Bambang Hermanto
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENANGANAN PATOLOGI SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Penutupan Lokalisasi Teleju Oleh PEMKO PEKANBARU) Bambang Hermanto
Kutubkhanah Vol 14, No 2 (2011): Juli - Desember 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.271 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i2.270

Abstract

Ditutupnya lokalisasi teleju oleh Pemerintah Kota Pekanbaru pada tahun 2009 disinyalir akan menyebabkan tindakan prostitusi semakin sulit diberantas karena sulit untuk dideteksi keberadaannya yang tersembunyi. Di sisi lain ada persepsi yang berkembang di tengah masyarakat dengan ditutupnya lokalisasi ini merupakan salah satu hal yang bijaksana dalam penanganan patologi sosial di kota Pekanbaru. Secara umum usaha untuk menanggulangi pelacuran dapat dilakukan secara preventif, represif dan rehabilitatif. Usaha preventif dilakukan dengan cara memberikan sanksi hukum kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelacuran, baik berupa denda maupun kurungan. Penutupan lokalisasi teleju didasarkan pada ketentuan yuridis karena keberadaan lokalisasi teleju bertentangan dengan beberapa aturan yang sudah dibuat sebelumnya oleh PEMKO Pekanbaru antara lain PERDA Kota Pekanbaru Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Ketertiban Sosial. Sementara itu dalam perspektif hukum Islam, penanganan lokalisasi dengan pendekatan jinayah merupakan tindak preventif yang radikal dan diyakini dapat menangani persoalan prostitusi secara keseluruhan. Namun disamping itu pemaknaan hukum Islam tidak harus dilihat dari perspektif nilai saja, tetapi perlu dicari keterkaitan secara organik dan struktural dalam kehidupan sosial. Dengan pendekatan ini diharapkan hukum Islam lebih dapat diterima dan dilaksanakan sebagai solusi dalam menyelesaikan persoalan penyakit sosial.
Penguatan Kemitraan Lintas Iman Muslim dan Bahai melalui Bincang Diskursus Keragaman (BIDUK) #01 ISAIS UIN Sultan Syarif Kasim Riau Muhammad Ansor; Laila Sari Masyhur; Bambang Hermanto; Mhmd. Habibi
Asskruie: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): November
Publisher : Saniya Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/gn2nhr56

Abstract

This article discusses the implementation of interfaith partnership strengthening activities between Muslims and Baha'is in Riau through the organization of the Diversity Discourse Chat (BIDUK) #01 by ISAIS UIN Sultan Syarif Kasim Riau. This activity argues that interfaith partnerships in resolving religious relationship issues can be conducted not only through formal approaches facilitated by the state but also through both informal and formal encounters of each community and the willingness to discuss problems related to religious relationships, including sensitive topics. In this regard, ISAIS UIN Sultan Syarif Kasim Riau facilitates periodic discussions packaged through the BIDUK program, which addresses issues of diversity governance in Indonesia. The BIDUK #01 discussion was held as an effort to strengthen mutual understanding between Bahá'ís and Muslims in Riau in addressing issues related to the religious relations of both communities. In the end, the BIDUK discussion contributed to broadening the horizons of each community's members, showing that differences in religious beliefs do not hinder the partnership between Muslims and Bahá'ís in Riau in addressing national issues related to religious relations in Indonesia.