Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : SELONDING

KESINAMBUNGAN DAN PROSES TRANSMISI KELENTANGAN DALAM KONTEKS RITUAL MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DI KALIMANTAN TIMUR Eli Irawati; Wisma Nugraha; Timbul Haryono
SELONDING Vol 11, No 11 (2017): MARET 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.562 KB) | DOI: 10.24821/selonding.v11i11.2958

Abstract

Transmission is one of the notable issues due to its role in the continuity of local-traditional musical practices across the globe. This paper aims to explore the transmission of kelentangan music and its link with the continuity of the music.Using ethnographic approach, this study deal with kelentangan not merely as musical sound but as a results of music making and varius activities in the daily life of Benuaq people. This study shows that, firstly, transmission of knowledge and skilss od kelentangan occurred between penu’ung to penu’ung and between penu’ung and its audiences. The second, kelentangan is closely tied with the extra-musical contexts. There has been no specific learning institution in Dayak Benuaq culture to the teaching and learning of the music. The third, the transmission of kelentangan not only generates the regenerations of its musicians, but also of its audiences. Last but not least, transmission has been one of notable elemets of the continuity of music. Transmission however cannot be operating in itself. It instead closely tied to various extra-musical context and activities in the life of Benuaq people, ranging from profane to the sacred one. In other words, it is located in the ecosystem of culture of Benuaq people. The transmission of kelentangan takes place in part due Benuaq peopleare still remain conduct their culture in line with their ancestors life in the past. Thus, to maintain the continuity of kelentangan music means to maintain the ecosystem of culture of Benuaq people.  Keywords: Kelentangan, Transmission, Continuity, Contexts, Ecosystem of Culture
KANA PERANAK DALAM PERAYAAN GAWAI PADI SUKU DAYAK MUALANG DI KALIMANTAN BARAT Alexandrian Mualang Panurian; Eli Irawati; Haryanto Haryanto
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.8970

Abstract

Kana Peranak merupakan nyayian resitatif Suku Dayak Mualang yang disajikan pada saat Perayaan Gawai Padi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan kajian tekstual Kana Peranak. Untuk membedah objek ini, maka digunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil analisis dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Kana Peranak memiliki delapan dari sepuluh fungsi musik menurut Allan P. Meriam. Fungsi-fungsi tersebut antara lain Fungsi Hiburan, Fungsi Kenikmatan Estetis, Fungsi Ekspresi Emosional, Fungsi Komunikasi, Fungsi Penyelenggaraan Kesesuaian Dengan Norma-Norma Sosial, Fungsi Penopang Keseninambungan dan Stabilitas Kebudayaan, Fungsi Penopang Integrasi Sosial dan Fungsi Penggambaran Simbolik. Pada kajian tekstual, mengambil sampel Kana Peranak yang berjudul ”Limak Penyawak Sak Lempak Mrawai Awak”, terdapat tiga bagian pada bagian analisis musikal yaitu transkrip notasi, analisis motif nyayian serta analisis makna dan lirik. Adapun elemen pendukung musik meliputi pelaku, tempat, waktu, kostum dan suasana.
Gondang Mangaliat Dalam Acara Adat Pesta Gotilon Di HKBP Kirab Remaja Cileungsi Kabupaten Bogor Jawa Barat Tinambunan, Nova Oktaviana; Razak, Amir; Irawati, Eli
SELONDING Vol 20, No 2 (2024): : SEPTEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i2.12103

Abstract

Pesta Gotilon merupakan upacara panen masyarakat Batak Toba yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Pesta Gotilon adalah sebagai ungkapkan rasa syukur atas berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia. Pesta tersebut dilaksanakan di gereja HKBP Kirab Remaja Cileungsi. Dalam acara adat Pesta Gotilon terdapat tahapan prosesi adat, pada salah satu prosesi adat tersebut membawakan repertoar Gondang Mangaliat, dimana pada saat Gondang Mangaliat disajikan masyarakat gereja terlihat sangat bahagia dan bersukacita menikmati musik yang disajikan. Prosesi Gondang Mangaliat yang membawa semua warga jemaat ikut berdiri, menari dan bersukacita, ini menjadi fokus yang akan diteliti, menunjukan bahwa Gondang Mangaliat memiliki pengaruh yang besar bagi seseorang ketika mendengar repertoar Gondang Mangaliat sebagai suatu peristiwa nostalgia bagi masyarakat suku Batak. Bentuk musik yang terdapat dalam repertoar Gondang Mangaliat memiliki bentuk musik tiga bagian dan coda
Estetika Vokal Marhaban di SUmatera Utara Azmi, Nurul; Irawati, Eli; Yulaeliah, Ela
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.12839

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli.
Transformasi Penyajian Kesenian Bantengan Di Kabupaten Malang, Jawa Timur Putranto, Fikra Labibi; Irawati, Eli; Supeno, Yoga
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.15462

Abstract

Pertunjukan kesenian Bantengan di wilayah Kabupaten Malang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Kostum yang menyerupai banteng dan iringan musik tradisional gamelan yang sudah dikreasikan membuat pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat Malang. Perkembangan yang dialami kesenian Bantengan bukan sebuah kemunduran, melainkan merupakan proses kreatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dan eksistensi warisan kesenian leluhur. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnomusikologi.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bantengan merupakan seni pertunjukan yang  memadukan unsur tari, musik, beladiri, dan ritual dalam satu kesatuan pertunjukan yang kaya akan nilai-nilai budaya dan spiritual. Bentuk sajian bantengan terbagi menjadi bantengan tradisional dan bantengan kreasi. Bantengan khusunya di kabupaten Malang mengalami transformasi. Wujud dari adanya transformasi pada kesenian ini dilihat dari musik pengiring digantikan oleh musik elektronik. Kemunculan Sound Horeg mempengaruhi aspek sajian kesenian Bantengan. Hubungan dan keterkaitan Sound Horeg dengan Kesenian Bantengan menimbulkan pro dan kontra. Banteng yang digunakan pada kesenian itu sendiri kini telah berubah dengan inovasi dan kreativitas masyarakat.  Erat kaitanya Kesenian Bantengan dengan sumber daya manusia, khususnya masyarakat sekitar kelompok Kesenian banyak merasakan manfaat dari adanya kelompok Kesenian Bantengan ini, dikarenakan bisa menjadi lapangan pekerjaan.