Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sosiohumaniora

SOENDA BERITA: SURAT KABAR MINGGUAN PERTAMA MODAL MILIK PRIBUMI (1903-1904) Agusmanon Yuniadi
Sosiohumaniora Vol 14, No 2 (2012): SOSIOHUMANIORA, JULI 2012
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.807 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v14i2.5484

Abstract

Surat kabar “Soenda Berita” didirikan oleh Raden Mas Tirto Adhi Suryo (TAS) di Cianjur pada 1903, dan merupakan cikal bakal pers nasional yang mengilhami semangat perjuangan kaum pribumi melawan kebodohan, ketertindasan dan kolonialisme. “Soenda Berita”' dalam penerbitannya menggunakan bahasa Melayu dan merupakan surat kabar pribumi pertama yang dibiayai, dikelola dan diisi oleh kabanyakan tenaga pribumi sendiri. “Soenda Berita” membangkitkan dan menganjurkan kepada kaum priyayi besar-kecil wajib mencari ilmu supaya ringan bebannya dalam mengarungi kehidupannya, agar terbuka pikiran dan kepandaiannya. Priyayi-priyayi harus cerdik dengan banyak membaca surat kabar, buku, berkala dan mengetahui betul-betul segala peraturan hukum perintah Hindia Belanda agar sesuai dengan yang dilakukannya atau bekerja dalam menolong bangsanya. Soenda Berita dalam berita dan artikelnya banyak memberitakan keadaan masyarakat Sunda dan Jawa. Artikel-artikel dalam Soenda Berita juga banyak membahas ekonomi, kesehatan, Hukum, Ilmu pengetahuan, politik dan pendidikan. Di samping itu, Soenda Berita banyak menguraikan pengetahuan pertanian, perkebunan dan pengetahuan praktis lainnya, seperti fotografi, bekerja di percetakan dan lain-lain. Soenda Berita banyak membahas masalah perempuan terutama perempuan di Sunda dan di Jawa. Di samping membahas makanan, juga membahas mengenai peranan perempuan dalam rumah tangga. Kalau perempuan maju juga akan membantu beban suami. Soenda Berita mengajarkan perempuan harus mempunyai etika atau tata krama yang baik
SYMBOL PRESERVATION AND IDENTITY OF GARUT CITY Kunto Sofianto; Agusmanon Yuniadi; Agus Nero Sofyan; Budi Gustaman
Sosiohumaniora Vol 23, No 1 (2021): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v23i1.31553

Abstract

This article discusses the symbols and identity of Garut City, especially with regard to heritage buildings that were established since the Dutch colonial period. These buildings are very important to be maintained so that the identity of the Garut community is not eroded by the increasingly strong current of globalization. The research method used in this research is a qualitative research method with a historical approach. In addition, the concept of conservation is also used which refers to physical and non-physical aspects and adaptive re-use theory. The conclusion from this research is that various infrastructures, especially the buildings at the beginning of the establishment of Garut city are symbols and identities for the Garut people. The conclusion of this study is that the buildings are very important to be preserved so that they could be proud of by the people of Garut city or the people of Garut regency in general. Thus the Garut people will not lose direction in building a whole human. In addition, the Garut community will understand the importance of buildings in Garut city as a symbol or identity of the Garut community.
PROSESI PERALIHAN KEKUASAAN DARI HABIBIE KE ABDURAHMAN WAHID : SEBUAH PENELITIAN AWAL Reiza D. Dienaputra; Agusmanon Yuniadi; Dwi Agusta
Sosiohumaniora Vol 3, No 3 (2001): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2001
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v3i3.5203

Abstract

Penelitian tentang Prosesi Peralihan Kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid bermaksud mengungkap jalannya proses peralihan kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid. Untuk memperoleh penjelasan genetis tentang jalannya proses peralihan kekuasaan tersebut, penelitian ono menggunakan metode sejarah. Berdasarkan hasil pengamatan awal ini, proses peralihan kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid berlangsung secara demokratis dan konstitusional. Setidaknya ada dua peristiwa penting yang menandai jalannyaproses peralihan kekuasaan. Pertama, pemilihan umum pada tanggal 7 Juni 1999. Kedua, proses pemungutan suara dalam pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999. Kedua peristiwa penting dalam proses peralihan kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid membuat peralihan kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid menjadi peralihan kekuasaan pertama yang kesemua prosesnya berlangsung secara demokratis di dalam gedung MPR/DPR. Di sampling itu, peralihan kekuasaan ini membuat Abdurahman Wahid menjadi presiden pertama Republik Indonesia yang dipilih melalui proses pemungutan suara. Tegasnya, peralihan kekuasaan dari Habibie ke Abdurahman Wahid merupakan peralihan kekuasaan yang paling demokratis dan konstitusional di Indonesia sepanjang era kemerdekaan. Kata kunci : Prosesi, peralihan kekuasaan, demokratis, pemungutan suara, konstitusional.