Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KONSENTRASI SARI BELIMBING (Averrhoa carambola L) DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA DAN MIKROBIOLOGI YOGHURT [IN PRESS APRIL 2015] Kukuh Septa Dwi Sutedjo; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yoghurt terbentuk dari bakteri yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti Lactobacillus Bulgaricus, Lactobacillus Acidopillus dan Streptococus Thermopillus. Dalam penelitian ini digunakan antioksidan alami, yakni vitamin C yang berasal dari buah belimbing. Penambahan sari buah belimbing berguna untuk meningkatkan nilai guna buah belimbing yang biasa dikonsumsi dalam bentuk segar saja. Pembuatan yoghurt buah belimbing juga berfungsi untuk menyiasati karakter buah belimbing yang mudah rusak yang memerlukan adanya proses pengolahan lanjut seperti pembuatan yoghurt belimbing. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I adalah konsentrasi sari buah belimbing (10, 15, dan 20%) dan faktor II lama fermentasi (8, 10,dan 12 jam).Hasil perlakuan terbaik yaitu yoghurt dengan lama fermentasi 8 jam dengan penambahan 20% sari buah belimbing dengan nilai pH 4.223, total asam 1.533%, aktivitas antioksidan 50.313%, Kadar Vitamin C 0.022%, total BAL 7.407 cfu/ml, viskositas 436.333 cP, tingkat kecerahan 63.520, tingkat kemerahan 23.733 dan tingkat kekuningan 13/867.   Kata kunci: L.Acidopillus, L.bulgaricus, Sari Belimbing, S.thermopillus, Yoghurt
PENGARUH DAYA LAMPU DAN LAMA IRADIASI ULTRAVIOLET TERHADAP KARAKTERISTIK SARI BUAH MURBEI (Morus alba L.) [IN PRESS APRIL 2015] Resy Dwi Chyntia; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iradiasi ultraviolet merupakan metode pasteurisasi pangan non-termal yang dapat digunakan sebagai salah satu cara alternatif untuk mendapatkan produk sari buah murbei yang awet dan masih kaya kandungan gizi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh daya lampu UV dan lama iradiasi UV terhadap sifat fisik, kimia, dan mikrobiologi sari buah murbei. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok yang disusun dua faktor dan diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama yaitu daya lampu UV dan faktor kedua yaitu lama iradiasi UV. Perlakuan terbaik adalah sari buah murbei daya lampu UV 30 Watt dan lama iradiasi 60 menit.   Kata kunci: Iradiasi, Sari Buah Murbei, Ultraviolet
EKSTRAKSI ANTOSIANIN DARI BUNGA MAWAR MERAH (Rosa damascene Mill) SORTIRAN METODE MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION [IN PRESS APRIL 2015] Atika Riyanti Widasari Putri; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga mawar merah yang disimpan atau dipajang terlalu lama sekitar 3 atau 4 hari akan menjadi layu dan jatuh harga jualnya. Bunga mawar sortiran ini masih mengandung senyawa bioaktif yaitu pigmen antosianin yang dapat dijadikan sebagai pewarna alami. Ekstraksi konvensional untuk mengambil senyawa antosianin biasanya memerlukan waktu yang lama sehingga perlu adanya alternatif ekstraksi lain. Salah satu alternatif yaitu dengan metode MAE (Microwave Assisted Extraction). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu rasio bahan:pelarut yang terdiri dari 3 level (1:10,1:20.1:30 b/v) dan lama ekstraksi yang terdiri dari 3 level (3,5,7 menit). Hasil penelitian terbaik diperoleh dari perlakuan rasio bahan:pelarut 1:20 (b/v) dan lama ekstraksi 5 menit, dengan kadar antosianin 4627.46 ppm, aktivitas antioksidan 79.22%, nilai pH 2.72,  rendemen 24.51%, tingkat kecerahan (L) 19.80, tingkat kemerahan (a) 7.80 , dan tingkat kekuningan (b) 7.10.   Kata Kunci: Antosianin, Bunga Mawar Sortiran, MAE
