Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Analisa

Metacognitive Ability of Junior High School Special Intelligent Students in Solving Mathematical Problems Peni Fauziah Puadah; Elah Nurlaelah; Suhendra Suhendra
Jurnal Analisa Vol 8, No 1 (2022): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Department of Mathematics Education, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, West Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ja.v8i1.15934

Abstract

Metakognisi adalah suatu tingkatan dalam proses berpikir yang dapat digunakan siswa untuk memecahkan masalah, memiliki kesadaran terhadap proses berpikirnya dan mengontrol cara berpikirnya. Pada pembelajaran matematika di sekolah kita sering menemukan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah disebabkan  kurangnya kesadaran dan control dalam diri mereka. Kesulitan ini pun terjadi pada siswa kategori cerdas istimewa yang memiliki IQ di atas 130. Pada penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana kemampuan yang dimiliki oleh siswa cerdas istimewa dalam memecahkan masalah matematika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan di sebuah SMP di kota Bandung dengan sample sebanyak 13 orang siswa cerdas istimewa. Untuk mengukur kemampuan metakognisi, siswa diberikan soal pemecahan masalah beserta angket metakognisi. Dari hasil penilaian pemecahan masalah, siswa cerdas istimewa memperoleh nilai rata – rata sebesar 59. Secara rinci, kemampuan metakognisi siswa cerdas istimewa berdasarkan angket yang mereka isi berada pada kriteria cukup baik untuk tahap planning, monitoring dan evaluating yaitu berada di kisaran 41% - 60%, dengan presentase berturut – turut 58,46%, 52,56% 53, 64%. turut 58,46%, 52, 56% 53, 64%. Metacognition is a level in the thinking process that students can use to solve problems, have awareness of their thinking processes, and control the way they think. In learning mathematics in schools, we often find many students who have difficulty solving problems due to a lack of awareness and control within themselves. This difficulty also occurs in the special intelligent category students who have an IQ above 130. In this study, the researcher wanted to see how the abilities possessed by special intelligent students in solving mathematical problems. This research is a descriptive qualitative method. This research was conducted in a junior high school in Bandung with a sample of 13 special intelligent students. To measure metacognitive ability, students are given problem-solving questions along with a metacognition questionnaire. From the results of the problem-solving assessment, the special intelligent students got an average score of 59. In detail, the metacognitive abilities of the special intelligent students based on the questionnaires they filled were in the good criteria for the planning, monitoring, and evaluating stages, which were in the range of 41% - 60 %, with a successive percentage of 58.46%, 52.56% 53,4%.
Creative Reasoning Ability of Students Based on Intrinsic Cognitive Load Fardatil Aini Agusti; Suhendra Suhendra
Jurnal Analisa Vol 9, No 1 (2023): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Department of Mathematics Education, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, West Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ja.v9i1.26527

