Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Interface Bimetal Aluminium-Tembaga yang Dibuat dengan Pengecoran Sentrifugal Variasi Kecepatan Putar Nugroho Santoso; Bambang Suharnadi
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30588/jeemm.v4i2.772

Abstract

Bimetallic is a combination of two metals that forms a metallurgical bond. Bimetallic made by centrifugal casting has not been developed much, so there is no recommendation for optimum mould rotational speed to produce products as needed. The research was conducted to determine the rotation of the mould in centrifugal casting, resulting in a unified interface with a strong metallurgical bond. The materials used for the manufacture of bimetallic are aluminum and copper. Aluminum is melted at a temperature of 700ºC, while copper is melted at a temperature of 1,150ºC. The metallic liquid was poured on a rotating mould with a filling speed of 0.20 kg/s. The variations in the rotational speed of the mould when pouring are 350, 400, and 450 rpm. The pouring of metal liquids is carried out alternately. First, aluminum is poured into the mould. Then after the aluminum temperature has dropped to 350ºC, copper is poured into the mould to form aluminum-copper bimetallic in the form of a bushing. The results showed that the width of the interface increases with the increased rotation of the mould during the pouring process. The hardness and wear resistance of interfaces are increased compared to base metals in aluminum and copper. The increase in hardness and wear resistance is due to the formation of AlCu, Al2Cu and Al4Cu9 compounds in the interface area.Bimetal adalah gabungan dua logam yang membentuk ikatan metalurgi. Bimetal yang dibuat dengan pengecoran sentrifugal belum banyak dikembangkan, sehingga belum ada rekomendasi kecepatan putar cetakan yang optimum untuk menghasilkan produk sesuai kebutuhan. Penelitian dilakukan untuk menentukan putaran cetakan pada pengecoran sentrifugal, sehingga dihasilkan penyatuan interface dengan ikatan metalurgi yang kuat. Bahan yang digunakan untuk pembuatan bimetal adalah aluminium dan tembaga. Aluminium dicairkan pada temperatur 700ºC, sedangkan tembaga dicairkan pada temperatur 1.150ºC. Cairan logam dituang pada cetakan yang berputar dengan kecepatan pengisian 0,20 kg/s. Variasi kecepatan putaran cetakan saat penuangan adalah 350, 400, dan 450 rpm. Penuangan cairan logam dilakukan secara bergantian. Pertama aluminium dituang pada cetakan, kemudian setelah temperatur aluminium turun hingga 350ºC, tembaga dituang ke dalam cetakan sehingga terbentuk bimetal aluminium-tembaga yang berbentuk bushing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebar interface meningkat seiring peningkatan putaran cetakan saat proses penuangan. Kekerasan dan ketahanan aus interface meningkat dibanding logam dasar aluminium dan tembaga. Peningkatan kekerasan dan ketahanan aus disebabkan terbentuknya senyawa AlCu, Al2Cu dan Al4Cu9 pada daerah interface.
Aplikasi Manajemen Persediaan Spare Parts untuk Periodic Maintenance Alat Berat menggunakan Metode Min-Max Stock di PT Bima Semarang Ahmad Ali Hafiz; Widia - Setiawan; Nugroho Santoso; Braam Delfian
Jurnal Material Teknologi Proses Vol 3, No 1: Mei 2026
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmtp.118627

Abstract

Keberhasilan operasional perusahaan sangat bergantung pada efektivitas manajemen persediaan, terutama dalam pengadaan barang dan jasa. PT. BIMA Semarang, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang engineering services, menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan spare parts untuk periodic maintenance reach stacker Kalmar DRU 400-450. Selama periode magang empat bulan, ditemukan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan spare parts, dengan tingkat pemenuhan hanya 95,7%. Kekurangan ini berdampak pada potensi terganggunya operasional dan efisiensi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas manajemen persediaan dengan merancang aplikasi manajemen persediaan dengan menerapkan metode min-max stock guna menentukan titik minimal, safety stock, reorder point, dan titik maksimal persediaan. Penelitian ini menghasilkan aplikasi yang mampu menentukan pengendalian persediaan spare parts dengan menggunakan metode min-max stock, yaitu bisa menentukan nilai maksimum dari sebuah persediaan, nilai reorder point yang berfungsi untuk menentukan kapan dilakukannya pemesanan ulang, dan nilai safety stock yang berfungsi sebagai cadangan spare parts. Dengan adanya aplikasi ini ketersediaan spare parts dapat mencapai 100%, mengurangi risiko stockout, serta meningkatkan efisiensi pemeliharaan dan kepuasan pelanggan.
Perancangan Welding Jig untuk Frame Becak Kayuh Listrik Pariwisata (BEKALISTA) Yogyakarta Wenang Raya Pinasthika; Braam Delfian; Nugroho Santoso; Widia Setiawan
Jurnal Material Teknologi Proses Vol 3, No 1: Mei 2026
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmtp.119756

