Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENYULUHAN EDUKASI KEPADA REMAJA PUTRI DI SMP KARTIKA SILIWANGI XIX-2 BANDUNG UNTUK MENCEGAH ANEMIA DENGAN MAKANAN SEHAT, BEGIZI DAN SEIMBANG Ellis Endang Nikmawati; Cica Yulia; Asep Maosul
Lentera Karya Edukasi Vol 1, No 1 (2021): Jurnal LENTERA KARYA EDUKASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengembangan dan Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan (P2K Sarprasdik)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.756 KB)

Abstract

Abstract: Adolescents are individuals in the 10-19 age group who are divided into two terminations, namely early adolescents in the age range 10-14 years and late adolescents 15-19 years. Youth are included in the nutritionally vulnerable age group, one of the reasons is that adolescents need higher nutrition due to an increase in physical growth and rapid development of organs and in order to achieve maximum growth potential, it requires proper nutrition in the amount, type of food and frequency. The main factor causing anemia is a lack of iron intake, so it is necessary to provide education education about the importance of eating healthy, nutritious and balanced food to prevent and reduce anemia in adolescents, especially junior high school students who have more learning activities and activities at school.Abstrak: Remaja adalah individu kelompok umur 10-19 tahun yang dibagi dalam dua terminasi yaitu remaja awal pada rentang umur 10-14 tahun dan remaja akhir 15-19 tahun Remaja termasuk dalam kelompok umur rentan gizi, salah satu penyebabnya yaitu remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi karena adanya peningkatan pertumbuhan fisik dan perkembangan organ yang cepat dan agar tercapainya potensi pertumbuhan secara maksimal, sehingga membutuhkan gizi yang tepat jumlah, jenis makanan, dan frekuensinya. Faktor utama penyebab anemia adalah asupan zat besi yang kurang sehingga perlu dilakukan penyuluhan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi makanan sehat, bergizi dan seimbang untuk mencegah dan mengurangi terjadinya anemia pada remaja, terlebih pada siswa SMP yang memiliki lebih banyak kegiatan belajar dan aktivitas di sekolah.
Meta-Analisis Model Pembelajaran Vokasi dalam Kondisi Covid-19 Hari Din Nugraha; Deni Poniman; R.A. Vesitara Kencanasari; Asep Maosul; Muhammad Ibnu Rusydi
Jurnal Dinamika Vokasional Teknik Mesin Vol. 5 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : Department of Mechanical Engineering Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dinamika.v5i2.34779

Abstract

In the current Covid-19 transition period, an effective vocational learning model innovation is needed. The number of vocational learning models during this pandemic needs further study for a successful implementation. This study empirically verifies the vocational learning model during the Covid-19 pandemic and analyzes the factors that hinder vocational learning in the Covid-19 era. Systematic literature review and Meta-Analysis (PRISMA) were used as methods for conducting this research. The reviewed articles were 30 most recent articles from 2019 to 2020. All articles were classified based on author, year published, type of journal or conference, method, vocational learning model, and findings. The study reveals that the search results prove an increase in the number of articles published from 2019-2020. The results showed that e-learning is the most widely used learning model in vocational education. E-learning developed for vocational education must be able to measure competency outcomes through an e-portfolio, virtual-based, and easy to use. The obstacles that can be identified are the difficulty of teachers and students to adapt to changes in vocational learning from conventional to online learning during the COVID-19 transition; lack of working skills for vocational education students that are unobtainable during online learning; infrastructure problems; and uneven distribution of networks, especially in remote areas that have difficulty accessing the internet. Di masa transisi Covid-19 saat ini, dibutuhkan inovasi model pembelajaran vokasi yang efektif digunakan. Banyaknya model pembelajaran vokasi di masa pandemi ini perlu dikaji lebih lanjut yang tepat untuk diimplementasikan. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi secara empiris model pembelajaran vokasi di masa pandemi covid 19 serta menganalisis faktor yang menghambat pembelajaran vokasi di era Covid-19. Systematic literarature review dan Meta-Analisis (PRISMA) digunakan sebagai metode untuk melakukan penelitian ini. Artikel yang ditinjau sebanyak 30 artikel terbaru dari tahun 2019 hingga 2020. Semua artikel diklasifikasikan berdasarkan penulis, tahun terbit, jenis jurnal atau konferensi, metode, model pembelajaran vokasi, dan temuan. Hasil studi disampaikan sebagai berikut. (1) Hasil penelusuran membuktikan adanya peningkatan jumlah artikel yang diterbitkan dari tahun 2019-2020. (2) Hasil penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran e-learning merupakan pembelajaran yang paling banyak digunakan pada pendidikan vokasi. (3) E-learning yang dikembangkan untuk pendidikan vokasi harus bisa mengukur hasil kompetensi melalui e-portofolio, berbasis virtual dan mudah digunakan. (4) Hambatan yang dapat diidentifikasi adalah: (a) kesulitan adaptasi pengajar dan siswa dalam perubahan pembelajaran vokasi pada masa transisi covid-19 dari konvensional ke online, (b) kurangnya keterampilan bekerja para siswa pendidikan vokasi yang tidak didapatkan selama pembelajaran online, (c) masalah infrastruktur dan pemerataan jaringan yang belum merata terutama di daerah terpencil yang kesulitan akses internet.
Cookies hanjeli gluten free produk unggulan wisata Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark Yulia Rahmawati; Asep Maosul; Ai Mahmudatussa’adah; Muktiarni Muktiarni; Nia Lestari
Jurnal Abmas Vol. 21 No. 2 (2021): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v21i2.40342