Abstract

Kemampuan penalaran kreatif matematis merupakan kemampuan yang penting untuk dikuasai siswa. Kenyataannya, kemampuan penalaran kreatif matematis siswa cenderung bermasalah. Salah satu hal yang diyakini berpengaruh terhadap kesulitan siswa dalam memecahkan masalah pada matematika adalah beban kognitif intrinsic yang dihadapi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan secara mendalam gambaran kemampuan penalaran kreatif siswa ditinjau berdasarkan beban kognitif intrinsic. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi.  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII di salah satu MTs Negeri di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang telah mempelajari materi bangun ruang sisi datar. Data dikumpulkan melalui teknik tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki beban kognitif intrinsic rendah dapat melakukan penalaran kreatif matematis dengan cukup konsisten. Siswa yang memiliki beban kognitif intrinsic sedang cukup bisa melakukan penalaran kreatif matematis tetapi belum konsisten. Sedangkan siswa yang memiliki beban kognitif intrinsic tinggi hampir tidak dapat melakukan penalaran kreatif matematis. Sebagai kesimpulan, diperoleh bahwa semakin rendah beban kognitif intrinsic yang dialamisiswa, semakin baik kemampuan penalaran kreatif matematis yang ia miliki. Berdasarkan kesimpulan tersebut, direkomendasikan untuk melakukan penelitian yang mengacu kepada penggunaan desain pembelajaran yang tepat untuk mengembangkan kemampuan penalaran kreatif matematis siswa pada masa yang akan datang. Mathematical creative reasoning is an essential ability for students. In reality, students' mathematical creative reasoning skills tend to be problematic. One thing that is believed to affect students' difficulties in solving problems in mathematics is the intrinsic cognitive load they face. Therefore, this study aims to describe students' creative reasoning abilities regarding intrinsic cognitive load in depth. This study uses a qualitative approach with a phenomenological design. The subjects of this study were students of class VIII from one of the state Islamic junior high schools in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra Province, which studied the materials for flat and solid geometry. Data was collected through test and interview techniques. The study results show that students with low intrinsic cognitive load can consistently perform creative mathematical reasoning. Students with moderate intrinsic cognitive load can do creative mathematical reasoning but are inconsistent. Meanwhile, students with a high intrinsic cognitive load can almost not do creative mathematical reasoning. In conclusion, it is found that the lower the intrinsic cognitive load experienced by students, the better their creative mathematical reasoning abilities will be. Based on the conclusion, research is recommended to use suitable learning designs to develop students' mathematical creative reasoning skills in the future.
Students' Pseudo-Thinking Process in Solving SPLDV Problems Based on Polya's Stages Alfi Syahraini; Nanang Priatna; Suhendra Suhendra
Jurnal Analisa Vol 9, No 1 (2023): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Department of Mathematics Education, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, West Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ja.v9i1.26543

Abstract

Proses berpikir pseudo siswa terdiri dari pseudo benar dan pseudo salah, dapat dilihat dari cara menyelesaikan soal SPLDV berdasarkan tahapan Polya. Masalah yang akan dikaji adalah proses berpikir pseudo siswa saat menyelesaikan soal SPLDV dengan tahapan Polya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses berpikir pseudo siswa dalam memecahkan masalah berdasarkan Tahapan Polya. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Kota Jambi, Provinsi Jambi, dengan subjek penelitian 2 siswa kelas 8 untuk materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Metode yang diguanakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi data, adapun instrumen penelitian menggunakan tes pemecahan masalah dan pedoman wawancara. Analisis data yang dilakukan terdiri dari reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan dari penelitian ini adalah: 1) Pada proses pemecahan masalah matematis, terdapat siswa yang menjawab benar akan tetapi saat di wawancara ternyata siswa hanya hafal rumus dan tidak memahami konsep, ini dinamakan pseudo benar. 2) Pada proses pemecahan masalah matematis, terdapat siswa yang menjawab salah tetapi setelah diwawancara siswa dapat merefleksikan sehingga mampu memperbaiki jawaban, ini dinamakan pseudo salah. Berdasarkan hasil penelitian, saat mengajar guru dapat mengetahui mana siswa yang benar-benar berpikir dan mana yang berpikir pseudo. The student's pseudo thought process consists of pseudo-true and pseudo-false, it can be seen from how to solve SPLDV problems based on Polya's stages. The problem to be studied is the pseudo thought process of students when solving SPLDV problems with Polya's stages. This study aims to describe the pseudo thought process of students in solving problems based on Polya's stages. This research was conducted at one of the Jambi City Junior High Schools, Jambi Province, with the research subject 2 students of 8th grade students for the material of the System of Linear Equations of Two Variables. The method used in this research is qualitative research. Data collection was carried out by triangulating data, while the research instruments used problem solving tests and interview guidelines. The data analysis consisted of data reduction, data display and conclucing drawing/verification. The findings of this study are: 1) In the process of solving mathematical problems, there are students who answer correctly but when interviewed it turns out that students only memorize formulas and do not understand concepts, this is called pseudo correct. 2) In the process of solving mathematical problems, there are students who answer incorrectly but after being interviewed students can reflect so that they can improve their answers, this is called pseudo-false. Based on the results of the study, when teaching teachers can find out which students are really thinking and which ones are pseudo thinking.