Rina Martiara
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JOGED

PUNAN LETO: IDENTITAS KULTURAL MASYARAKAT DAYAK KENYAH Gabriella Mening; Rina Martiara; Tutik Winarti
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6973

Abstract

RINGKASAN Tulisan ini menganalisis tari Punan Leto pada masyarakat suku Dayak Kenyah khususnya di desa Ritan Baru dan Tukung Ritan dengan pendekatan sosial budaya dari teori Raymond Williams. Dalam teori Williams memiliki tiga komponen pokok yaitu, lembaga budaya (Institution), isi (content), dan efek (effect). Lembaga budaya menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang mengontrol dan bagaimana cara mengontrol itu dilakukan; komponen isi lebih fokus pada apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa yang diusahakan; dan komponen efek menanyakan konsekuensi apa yang diinginkan dari proses budaya tersebut. Ketiga aspek ini dapat dipakai untuk memahami bagaimana tari Punan Leto menjadi identitas budaya Dayak Kenyah.ABSTRACT This research is discusses how art, especially dance, becomes a cultural identity in the Dayak Kenyah community, especially those in the villages of Ritan Baru and Tukung Ritan. Punan Leto dance is a traditional dance in the Dayak Kenyah community. This study uses a socio-cultural approach with Raymond Williams’ theory to formulate the problem, namely: Who maintains? What are the aspects that make up identity? What to expect when it comes to identity. The purpose of this study is to describe how the Punan Leto dance becomes the cultural identity of the Dayak Kenyah community.
FENOMENA PERKEMBANGAN TARI NIRBAYA KARYA SETYASTUTI Kurnia Rahmadhani; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6349

Abstract

ABSTRAKTari Nirbaya karya Setyastuti, merupakan sebuah karya tari yang terinspirasi dari ‘edan-edanan’. ‘Edan-edanan’ merupakan rangkaian upacara yang harus ada saat ritual upacara temanten agung di Kraton Yogyakarta. Proses terciptanya tari Nirbaya diawali saat Setyastuti melihat secara langsung rangkaian upacara perkawinan yaitu ‘edan-edanan’ dalam prosesi pernikahan GBPH Cokroningrat, yaitu putra Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Keberadaan ‘edan-edanan’ dalam upacara temanten agung Kraton Yogyakarta merupakan sebuah ritual adat yang berfungsi sebagai penolak bala. Figur yang unik yang bertugas sebagai cucuk lampah dan diperankan oleh abdi dalem khusus yang dipercayai dapat mengusir hal-hal gaib yang dapat menganggu acara. Nirbaya dalam bahasa Jawa yang artinya ora ana alangan; ora ana bebaya (tidak ada halangan; tidak ada bahaya), sehingga kata Nirbaya dapat diterjemahkan sebagai sesuatu untuk menolak bahaya atau menghalau dari yang sifatnya negatif. Ditarikan oleh sepasang penari laki-laki dan perempuan, dengan tidak melupakan esensi gerak tari gaya Yogyakarta yang dirancang dengan nuansa komikal yang diwarnai gerak-gerak improvisasi.Terinspirasi dari tradisi itulah, tari Nirbaya diciptakan untuk mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka Festival Tari Nusantara pada tanggal 31 Desember 1989. Dalam perspektif fenomenologi penelitian ini menampakkan sebuah fenomena kondisi faktual di masyarakat, setelah tari Nirbaya dipentaskan di Jakarta menampakkan tari Nirbaya tetap difungsikan untuk keperluan upacara pernikahan dan berkembang sampai sekarang. Dalam berbagai peristiwa tersebut menampakkan unsur gerak improvisasi, menyebabkan terjadinya perubahan sesuai dengan kreativitas penarinya. Perubahan yang mencolok adalah pada gerak improvisasi, pelaku, pola lantai, penari, rias dan busana sehingga bentuk penyajiannya mengalami perubahan.ABSTRACTNirbaya dance by Setyastuti, is a new dance work inspired by 'edan-edanan'. 'edan-edanan' is a series of ceremonies that must be present during the ritual of the temanten agung ceremony, especially at the Yogyakarta Palace. The creation process of the Nirbaya dance began when Setyastuti saw firsthand the series of wedding ceremonies, namely 'edan-edanan' in the wedding procession of GBPH Cokroningrat, the son of Sri Sultan Hamengkubuwana IX. The existence of 'edan-edanan’ in the ceremony of temanten agung Kraton Yogyakarta is a traditional ritual that functions as a repellent to disaster. The unique figure who serves as a cucuk lampah and is played by the abdi dalem, specifically becomes the figure of a lunatic who is often called 'edan-edanan' '. This figure portrays a figure as ‘edan-edanan’ just acting, but not crazy. It is the form of a madman that is believed to be able to ward off magical things that can interfere with the event. According to Setyastuti, 'edan-edanan' is a unique figure, when a dance is made it looks interesting without forgetting the nuances of classical dance in Yogyakarta style and the nuances of the rituals of the great temanten ritual in the Yogyakarta Palace. Inspired by this tradition, Setyastuti finally created the Nirbaya dance in the framework of the Festival Tari Nusantara in Jakarta representing the Special Region of Yogyakarta on December 31, 1989. Nirbaya is in Javanese which means ora ana alangan; ora ana bebaya (no obstruction; no danger), so that the word Nirbaya can be translated as something to reject danger or drive away from negative things. Danced by a pair of male and female dancers, not forgetting the essence of Yogyakarta-style dance movements designed with comical nuances tinged with improvised movements. In a phenomenological perspective, this research shows a phenomenon of factual conditions in society, after the Nirbaya dance was staged in Jakarta, it shows that the Nirbaya dance is still used for the purposes of wedding ceremonies and is developing until now. In various events, the elements of improvisational motion are seen, causing changes to occur according to the creativity of the dancers. The striking changes are in the improvisation movement, actors, floor patterns, dancers, make-up and clothing so that the form of presentation changes.
Tari Gandrung Terob Sebagai Identitas Kultural Masyarakat Using Banyuwangi Mrs. RINA MARTIARA dan ARIE YULIA WIJAYA
Joged Vol 3, No 1 (2012): MEI 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v3i1.57

