abstract

Dalam mengoptimalkan kenyamanan dan produktifitas penghuni bangunan gedung perlu direncanakan sistem pencahayaan buatan apabila sistem pencahayaan alami tidak mencukupi atau tidak mencapai tingkat pencahayaan minimal yang dipersyaratkan. Pada sistem pencahayaan buatan perlu memperhatikan faktor koefisien deprisiasi (Kd) yang disebabkan debu kurangnya ventilasi, jamur dan lainya sehingga mengakibatkan pengotoran armatur dan ruang selama masa penggunaan, jika tingkat pengotoran tidak ditentukan maka digunakan faktor koefisien depresiasinya (Kd) 0,8. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan pencahayaan buatan bangunan fungsi hunian dengan mempertimbangkan konfigurasi sistem pencahayaan akan kebutuhan intensitas pencahayaan, densitas daya lampu dan dampak faktor keofisien depresiasi setiap fungsi ruang. Hasil perhitungan simulasi dialux menunjukan terjadi penurunan tingkat pencahayaan dampak dari faktor keofisien depresiasi jika tidak dibersihkan selama 1 tahun dan 2 tahun penggunaan lampu yaitu masing - masing sebesar R.T 1 (21,1 lux), R.K (28,7 lux), R.T 2 (22,4 lux), K.M (38,7 lux). Dan jika dibersihkan terjadi penurunan tingkat pencahayaan masing - masing sebesar R.T 1 (10,5 lux), R.K (10,9 lux), R.T 2 (11.2 lux), K.M (19 lux). Agar tidak terjadi penurunan tingkat pencahayaan lampu maka dilakukan pembersihan dalam setiap tahun pada area armatur lampu dan langit langit rumah