Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Bahan Organik Dan Jamur Mikoriza Arbuskula Terhadap Harkat Tanah Pasir Pantai Selatan Yogyakarta Yang Menjadi Medium Pertumbuhan Jagung (Zea Mays) Akhsin Zulkoni; Dewi Rahyuni; Nasirudin Nasirudin
Media Ilmiah Teknik Lingkungan (MITL) Vol 5 No 1 (2020): Media Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.226 KB) | DOI: 10.33084/mitl.v5i1.1348

Abstract

Keberadaan tanah pasir pantai menyebabkan proses evaporasi dan degradasi oleh mikroba berlangsung cepat dan tanah pasir pantai miskin unsur hara. Lahan pasir pantai menjadi alternatif lahan pertanian, Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan organik dan inokulasi Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) terhadap harkat tanah pasir pantai. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Faktor diuji adalah takaran bahan organic dari 0, 20, 40, dan 60 ton/ha; dan inokulasi JMA yaitu 0 dan 150 g/lubang tanam. Parameter yang dianalisis adalah pH (H2O), C organik, N total, C/N, P dan K tersedia. Data hasil penelitian dianalisis secara diskriptif dengan membandingkan Harkat sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah (2009), dan dianalisis menggunakan Anova α 1 dan 5%. Bila ada pengaruh yang nyata, dilanjutkan uji BNT α 5%. Penambahan bahan organik ke dalam tanah mampu meningkatkan harkat sifat kimia tanah setelah masa inkubasi. Sedangkan harkat sifat kimia tanah setelah masa tanam jagung yang bermikoriza menurunkan dibanding dengan jagung tanpa JMA. Berdasar analisis keragaman, ternyata takaran bahan organik sebanyak 60 ton/ha merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan kadar C organik, N total, P dan K tersedia serta KTK pada masa inkubasi. Setelah masa tanam jagung, C organik dan N total tertinggi tejadi pada tanah tanpa mikoriza dengan tambahan bahan organik 40 ton/ha, sedang untuk P dan K tersedia serta KTK terbaik pada tanah bermikoriza dengan tambahan bahan organik 40 ton/ha.
PENGARUH MIKROORGANISME LOKAL (MOL) TERHADAP KUALITAS KOMPOS DAUN JATI (TECTONA GRANDIS) KERING Dewi Rahyuni Rahyuni; Lusiana Lusiana; Sri Yuniyarti; Akhsin Zulkoni
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 23 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang hadir dari bahan-bahan alami sebagai medium pertumbuhannya, yang dapat menjadi bioaktivator. Buah nanas, buah tomat dan nasi basi termasuk bahan-bahan yang dapat dibuat MOL. Daun jati kering yang gugur di musim kemarau bisa dimanfaatkan menjadi kompos. Penambahan MOL akan meningkatkan laju dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh MOL yang terbuat dari buah nanas, buah tomat dan nasi basi terhadap kualitas kompos daun jati kering. Penelitian bersifat eksperimental yang dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 (tiga) ulangan. Faktor yang diuji adalah jenis MOL, meliputi MOL buah nanas, MOL buah tomat, dan MOL nasi basi. Parameter yang diukur yakni kualitas kompos daun jati kering (C organik, N total, C/N rasio, P tersdia dan K tersedia). Data dianalisis menggunakan Anova α 5%. Bila ada pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil α 5%. Berdasar analisis statistik, menunjukkan bahwa jenis MOL berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas kompos daun jati kering. Perlakuan MOL dalam proses pengomposan dari yang terbaik, berturut-turut adalah MOL nasi basi, MOL buah tomat dan terakhir MOL buah nanas. Seluruh kualitas kompos daun jati kering yang terukur telah memenuhi SNI19-7030-2004.
PEMANGKASAN AKAR DAN INOKULASI JMA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN FITOREMEDIASI TANAH TERCEMAR MERKURI AKIBAT PENAMBANGAN EMAS OLEH TANAMAN JATI DI KOKAP KULON PROGO YOGYAKARTA (Under ground root pruning and JMA inoculation to improve phytoremediation of soil contaminated with mercury due to gold mining by Tectona grandis in Kokap Kulonprogo Yogyakarta) Akhsin Zulkoni; Dewi Rahyuni; Nasirudin Nasirudin
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 24, No 1 (2017): Januari
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23071

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan akar (underground root pruning/URP) terhadap fitoremediasi tanah yang tercemar merkuri di Kokap Kulon Progo Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah URP, yaitu dengan dan tanpa URP. Faktor kedua ialah takaran Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA), meliputi 0; 50; 100, dan 150 g/pot. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemangkasan akar serta inokulasi JMA ke dalam tanah sisa olahan penambangan emas telah berhasil memacu proses fitoremediasi melalui perluasan rizosfer. Serapan merkuri oleh tanaman Jati yang menjalani pemangkasan akar serta inokulasi JMA sebanyak 100% paling tinggi dibanding perlakuan lain maupun kontrol. Pada perlakuan ini, efisiensi penurunan merkuri di dalam tanah oleh tanaman jati sebesar 88,61%, sedangkan kontrol hanya mencapai 64,11%. ABSTRACTThis study aims to determine the effect of underground root pruning (URP) of the mercury-contaminated soil phytoremediation in Kokap Kulon Progo, Yogyakarta. This study was conducted using complete randomized block design with three replications. The first factor is the URP, that divided as with and without URP (root pruning). The second factor is the dose of JMA, are 0; 50; 100, and 150 g/pot. Results of studies have proven that the root pruning and inoculation of JMA into the residual gold mining soil has successfully accelerated the process of phytoremediation through the expansion of the rhizosphere. Mercury uptake by Tectona grandis, Linn F that is with root pruning and 100% JMA inoculation are highest other treatment and control. In this treatment, the removal efficiency of mercury in the soil by plants amounted to 88.61% identity, meanwhile control only reached 64.11%.