Abstract

Perkembangan teknologi transportasi ramah lingkungan mendorong pengembangan kendaraan listrik ringan untuk sektor pariwisata, salah satunya Becak Kayuh Listrik Pariwisata (BEKALISTA). Proses pengelasan frame kendaraan memerlukan ketepatan posisi dan kestabilan benda kerja agar kualitas sambungan las tetap baik. Penelitian ini bertujuan merancang welding jig untuk frame BEKALISTA menggunakan perangkat lunak CAD serta melakukan analisis kekuatan struktur untuk memastikan keamanan dan kestabilannya selama proses pengelasan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode perancangan dengan tahapan observasi, studi literatur, pengumpulan data dimensi frame, pembuatan model tiga dimensi menggunakan SolidWorks, serta analisis struktur. Analisis dilakukan terhadap parameter tegangan, deformasi, dan safety factor pada jig frame depan, frame belakang, serta frame ornament. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain welding jig berhasil dibuat sesuai geometri frame BEKALISTA dan mampu menahan pembebanan yang diberikan dengan aman. Nilai tegangan masih berada di bawah batas luluh material, deformasi relatif kecil, serta safety factor berada di atas batas aman penggunaan. Welding jig yang dirancang dinyatakan layak digunakan untuk mendukung proses pengelasan agar lebih presisi, stabil, dan konsisten.
Analisis Existing Jig Assembly Base Stator dengan Metode FEA Yohanes Baptista Wahyu Kuncara Jati Witaka; Benidiktus Tulung Prayoga; Widia Setiawan; Nugroho Santoso; Harjono Harjono
Jurnal Material Teknologi Proses Vol 3, No 1: Mei 2026
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmtp.120831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi existing jig assembly pada proses pemasangan seal Base Stator K3V menggunakan metode Finite Element Analysis (FEA) sebagai dasar evaluasi kinerja struktur sebelum dilakukan pengembangan desain. Analisis dilakukan untuk mengetahui distribusi tegangan, deformasi, dan faktor keamanan (safety factor) pada komponen jig saat menerima beban kerja aktual dari sistem pneumatik. Metodologi penelitian diawali dengan identifikasi spesifikasi dan geometri jig assembly existing, dilanjutkan dengan pembuatan model tiga dimensi menggunakan perangkat lunak CAD. Simulasi numerik dilakukan menggunakan ANSYS Workbench dengan material utama komponen jig berupa baja karbon struktural. Kondisi pembebanan ditentukan berdasarkan gaya yang dihasilkan oleh silinder pneumatik dengan tekanan kerja 4 bar, sedangkan kondisi batas (boundary condition) disesuaikan dengan kondisi aktual pemasangan jig pada mesin assembly. Parameter keluaran yang dianalisis meliputi total deformation, equivalent stress (Von Mises stress), dan safety factor. Hasil simulasi menunjukkan bahwa distribusi tegangan terbesar terjadi pada area yang menerima kontak langsung dengan gaya pembebanan dan pada bagian yang memiliki perubahan geometri. Nilai deformasi yang terjadi masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak memengaruhi fungsi jig selama proses assembly. Selain itu, nilai tegangan maksimum yang diperoleh masih berada di bawah batas luluh material yang digunakan, sehingga menghasilkan nilai safety factor yang memenuhi kriteria desain aman untuk operasi produksi. Berdasarkan hasil analisis FEA, dapat disimpulkan bahwa existing jig assembly Base Stator memiliki kekuatan struktur yang memadai untuk menahan beban kerja selama proses assembly. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam evaluasi dan pengembangan desain jig pada tahap perbaikan berikutnya guna meningkatkan efektivitas dan keandalan proses produksi.
Analisis Kerusakan Swing Machinery Excavator Kelas 125 Ton menggunakan Metode Root Cause Analysis Abednego Sumarsono; Widia Setiawan; Nugroho Santoso; Harjono Harjono; Braam Delfian
Jurnal Material Teknologi Proses Vol 3, No 1: Mei 2026
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmtp.122593

Abstract

This study investigates the premature failure of swing machinery in a post-rebuild 125-ton excavator using a Root Cause Analysis (RCA) approach. The unit operated for only 3,642 service hours (HM), far below the fleet average of 18,872 HM. Three analytical methods were applied: Ishikawa Diagram, 5 Whys, and Fault Tree Analysis (FTA). Findings reveal that the failure originated from three interacting factors. First, swing bearing clearance was installed at 3.4 mm, exceeding the allowable range of 0.5–2 mm. Second, the excessive clearance caused misalignment between the pinion shaft gear and swing circle, producing edge loading and uneven load distribution across the contact surface. Third, repeated jack swing actions at the same position without component disassembly further concentrated the load. The progressive interaction of these factors triggered concentrated chipping, shaft deflection, and ultimately torsional fatigue fracture. Lubrication and contamination were eliminated as contributing causes, as oil analysis program data confirmed normal conditions throughout the operating period. This study highlights the critical importance of strict adherence to installation standards and proper operational response procedures in preventing premature failure of post-rebuild components.