Sriama Muliani
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Karakteristik & Kepatuhan Ibu Hamil Dalam Mengkonsumsi Tablet Fe Sriama Muliani; Nia Supiana; Nurul Auliya Kamila
JIKF Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan dan Farmasi
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jikf.v10i2.1398

Abstract

Ibu hamil merupakan fase siklus reproduksi yang sangat berisiko pada perempuan, menjaga asupan nutrisi dan memantau status gizi menjadi hal mutlak yang harus dilaksanakan Ibu hamil. Keberhasilan melalui proses yang fisiologis hasil penelitian menggungkapkan bahwa karakteristik yang melekat pada diri seorang perempuan akan menjadi salah satu penentu dari keberlangsungan kehamilan yang dialami. Anemia merupakan salah satu faktor langsung yang mempengaruhi kesehatan selama kehamilan, bersalin serta nifas, tidak hanya itu anemia juga akan mempengaruhi kondisi janin dan status kesehatan nantinya setelah dilahirkan. Upaya yang dilakukan untuk mencegah anemia dengan memberikan tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan, program tersebut akan berhasil jika dibarengi dengan kepetuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe. Metode penelitian yang digunakan deskriftif analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang datang ke Puskesmas dan tinggal menetap di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang berjumlah 439 ibu hamil. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 81. Teknik pengambilan sampel yang digunakan accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian: dari 81 responden, sebagian besar responden berumur 20-35 tahun sebanyak 59 orang (72,8%) berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 30 orang (37%) bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 66 orang (81,5%) dan tingkat pengetahuan ibu cukup 37 responden (45,7%). Ibu hamil sebagian besar tidak patuh mengkonsumsi tablet fe yaitu sebanyak 49 orang ( 60, 5 % ) Setiap nakes memiliki kewajiban untuk ikut mensukseskan penanganan anemia melalui pemberian tablet Fe dan tentunya harus disertai dengan kontrol yang baik terhadap kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe.
Beberapa Karakteristik Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di Puskesmas Ampenan Nia Supiana; Sriama Muliani
JIKF Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan dan Farmasi
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah perilaku pencarian punting payudara ibu sesaat setelah lahir. Hal ini sangat dibutuhkan, karena bayi setelah lahir langsung mendapat asupan gizi dari ASI. Pemberian ASI secara dini juga sangat bermanfaat bagi ibu,terutama untuk merangsangkelancaran ASI. Program IMD merupakan program pendukung dari pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Pentingnya pemberian IMD merupakan salah satu cara dalam menyukseskan Kesehatan bayi secara fisik dan psikis yang selama ini masih kurang diterapkan karena cenderung mengabaikan IMD dengan anggapan bahwa putting mengandung kuman dan kotor pada saat ibu bersalin (Fauziah Nasution, 2017). Metode penelitian yang digunakan Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar partograf dan kohort bayi, yang berisi tentang data responden dan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Inisiasi Menyusu Dini, mengenai penatalaksanaan IMD di puskesmas Ampenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dari 56 responden yang dijadikan sampel di Puskesmas Ampenan, sebagian besar berada pada kelompok mutipara ( 2-4) sebanyak 38 orang (67,86 %), pendidikan menengah sebanyak 25 orang (44,64 %), kesehatan ibu sebanyak 56 orang (100 %), kesehatan bayi 54 orang (96,43 %) dan keberhasilan inisiasi menyusu dini sebanyak 54 orang (96,43 %). Ibu bersalin yang berada di Puskesmas Ampenan sebagaian besar berhasil melakukan inisiasi menyusu dini sebanyak 54 orang ( %). Peran tenaga kesehatan atai Bidan dalam membimbing proses IMD sudah baik, dan responden yang masih belum melakukan IMD adalah ibu yang memiliki kondisi bayi yang perlu penanganan intensif saat bayi baru lahir. Selain itu walaupun hamper semua redponden melakukan IMD , Bidan harus tetap memberikan dukungan dan promkes terhadap manfaat melakukan IMD pada ibu bersalin.
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram Nurul Auliya Kamila; Sriama Muliani
JIKF Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan dan Farmasi
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jikf.v11i1.1658

Abstract

Selama masa nifas ibu memasuki peran dan perubahan menjadi orang tua, banyak permasalahan yang ditemukan dimana ibu belum mengetahui cara perawatan bayi yang baik dan benar. Tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir yang baik akan mengakibatkan ibu berperilaku dengan benar, sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang menyebabkan ibu tidak dapat melakukan perawatan bayi baru lahir dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram. Metode penelitian yang digunakan dalam adalah metode descriptive dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah ibu nifas sebanyak 30 orang. Sampel yang dianggap mewakili dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalah accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hasil penelitian bahwa sebagian ibu nifas memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang perawatan tali pusat (91,5%), personal hygiene (94,9%), memandikan bayi (100%). Ibu memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang imunisasi (35,6%) dan ibu nifas memiliki pengetahuan yang kurang dalam menyusui bayi baru lahir (64,4%) Diharapkan bidan dapat dijadikan sebagai masukan dalam memotivasi ibu nifas dalam perawatan bayi baru lahir secara baik dan benar.
STUDI KASUS IKTERUS FISIOLOGIS NEONATAL DAN PERAWATANNYA MELALUI PAPARAN SINAR MATAHARI Shohipatul Mawaddah; Sriama Muliani; Bq Safinatunnaja
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22326

