Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN ONGGOK DALAM PEMBUATAN TEMPE (Dilaksanakan dalam Rangka Praktek Mahasiswa Semester VII) Ait Maryani
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 1 No 2 (2006)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.591 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v1i2.208

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk olahan bahan nabati (kedelai) yang bernilai gizitinggi dan mudah diterima oleh masyarakat. Namun bagi masyarakat pedesaan yang tinggal didaerah-daerah minus, harga tempe kedelai masih sulit di jangkau. Harga tempe kedelai antaralain ditentukan oleh harga dan jumlah kedelai yang digunakan. Untuk mengatasi masalah ini,maka tempe dibuat dengan mengurangi jumlah kedelai sedemikian rupa dan mencampurnyadengan bahan-bahan lain yang lebih murah. Salah satu bahan yang dapat ditambahkan adalahonggok. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh penambahan onggok terhadap mututempe dan menentukan jumlah (persentase onggok) yang dapat ditambahkan dalam pembuatantempe sehingga mutu tempe tetap dapat diterima konsumen. Penelitian ini dilakukan di JurusanPenyuluhan Pertanian STPP Bogor selama tiga bulan,yaitu dari bulan November 2002 sampaiJanuari 2003. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan onggok (0, 25, 50, 75 dan 100%)dan jenis pembungkus (kantong plastik dan daun pisang). Pola penelitian disusun denganmenggunakan rancangan faktorial (5 X 2) dengan 2 ulangan. Untuk mengetahui respon tempeterhadap perlakukan dilakukan analisis sidik ragam dan uji wilayah berganda Duncan.Pengamatan dilakukan terhadap total protein, sifat organoleptik tempe segar dan tempe goreng.Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin besar onggok yang ditambahkan maka totalprotein semakin menurun. Penambahan 25% onggok menghasilkan tempe yang kandungan totalproteinnya lebih baik dibandingkan dengan penambahan onggok yang lebih besar. Penambahan25% onggok menghasilkan tempe campuran yang mempunyai mutu relatif mendekati mututempe murni, dengan melihat sifat-sifat organoleptik tempe segar (tekstur, bau dan sifat irisan)dan sifat-sifat organoleptik tempe goreng (rasa dan bau).
PEMASYARAKATAN PANGAN NON BERAS PADA MASYARAKAT LINGKAR KAMPUS DI KELURAHAN PASIR KUDA DAN PASIR JAYA KECAMATAN BOGOR BARAT Wida Pradiana; Ida Nuraeni; Ait Maryani
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.466 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v3i1.242

Abstract

Di Indonesia, padi merupakan bahan makanan pokok yang mewarnai perekonomian diPedesaan. Kenaikan permintaan akan beras, dipacu oleh pertumbuhan penduduk tanpadiimbangi oleh perluasan areal yang memadai, telah mendorong dicanangkannya berbagaiprogram penganekaragaman pangan non beras sebagai pengganti bahan makanan pokok.Jagung dan ubi kayu merupakan tanaman pangan yang dapat menggantikan beras sebagaibahan makanan pokok. Jagung yang baru panen dalam bentuk butiran mengandung 307 kal per100 gr bahan, sedangkan yang sudah disimpan 355 kal, sementara ubi kayu yang berwarnaputih mengandung 146 kalori dan 157 kal untuk setiap 100 gr bahan, maka kedua jenis bahantersebut dapat menjadi subtitusi/pengganti beras yang mengandung energi 360 kal per 100 grbahannya. Hanya untuk penggunaan ubi kayu diperlukan ± 2 kali lipat.Tujuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana proseskomunikasi inovasi tersebut berlangsung dan bagaimana respon masyarakat terhadap inovasiyang disebarluaskan, sehingga dapat menimbulkan beberapa kecendrungan dalam melakukanpenerimaan terhadap inovasi, melalui penelusuran beberapa komponen komunikasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Respon masyarakat teradap penyebar-luasan(diseminasi) informasi pangan non beras cukup baik, hal ini dibuktikan dari perhatianmasyarakat terhadap kegiatan ini yaitu tingkat kehadiran (100%), antusias bertanya (76,92%),dan mencicipi pangan yang disajikan (100%). Namun jika ditinjau dari minat dan keinginanmasyarakat untuk menggantikan nasi sebagai bahan makanan pokok, kebanyakan masyarakat(86.66%) belum bisa menerimanya, 2) Saluran yang sangat efektif dalam penyebarluasaninformasi ini adalah saluran interpersonal baik dengan kunjungan rumah (87%) maupunmelalui media (70%), 3). efek komunikasi yang ditimbulkan dari pemasyarakatan pangan nonberas adalah sebanyak 4 orang responden mau menerima dan melaksanakan, namun sebanyak26 orang menolak menggantikan makanan pokoknya dengan pangan non beras. sedangkan 28orang responden mau menerima informasi mengenai hal ini tetapi tidak untukmelaksanakannya.
KONDISI TENAGA PENYULUH SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN DI KABUPATEN BANDUNG Kusmiyati Kusmiyati; Ait Maryani; Nawang Wulan Widyastuti; Dedy Kusnadi; Purwanto Purwanto; Ida Nuraeni
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v3i2.250

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tenaga penyuluh yang ada setelahberlakunya UU SP3K No. 16 tahun 2006 di Kabupaten Bandung dan mengetahui kualitaspenyuluh di Kabupaten Bandung. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan terhitung mulai1 September sampai 31 Oktober 2008 di Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat. Metodepenelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah jumlahpenyuluh pertanian di Kabupaten Bandung sebanyak 206 orang yang bertugas pada 257 desa.Untuk memenuhi satu desa satu penyuluh diperlukan tambahan penyuluh sebanyak 41 orang.Berdasarkan status penyuluh, maka Penyuluh PNS sebanyak 68,4% dan sisanya sebanyak31,6% adalah THL TBPP. Penyuluh PNS yang berpendidikan S1/D4 sebanyak 29,79%,sedangkan THL TBPP yang berpendidikan S1/D4 sebanyak 49,23%. Penyuluh PNS yangtermasuk jenjang penyuluh terampil sebanyak 58,16% sedangkan penyuluh ahli sebanyak41,85%.