Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Naditira Widya

MADIHIN: TRADISI TUTUR DARI ZAMAN KE ZAMAN Agus Yulianto
Naditira Widya Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i2.36

Abstract

Abstrak. Madihin adalah salah satu bentuk sastra lisan Banjar. Madihin pada mulanya merupakan kesenian yangdiperuntukkan bagi kalangan bangsawan atau keluarga raja. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kesenianini menjadi kesenian rakyat. Tulisan ini membahas asal-usul madihin, substansi, fungsi, instrumen, dan nilai yangdikandung madihin. Hasil kajian ini adalah pemahaman tentang madihin sebagai kesenian yang banyak mengandungnasihat mengenai banyak aspek kehidupan. Meskipun pernah mengalami kemunduran, pelaku madihin senantiasamengupayakan inovasi dan kreativitasnya agar kesenian ini tetap hidup di masyarakat, misalnya dengan mediumpenyampaian bahasa Indonesia.
MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA Agus Yulianto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.58 KB) | DOI: 10.24832/nw.v5i2.72

Abstract

Abstrak. Tulisan ini membahas perkembangan kebudayaan Banjar yang ditinjau dari peranan ‘mantra’. Mantraadalah rangkaian kata yang diucapkan untuk melakukan praktek magis. Mantra Banjar tumbuh dan berkembangdi wilayah tenggara Kalimantan. Pertumbuhan dan perkembangan mantra Banjar sejalan dengan perkembanganpendukungnya, yaitu masyarakat Banjar. Pada awalnya, mantra Banjar lahir dari karya seni ciptaan leluhurimajinatif Banjar yang percaya pada animisme atau kepercayaan Kaharingan. Kedatangan komunitas Jawa danMalayu yang berlatar ideologis Siva-Buddha membawa warna baru untuk mantra. Kemudian, ketika Islamdatang, agama baru ini menolak semua jenis mantra, penolakan ini mempengaruhi keberadaan mantra Banjar.Akibatnya, praktek ritual dengan mantra Banjar menurun, karena Islam mencapai popularitas yang luas. Namun,ternyata ada pula kesengajaan untuk menyembunyikan mantra untuk menjaga efek sakral dari mantra.Bagaimanapun, mantra tidak benar-benar menghilang. Sebagai warisan budaya Banjar, mantra masih menjadibagian dari kehidupan mereka, mantra hidup dan tumbuh di antara orang-orang sampai hari ini.