Abstract

Penyakit kuning merupakan temuan fisik abnormal yang paling umum selama minggu pertama kehidupan bayi, lebih dari 2/3 bayi baru lahir mengalami proses “menjadi kuning” dikenal dengan istilah ikterus neonatorum. Ikterus pada neonatus ini dapat mengakibatkan terjadinya Kern Ikterus atau Ensefalopati Bilirubin jika tidak ditangani dengan baik. Tujuan dilakukan studi kasus ini adalah untuk memberikan asuhan kebidanan pada bayi yang diidentifikasi mengalami ikterus fisiologis. Metode yang digunakan dalam studi kasus neonatus dengan ikterus fisiologis ini adalah metode penelitian deskriptif berupa penelaahan kasus dengan cara meneliti suatu permasalahan yang berhubungan dengan kasus itu sendiri, alat untuk pengumpulan data atau instrument yang menunjang dalam penenlitian ini berupa checklist/formulir pengkajian bayi baru lahir, formulir Kramer, alat-alat berupa timbangan bayi, metlin, thermometer, stetoskop, penlight, handscone, stopwatch. Kasus inienggambarkan seorang bayi perempuan berusia 6 hari yang menderita penyakit kuning neonatal. Berdasarkan riwayat didapatkan bahwa bayi tidak langsung menyusu sejak lahir dan saat kunjungan usia 6 hari, bayi menyusu dengan ASI perah dan susu formula. Perawatan yang diberikan untuk mengatasi hal tersebut dengan menganjurkan ibu tetap memberikan ASI ekslusif secara langsung dan memberikan paparan sinar matahari setiap hari 45 menit. Setelah dilakukan asuhan kebidanan dengan fokus pada motivasi pemberian ASI ekslusif dan pemberian paparan sinar matahari, didapatkan hasil kuning yang tampak berangsur membaik dan menghilang pada hari ke-11. Dapat disimpulkan bahwa ASI yang cukup serta pemberian paparan sinar matahari yang dilakukan setiap hari terbukti menghilangkan kuning pada neonatus dan kuning tersebut bisa dicegah untuk tidak menjadi ikterus phatologis.
Beberapa Karakteristik Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di Puskesmas Ampenan Nia Supiana; Sriama Muliani
JIKF Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan dan Farmasi
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jikf.v10i2.1404

Abstract

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah perilaku pencarian punting payudara ibu sesaat setelah lahir. Hal ini sangat dibutuhkan, karena bayi setelah lahir langsung mendapat asupan gizi dari ASI. Pemberian ASI secara dini juga sangat bermanfaat bagi ibu,terutama untuk merangsangkelancaran ASI. Program IMD merupakan program pendukung dari pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Pentingnya pemberian IMD merupakan salah satu cara dalam menyukseskan Kesehatan bayi secara fisik dan psikis yang selama ini masih kurang diterapkan karena cenderung mengabaikan IMD dengan anggapan bahwa putting mengandung kuman dan kotor pada saat ibu bersalin (Fauziah Nasution, 2017). Metode penelitian yang digunakan Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar partograf dan kohort bayi, yang berisi tentang data responden dan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Inisiasi Menyusu Dini, mengenai penatalaksanaan IMD di puskesmas Ampenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dari 56 responden yang dijadikan sampel di Puskesmas Ampenan, sebagian besar berada pada kelompok mutipara ( 2-4) sebanyak 38 orang (67,86 %), pendidikan menengah sebanyak 25 orang (44,64 %), kesehatan ibu sebanyak 56 orang (100 %), kesehatan bayi 54 orang (96,43 %) dan keberhasilan inisiasi menyusu dini sebanyak 54 orang (96,43 %). Ibu bersalin yang berada di Puskesmas Ampenan sebagaian besar berhasil melakukan inisiasi menyusu dini sebanyak 54 orang ( %). Peran tenaga kesehatan atai Bidan dalam membimbing proses IMD sudah baik, dan responden yang masih belum melakukan IMD adalah ibu yang memiliki kondisi bayi yang perlu penanganan intensif saat bayi baru lahir. Selain itu walaupun hamper semua redponden melakukan IMD , Bidan harus tetap memberikan dukungan dan promkes terhadap manfaat melakukan IMD pada ibu bersalin.
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram Nurul Auliya Kamila; Sriama Muliani
JIKF Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan dan Farmasi
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jikf.v11i1.1658

Abstract

Selama masa nifas ibu memasuki peran dan perubahan menjadi orang tua, banyak permasalahan yang ditemukan dimana ibu belum mengetahui cara perawatan bayi yang baik dan benar. Tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir yang baik akan mengakibatkan ibu berperilaku dengan benar, sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang menyebabkan ibu tidak dapat melakukan perawatan bayi baru lahir dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram. Metode penelitian yang digunakan dalam adalah metode descriptive dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah ibu nifas sebanyak 30 orang. Sampel yang dianggap mewakili dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalah accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hasil penelitian bahwa sebagian ibu nifas memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang perawatan tali pusat (91,5%), personal hygiene (94,9%), memandikan bayi (100%). Ibu memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang imunisasi (35,6%) dan ibu nifas memiliki pengetahuan yang kurang dalam menyusui bayi baru lahir (64,4%) Diharapkan bidan dapat dijadikan sebagai masukan dalam memotivasi ibu nifas dalam perawatan bayi baru lahir secara baik dan benar.