Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERMASALAHAN PELAKSANAAN BADAL HAJI DI INDONESIA nasikhin; Nasikhin; Ismutik; Ulul Albab; Baiti Al Ami
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 7 No 2 (2021): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v7i2.40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai pelaksanaan badal haji dan problematikanya di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan, diperoleh data penelitian bahwa mekanisme pelaksanaan haji badal dibagi dalam beberapa tahapan meliputi pendataan jumlah jamaah yang akan dibadalkan, sumber dana pebiayaan, rekrutmen petugas pelaksana haji, verifikasi penentuan jamaah haji yang di badalkan. Dalam memandang hukum badal haji, ada perbedaan pendapat dalam kubu ulama dengan menggunakan dasar hukum masing-masing. Ulama Maliki mengatakan makruh menyewa orang melaksanakan ibadah haji, karena hanya upah mengajarkan Alquran yang diperbolehkan dalam masalah ini. Mazhab Syafi'i mengatakan boleh menghajikan orang lain jika mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena tua atau sakit sehingga tidak sanggup untuk bisa duduk di atas kendaraan. Ulama Haanfi mengatakan orang yang sakit atau kondisi badanya tidak memungkinkan melaksanakan ibadah haji namun mempunyai harta atau biaya untuk haji, maka ia wajib membayar orang lain untukmenghajikannya. Sedangkan problematika badal haji dapat dibagi kedalam beberapa sub bahasan yang belum terpecahkan hingga kini seperti problematika jemaah yang di badal hajikan, problematika pendataan petugas pelaksana haji, dan problematika akad dalam badal haji.
PENDIDIKAN AGAMA PERSPEKTIF TEOLOGI ISLAM DAN BARAT nasikhin
AS-SALAM Vol 11 No 1 (2022): TRANSFORMASI PENDIDIKAN DAN HUKUM ISLAM PASCA PANDEMI
Publisher : LPPM STAI DARUSSALAM LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51226/assalam.v11i1.347

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan Agama Islam dalam perspektif teologis Islam dan dunia Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melakukan eksplorasi informasi terkait tema sentral teologi Pendidikan Agama Islam. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh data penelitian bahwa pendidikan model barat tidak memiliki ruang konsepsi kehendak Tuhan, keridhaan Tuhan, konsepsi penghambaan manusia pada Tuhan, apalagi konsepsi tentang kehidupan pasca dunia. Pandangan Barat lebih mengena pada kepentingan humancentris tanpa berusaha untuk mengaitkannya dengan intervensi Realitas Tertinggi. Hal ini menyebabkan pendidikan mengantarkan manusia menjadi materalistik, hedonistik, pragmatis, dan terkadang jatuh pada lembah ateistik. Akibatnya eksistensi kejiwaan, credo, dan spiritual tidak terjamah sehingga manusia menjadi risau, resah, dan gelisah akibat pemujaan atas hasil pikir manusia. Sedang pendidikan dalam sudut pandang Islam terutama yang ditopang pemahaman teologis, memberikan pencerahan bagi permasalahan pendidikan. Islam bukan berarti tidak memandang secara optimal kemampuan manusia, namun dibalik semua itu ketercapaian kemajuan manusia sebagai hasil proses pendidikan tetap berada pada koridor relasi dan keterlibatan Tuhan.
Character and Family Violence Prevention Education in Madrasah Tsanawiyah: Anti-Parricide Learning Model Aang Kunaepi; Akhmad Yusuf Isnan Setiawan; Nasikhin; Abdulraya Panaemalae
Edukasia Islamika : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2025): Edukasia Islamika - Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jei.v10i2.12478

Abstract

This study aims to analyze the potential, strategies, and implications of anti-parricide education in Islamic Junior High Schools (MTs). Using a qualitative approach with a phenomenological design and the Miles and Huberman data analysis model, the study was conducted at MTs Hasyim Asy'ari Bawang, Batang, through 24-hour observations, in-depth interviews, and document analysis such as syllabi, guidance and counseling modules, and student behavior records. The main findings indicate that the potential for parricide is triggered by three indicators: student aggressive behavior, untreated mental health disorders, and unstable or violent family environments. The school responded by integrating character values ​​into the curriculum, strengthening guidance and counseling services, and creating a religious madrasa environment. This aligns with the teachings of Al-Ghazali's theory of moral education. However, challenges such as domestic violence, limited teacher competency, and the negative influence of social media hamper the effectiveness of these strategies. The theoretical contribution of this research lies in the development of a contextual anti-parricide education model based on madrasahs, while its practical contribution is in the form of policy recommendations for strengthening character education and early prevention systems involving synergy between schools, families, and communities.