Abstract

Tari Gandrung Terob sebagai Identitas Kultural Masyarakat Using Banyuwangi. Gandrung Terobmerupakan objek yang dikaji guna mengupas pola pikir masyarakat Using Banyuwangi. Sudut pandang yangdipakai adalah Strukturalisme Levi-Strauss. Struktur merupakan susunan bagian-bagian dari suatu sistemyang saling terkait. Segala sesuatu yang memiliki bentuk diyakini memiliki struktur. Struktur kalimat dalambahasa yang terdiri atas susunan huruf, fonem, dan kata, tidak akan memiliki arti apabila tidak terdapatrelasi-relasi yang menghubungkannya untuk mendapatkan struktur yang bermakna. Keberadaan tari Gandrung Terob dilihat secara menyeluruh, tidak saja sebatas teks dan keterkaitan antarteks saja, melainkan pada konteks sosial budaya masyarakatnya. Melalui cara pandang holistik ini akanditemukan pola pikir masyarakat Using sebagai pemilik tari Gandrung Terob. Hal yang paling mendasardalam melihat pola pikir adalah melihat konsep, sehingga Gandrung Terob tidak hanya dilihat sebagaiartefak semata melainkan sebagai pandangan hidup atau ideologi masyarakat Using sebagai penyangganya. Key Words: Gandrung Terob, Using, Identitas Kultural
ANALISIS KOREOGRAFI TARI SETABEK DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN Widya Yuli Sartika; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11276

