Imam Supriyadi
Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Komparasi Anak Zina dan Anak Angkat Menurut BW dan Hukum Islam Imam Supriyadi
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 1 No 1 (2020): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.672 KB) | DOI: 10.51675/jaksya.v1i1.139

Abstract

Artikel ini bermula dari, pertama bagaimana agar kita bisa membedakan secara definitif terkait anak zina dan anak angkat dalam perspektif hukum Islam dan BW (Hukum Perdata), kemudian membahas mengenai hak kewarisan anak zina dan anak angkat menurut perspektif hukum Islam dan BW. Anak dalam perspektif BW digolongkan menjadi dua yakni anak sah dan anak tidak sah, yang mana kedudukan anak tidak sah ini menurut perpektif BW tidak dapat mewarisi orang tuanya, kecuali adanya pengakuan dari orang tuanya. Dengan adanya pengakuan tersebut timbullah hubungan keperdataan antara anak luar kawin dan orangtua yang mengakuinya. Sedangkan status anak angkat menurut perspektif Islam itu sendiri ialah hanya sekedar mendapatkan pemeliharaan nafkah (biaya hidup), perawatan terhadap anak dan kasih sayang dari orangtua angkatnya tidak dapat diakui sebagai anak kandung dikarenakan tidak boleh merubah hubungan nasab atau hubungan keturunan antara anak kandung dengan orang tua kandungnya. Sedangkan dalam perpektif BW tidak ada istilah anak angkat, yang ada hanya anak sah dan tidak sah. Pada dasarnya, anak angkat bukanlah ahli waris yang dimaksud dalam Pasal 852 ayat (1) KUHPerdata. Namun, anak angkat dapat memperoleh warisan dengan cara diberi hibah oleh pewaris. Pemberian hibah diatur dalam ketentuan Pasal 957 KUHPerdata
Perbedaan Negara; Penghalang Kewarisan ? Imam Supriyadi; Agnes Nur Inawati; Andika Agung Ferdiansyah
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 1 No 2 (2020): Oktober
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.07 KB) | DOI: 10.51675/jaksya.v1i2.151

Abstract

Indonesia memiliki 3 hukum waris yang berlaku, yakni hukum waris adat, hukum waris Islam, dan Hukum waris perdata barat sebagai produk yang diwariskan oleh Belanda saat menjajah Indonesia. Tingginya mobilitas penduduk dari satu negara ke negara lainnya turut menyebabkan terjadinya fenomena perpindahan kewarganegaraan. Begitu pula dengan Warga Negara Indonesia (WNI) yang karena alasan pendidikan, pekerjaan, maupun preferensi lainnya memilih untuk menjadi Warga Negara Asing (WNA). Maka dari itu,apakah perbedaan Negara menjadi sebuah penghalang kewarisan? Jurnal ini menjelaskan bahwa para ulama sepakat berlainan Negara antar-sesama muslim tidak menjadi penghalang untuk mewaris, sebab Negara-negara Islam, walaupun berbeda pemerintahannya, dan jauh jarak yang satu dengan lainnya, di pandang sebagai satu Negara. Hubungan kekuasaan (ishmah) antar Negara-negara tersebut menerapkan prinsip hukum Islam yang sama,meskipun tiap-tiap Negara memiliki perbedaan mengenai bentuk kenegaraan, sistem pemerintah maupun mengenai politik yang dianutnya. Dengan demikian, seorang muslim di mana pun ia berada, ia dapat mewarisi atau diwarisi oleh kaum kerabatnya. Misalnya seorang warga Negara Mesir meninggal dunia,ahli warisnya yang warga Negara Indonesia dapat mewarisinya. Demikian pula sebaliknya.
Nilai Hifz An-Nasl dalam Praktik Baganyi sebagai Sistem Ketahanan Rumah Tangga di Minangkabau Kamelia Tanjung; Muh. Nur Ridho Chaerul Firdaus; Imam Supriyadi
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v6i2.1287