Abstract

Kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk yang terus naik, sehingga perlu dikembangkan bahan pangan alternatif, salah satunya hanjeli. Sebelum diolah hanjeli mengalami beberapa proses, yaitu pengeringan, pemecahan kulit luar, penyosohan lapisan aleuron, pemisahan beras hanjeli dari dedak, dan penepungan. Hanjeli merupakan bahan pangan yang memiliki gizi tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas. Permasalahan yang terjadi di Desa Waluran Mandiri Kecamatan Waluran Kabupaten Sukabumi adalah pengolahan hanjeli menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tepung hanjeli dapat digunakan sebagai bahan pengganti tepung terigu dalam pembuatan cookies. Metode yang digunakan adalah pelatihan dan pendampingan. Produk yang dihasilkan dari pelatihan ini adalah chocochips cookies hanjeli, pizza cookies hanjeli, nastar hanjeli, dan peanut cookies hanjeli. Masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan. Simpulannya tepung hanjeli dapat menggantikan seratus persen tepung terigu di dalam pembuatan aneka cookies.
Empowerment of female farmers through catfish culinary in industrial areas Yoyoh Jubaedah; Asep Maosul; Nenden Rani Rinekasari; Rakhmat Yusuf; Neni Rohaeni; Heni Hernawati
Jurnal Abmas Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v26i1.308

Abstract

Catfish farmers face marketing challenges, resulting in delayed harvests and significant price declines. This program aims to improve the economic capacity of women's farmer groups through catfish-based culinary training in Sukamanah Village, Rancaekek District, an area impacted by industrial waste. The method used was a participatory, learning-by-doing model and a Training-of-Trainers (ToT) approach. The program was implemented over six months, encompassing needs analysis, training, mentoring, and evaluation. Results showed significant improvements in participants' knowledge, food processing skills, and product innovation capabilities. The resulting products, such as siomay (siomay), tofu meatballs, and fried catfish dumplings, have a high level of acceptance and have the potential to become household-based micro-enterprises. This program also contributes to women's empowerment by increasing productivity and family income. Furthermore, the digital-based mentoring approach and the role of PKK (Family Welfare Movement) cadres as local agents have proven to support the program's sustainability. Thus, culinary training based on local potential can be an effective strategy for improving family welfare in areas affected by industrial pollution.   Abstrak Para peternak ikan lele mengalami kesulitan dalam pemasaran, sehingga ikan terlambat dipanen dan harga jual menurun secara signifikan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi wanita kelompok tani melalui pelatihan kuliner berbasis ikan lele di Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, yang merupakan wilayah terdampak limbah industri. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis model learning by doing dan pendekatan Training-of-Trainers (ToT). Kegiatan dilaksanakan selama enam bulan melalui tahapan analisis kebutuhan, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan, keterampilan pengolahan pangan, serta kemampuan inovasi produk peserta. Produk yang dihasilkan berupa siomay, baso tahu, dan pangsit goreng ikan lele memiliki tingkat penerimaan yang tinggi dan berpotensi menjadi usaha mikro berbasis rumah tangga. Program ini juga berkontribusi terhadap pemberdayaan perempuan melalui peningkatan produktivitas dan pendapatan keluarga. Selain itu, pendekatan pendampingan berbasis digital dan peran kader PKK sebagai agen lokal terbukti mendukung keberlanjutan program. Demikian, pelatihan kuliner berbasis potensi lokal dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di wilayah yang terdampak oleh pencemaran industri. Kata Kunci: diversifikasi produk pangan; ikan lele; kesejahteraan keluarga; pemberdayaan wanita tani