Abstract

RINGKASANTari Setabek merupakan tari penyambutan tamu yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Tari ini ditarikan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 1 orang penari utama (pembawa tepak), 2 orang penari dayang penabur bunga, 4 orang penari pengiring, 2 orang pembawa tombak (laki-laki), dan 1 orang pembawa payung (laki-laki). Untuk menganalisis, dipakai pendekatan koreografi. Analisis pendekatan koreografi meliputi aspek bentuk, teknik, dan isi serta aspek tenaga, ruang dan waktu. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pemahaman analisis koreografi terdiri dari prinsip-prinsip kebentukan yang meliputi kebentukan, variasi, repetisi, transisi, rangkaian, dan klimaks. Struktur tari Setabek terdiri dari 3 bagian berdasarkan pola iringan, pola gerak, dan pola lantai, yaitu Jebo Maro (pembuka), Bedundai (inti), dan Karang Buri (penutup). Secara koreografis dapat disimpulkan bahwa ragam gerak yang spesifik pada tari Setabek adalah motif tabek dan motif lambaian, karena motif tersebut sering muncul atau dilakukan berulang kali dan juga sebagai motif penghubung antara gerakan yang satu dengan yang lainnya. Dari analisis struktur, tari Setabek memiliki 6 kalimat gerak dan 18 frase. Jumlah keseluruhan motif yang ada pada tari Setabek yaitu 128 motif yang terdiri atas 11 jenis motif dari 123 jumlah motif putri dan 5 jenis motif dari 5 jumlah motif laki-laki dengan 10 pola lantai yang digunakan. Dari struktur ini terlihat secara kebentukan bahwa tari Setabek merupakan tari yang bertemakan penyambutan tamu yang bisa dilihat dari gerakannya yang mencirikan penghormatan. Secara teknik gerak-gerak dalam tari Setabek ini memiliki kecendrungan bergerak sejajar dengan torso dan gerakan yang dilakukan juga tidak terlalu luas atau lebar, kebanyakan gerak yang dilakukan bergerak secara lemah lembut dan mengayun, serta hal tersebut juga didukung dengan musiknya yang sangat lembut dan mengalir. Secara isi tari Setabek merealisasikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Musi Banyuasin, hal tersebut terlihat dari segi kostum, properti, dan lain-lain.ABSTRACTThis study analyzes the choreography of the Setabek dance in Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. Setabek dance is a welcoming dance that is characteristic of Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. This dance is danced by 10 dancers consisting of 1 main dancer (slap bearer), 2 flower-sowing dayang dancers, 4 accompaniment dancers, 2 spear bearers (male), and 1 umbrella carrier (male). To analyze, used a choreographic approach. The analysis of the choreographic approach includes aspects of form, technique, and content as well as aspects of energy, space and time. The three concepts are a unified whole. The understanding of choreographic analysis consists of the principles of formation which include formation, variation, repetition, transition, sequence, and climax. The structure of the Setabek dance consists of 3 parts based on the accompaniment pattern, movement pattern, and floor pattern, namely Jebo Maro (opener), Bedundai (core), and Karang Buri (cover). Choreographically, it can be concluded that the specific range of motion in the Setabek dance is the tabek motif and the waving motif, because these motifs often appear or are performed repeatedly and also serve as a connecting motif between one movement and another. From the structural analysis, the Setabek dance has 6 sentences of movement and 18 phrases. The total number of motifs in the Setabek dance is 128 motifs consisting of 11 types of motifs from 123 female motifs and 5 types of motifs from 5 male motifs with 10 floor patterns used. From this structure, it can be seen from the form that the Setabek dance is a dance with the theme of welcoming guests which can be seen from its movements that characterize respect. Technically the movements in this Setabek dance have a tendency to move parallel to the torso and the movements performed are also not too broad or wide, most of the movements performed are gentle and swaying, and this is also supported by the music which is very soft and flowing. The content of the Setabek dance realizes the values that exist in the Musi Banyuasin community, this can be seen in terms of costumes, properties, and others.
Analisis Biosemiotik dan Etnokoreologi dalam Zapin Selatpanjang pada Motif Langkah Asas Jalan Irawan, Pebri; Martiara, Rina; Setyastuti, Setyastuti
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12741

Abstract

RINGKASANPenelitian ini diawali dengan perspektif biosemiotik karena keterkaitan budaya leluhur penulis dengan tanda alam yang kuat dan ekspresi budaya yang muncul dari alam. Kebudayaan tradisional dibangun dengan mempertimbangkan kondisi alam serta adaptasi atasnya. Pengetahuan terarsip dalam kesenian tradisi termasuk pada budaya gerak yang dalam analisis ini adalah tarian Zapin Selatpanjang pada motif langkah Asas Jalan. Motif tersebut kemudian dianalisis dengan teori biosemiotik untuk memahami makna sinyal alam dalam gerakan. Etnokoreologi juga digunakan untuk mengidentifikasi konteks budaya di balik gerakan tarian. Studi kasus melihat adaptasi manusia terhadap alam melalui motif tari Zapin Selatpanjang, yang menghubungkan masyarakat dengan laut. Biosemiotika menyoroti pembentukan makna dalam interaksi organisme dengan lingkungan. Tarian Zapin Selatpanjang merefleksikan adaptasi tubuh masyarakat terhadap lingkungan geografis uniknya. Konsep biosemiotik, koreologi, dan etnokoreologi digunakan untuk menganalisis integrasi pengetahuan lokal tentang alam dalam gerakan tarian tradisional sebagai arsip pengetahuan alam.ABSTRACTThis research begins with a biosemiotic perspective due to the strong connection of the author's ancestral culture with natural signs and cultural expressions emerging from nature. Traditional culture is constructed by considering natural conditions and adaptations to them. Archived knowledge in traditional arts, including in the realm of movement culture analyzed in this study, focuses on the Zapin Selatpanjang dance with its "Asas Jalan" (Basic Steps) motif. This motif is then analyzed using biosemiotic theory to understand the meaning of natural signals in movement. Ethnochoreology is also employed to identify the cultural context behind dance movements. Case studies examine human adaptation to nature through motifs in the Zapin Selatpanjang dance, which connects communities with the sea. Biosemiotics highlights the formation of meaning in organism-environment interactions. The Zapin Selatpanjang dance reflects the community's bodily adaptation to its unique geographic environment. Concepts of biosemiotics, choreology, and ethnochoreology are used to analyze the integration of local knowledge about nature in traditional dance movements as a repository of environmental knowledge.