Abstract

Baganyi adalah proses awal dari perpisahan untuk memberi jeda bagi pasangan yang berkonflik. Proses baganyi diawali dengan usaha untuk menghindari konflik pasangan dalam rumah tangga dengan kepergian suami dari rumah secara resmi saat terjadi perselisihan. Praktik ini memungkinkan pasangan untuk menenangkan diri dan menghindari tindakan gegabah, yang dapat berpotensi memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana praktik baganyi berfungsi sebagai mekanisme proaktif dalam menjaga ketahanan rumah tangga di masyarakat Minangkabau dengan perspektif hifz an-nasl. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis field research yang bersifat deskriptif-analisis. Sumber data primer berasal dari hasil wawancara mendalam di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam terhadap informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan teori ketahanan keluarga dari Froma Walsh dan teori hifz an-nasl. Hasil penelitian ini menyimbulkan bahwa tradisi baganyi yang dilakukan dalam masyarakat Palembayan mencerminkan sistem ketahanan keluarga yang kuat menurut kerangka Froma Walsh. Tindakan ini memungkinkan keluarga untuk menstabilkan sistem di tengah krisis dan memperoleh kembali kekuatan melalui intervensi adat, sehingga tujuan hifz an-nasl tercapai melalui pemulihan fungsi keluarga yang lebih kokoh. Implikasi dari penelitian ini akan memberikan contoh bahwa kearifan lokal mampu menjadi sumber daya sosial yang efektif dalam menjaga keutuhan keluarga.
RELEVANSI NILAI KARAKTER SISWA DALAM KITAB ADAB AL-DUNYA WA AL-DIN KARYA IMAM AL-MAWARDI DENGAN KURIKULUM BERBASIS CINTA (KBC) Siti Zulaikhah; Imam Supriyadi
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.47976

Abstract

This study is motivated by the phenomenon of moral degradation among the younger generation, as well as the gap between national educational goals and educational practices that still tend to emphasize cognitive aspects over character development. On the other hand, studies on classical Islamic ethical values and modern educational approaches are still conducted separately, necessitating an integration that is more relevant to today’s educational needs. This study aims to identify character values in the book Adab al-Dunya wa al-Din by Al-Mawardi, to elaborate on the concept of the Five Loves in the Love-Based Curriculum (KBC), and to analyze the relevance between the two in the context of character education. This study employs a qualitative approach using library research. The primary data sources consist of the book Adab Al-Dunya wa Al-Din and the Love-Based Curriculum Guidelines based on the Decision of the Director General of Islamic Education No. 6077 of 2025. Data analysis was conducted using content analysis through the stages of data reduction, thematic coding, and drawing conclusions. The research results indicate that character values according to Al-Mawardiare comprehensive as they encompass intellectual, spiritual, social, and personal dimensions. These values have a strong relevance to the five pillars of Panca Cinta in the KBC, particularly regarding love for God, knowledge, fellow human beings, the environment, oneself, and the homeland. This integration demonstrates that classical Islamic educational thought can serve as a foundation for building character education that is humanistic, spiritual, and contextual for the modern generation. Keywords: Character Education, Al-Mawardi, Love-Based Curriculum
PENGAJARAN KITAB HUJJAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH SEBAGAI UPAYA MENANAMKAN NILAI DASAR KE-NU-AN DI SMA MANBAIL HUDA Tsalits Fahmi; Wahono Dwi Cahyono; Amirudin Marwan; Imam Supriyadi
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Juni 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i6.2151

Abstract

Era disrupsi digital memicu pergeseran pola pikir instan dan disorientasi nilai keagamaan pada generasi muda. SMA Manbail Huda mengambil langkah strategis membentengi karakter peserta didik melalui pengajaran Kitab Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah. Artikel ini menganalisis peran pengajaran kitab tersebut dalam menanamkan nilai dasar ke-NU-an (Aswaja An-Nahdliyah) melalui penguatan hujah amaliyah tradisional seperti ziarah kubur, talqin mayyit, dan shalat tarawih. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana dalil-dalil teologis diinternalisasikan ke dalam model pembelajaran formal dan pembiasaan (ubudiyah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi hujah amaliyah ini berhasil menumbuhkan karakter akhlaqul karimah, kepekaan sosial, spiritualitas, serta sikap toleran (tasamuh) dan moderat (tawassuth) pada siswa. Keseragaman paham dan lingkungan yang kondusif menjadi faktor pendukung utama, di tengah tantangan kelelahan fisik siswa akibat padatnya target kurikulum.
Komparasi Anak Zina dan Anak Angkat Menurut BW dan Hukum Islam Imam Supriyadi
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 1 No 1 (2020): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v1i1.139

Abstract

Artikel ini bermula dari, pertama bagaimana agar kita bisa membedakan secara definitif terkait anak zina dan anak angkat dalam perspektif hukum Islam dan BW (Hukum Perdata), kemudian membahas mengenai hak kewarisan anak zina dan anak angkat menurut perspektif hukum Islam dan BW. Anak dalam perspektif BW digolongkan menjadi dua yakni anak sah dan anak tidak sah, yang mana kedudukan anak tidak sah ini menurut perpektif BW tidak dapat mewarisi orang tuanya, kecuali adanya pengakuan dari orang tuanya. Dengan adanya pengakuan tersebut timbullah hubungan keperdataan antara anak luar kawin dan orangtua yang mengakuinya. Sedangkan status anak angkat menurut perspektif Islam itu sendiri ialah hanya sekedar mendapatkan pemeliharaan nafkah (biaya hidup), perawatan terhadap anak dan kasih sayang dari orangtua angkatnya tidak dapat diakui sebagai anak kandung dikarenakan tidak boleh merubah hubungan nasab atau hubungan keturunan antara anak kandung dengan orang tua kandungnya. Sedangkan dalam perpektif BW tidak ada istilah anak angkat, yang ada hanya anak sah dan tidak sah. Pada dasarnya, anak angkat bukanlah ahli waris yang dimaksud dalam Pasal 852 ayat (1) KUHPerdata. Namun, anak angkat dapat memperoleh warisan dengan cara diberi hibah oleh pewaris. Pemberian hibah diatur dalam ketentuan Pasal 957 KUHPerdata
Perbedaan Negara; Penghalang Kewarisan ? Imam Supriyadi; Agnes Nur Inawati; Andika Agung Ferdiansyah
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 1 No 2 (2020): Oktober
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v1i2.151

Abstract

Indonesia memiliki 3 hukum waris yang berlaku, yakni hukum waris adat, hukum waris Islam, dan Hukum waris perdata barat sebagai produk yang diwariskan oleh Belanda saat menjajah Indonesia. Tingginya mobilitas penduduk dari satu negara ke negara lainnya turut menyebabkan terjadinya fenomena perpindahan kewarganegaraan. Begitu pula dengan Warga Negara Indonesia (WNI) yang karena alasan pendidikan, pekerjaan, maupun preferensi lainnya memilih untuk menjadi Warga Negara Asing (WNA). Maka dari itu,apakah perbedaan Negara menjadi sebuah penghalang kewarisan? Jurnal ini menjelaskan bahwa para ulama sepakat berlainan Negara antar-sesama muslim tidak menjadi penghalang untuk mewaris, sebab Negara-negara Islam, walaupun berbeda pemerintahannya, dan jauh jarak yang satu dengan lainnya, di pandang sebagai satu Negara. Hubungan kekuasaan (ishmah) antar Negara-negara tersebut menerapkan prinsip hukum Islam yang sama,meskipun tiap-tiap Negara memiliki perbedaan mengenai bentuk kenegaraan, sistem pemerintah maupun mengenai politik yang dianutnya. Dengan demikian, seorang muslim di mana pun ia berada, ia dapat mewarisi atau diwarisi oleh kaum kerabatnya. Misalnya seorang warga Negara Mesir meninggal dunia,ahli warisnya yang warga Negara Indonesia dapat mewarisinya. Demikian pula sebaliknya.
Nilai Hifz An-Nasl dalam Praktik Baganyi sebagai Sistem Ketahanan Rumah Tangga di Minangkabau Kamelia Tanjung; Muh. Nur Ridho Chaerul Firdaus; Imam Supriyadi
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v6i2.1287

Abstract

Baganyi adalah proses awal dari perpisahan untuk memberi jeda bagi pasangan yang berkonflik. Proses baganyi diawali dengan usaha untuk menghindari konflik pasangan dalam rumah tangga dengan kepergian suami dari rumah secara resmi saat terjadi perselisihan. Praktik ini memungkinkan pasangan untuk menenangkan diri dan menghindari tindakan gegabah, yang dapat berpotensi memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana praktik baganyi berfungsi sebagai mekanisme proaktif dalam menjaga ketahanan rumah tangga di masyarakat Minangkabau dengan perspektif hifz an-nasl. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis field research yang bersifat deskriptif-analisis. Sumber data primer berasal dari hasil wawancara mendalam di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam terhadap informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan teori ketahanan keluarga dari Froma Walsh dan teori hifz an-nasl. Hasil penelitian ini menyimbulkan bahwa tradisi baganyi yang dilakukan dalam masyarakat Palembayan mencerminkan sistem ketahanan keluarga yang kuat menurut kerangka Froma Walsh. Tindakan ini memungkinkan keluarga untuk menstabilkan sistem di tengah krisis dan memperoleh kembali kekuatan melalui intervensi adat, sehingga tujuan hifz an-nasl tercapai melalui pemulihan fungsi keluarga yang lebih kokoh. Implikasi dari penelitian ini akan memberikan contoh bahwa kearifan lokal mampu menjadi sumber daya sosial yang efektif dalam menjaga keutuhan keluarga.