MODIFIKASI PATI SINGKONG (Manihot esculenta) DENGAN ENZIM α-AMILASE SEBAGAI AGEN PEMBUIH SERTA APLIKASINYA PADA PROSES PEMBUATAN MARSHMALLOW [IN PRESS APRIL 2015] Rera Suryani; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada industri pangan, penggunaan gelatin merupakan salah satu polimer larut air yang dapat digunakan sebagai agen pembentuk gel, pengental, penstabil, pembuih, dan pengemulsi. Produksi gelatin dapat diperoleh dari kulit, tulang, dan jaringan ikat hewan mamalia. Gelatin yang saat ini dikembangkan sebagai gelatin alternative adalah gelatin polisakarida. Pati singkong merupakan salah satu polisakarida yang berpotensi dikembangakan menjadi gelatin alternative sebagai foaming agent. Perlu adanya pengembangan pati singkong untuk dijadikan sebagai foaming agent dengan memodifikasi sifat pati alami singkong menjadi termodifikasi melalui proses modifikasi pati dengan enzim α-amilase (EC. 3.2.1.1) yang bersumber dari Bacillus sp untuk menghasilkan maltodekstrin. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi enzim α-amilase (EC. 3.2.1.1) dan lama inkubasi untuk menghasilkan maltodekstrin yang mendekati gelatin sebagai agen pembuih; menentukan karakteristik maltodekstrin sebagai  agen pembuih dari modifikasi pati singkong secara enzimatis; dan menentukan formulasi terbaik untuk aplikasi maltodekstrin pada produk marshmallow. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok. Faktor 1 yaitu konsentrasi enzim α-amilase (EC. 3.2.1.1) yaitu 3.33, 5, dan 6.67 mg/100gram, sedangkan faktor 2 yaitu lama inkubasi yaitu 10, 15, dan 20 menit. Pemilihan perlakuan terbaik dengan metode Multiple Attribute dan uji organoleptik pada produk marshmallow dianalisis menggunakan acceptable test method dan triangle test method. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi enzim α-amilase 5 mg/100g dan lama inkubasi 10 menit. Kata kunci: Enzim α-amilase, Gelatin, Pati Singkong
MODIFIKASI PATI UBI JALAR PUTIH (Ipomoea batatas L.) MENGGUNAKAN ENZIM AMYLOMALTASE MENJADI PATI THERMOREVERSIBLE: KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS APRIL 2015] Anggesta Merga Putri; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar merupakan tanaman palawija yang tersebar di daerah tropik dan sub tropik seperti Indonesia. Produksi ubi jalar mencapai 12 ton/ha, sedangkan ubi kayu hanya 8 ton/ha. Pati ubi jalar putih mempunyai kandungan amilosa dan amilopektin berturut-turut adalah 15-25% dan 75-85%. Pati ubi jalar putih berpotensi untuk dimodifikasi, karena mempunyai kandungan amilopektin yang relatif tinggi. Modifikasi pati dapat dilakukan secara fisik, kimia maupun enzimatis. Keuntungan modifikasi pati enzimatis yaitu kerja enzim yang spesifik untuk mereduksi rantai amilosa, rendemen tinggi, dan keamanan pangan terjamin. Perkembangan terakhir dari modifikasi pati yaitu mengenai pati thermoreversible dari polisakarida menggunakan enzim amylomaltase. Pati hasil modifikasi enzim amylomaltase mempunyai sifat unik, yaitu thermoreversible, swelling power rendah, kelarutan tinggi dan pati rendah amilosa. Pati thermoreversible terlarut sempurna saat dipanaskan dan membentuk gel saat didinginkan. Pati tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pensubstitusi gelatin produk marshmallow. Oleh karena itu perlu adanya pemanfaatan ubi jalar putih sebagai bahan baku pati thermoreversible.   Kata Kunci: Enzim Amylomaltase, Gel Thermoreversible, Pati Ubi Jalar
FORTIFIKASI KALSIUM CANGKANG TELUR PADA PEMBUATAN COOKIES (KAJIAN KONSENTRASI TEPUNG CANGKANG TELUR DAN BAKING POWDER) [IN PRESS JULI 2015] Wenny Ayu Rahmawati; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cangkang telur ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku untuk industri makanan yang ramah lingkungan. Salah satu produk makanan yang sangat digemari oleh semua kalangan sebagai snack adalah cookies.Umumnya cookies mengandung gula dan lemak yang tinggi tetapi rendah dalam kandungan gizinya.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan baking powderdan tepung cangkang telur terhadap karakteristik cookies.Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor.Faktor I yaitu kosentrasi Tepung cangkang (5%, 10%, 15%) dan faktor II yaitu kosentrasibaking powder (0.5%, 1%, 1.50%) dengan 3 kali ulangan.Cookies perlakuan terbaik parameter kimia dan fisik diperoleh dari perlakuan penambahan tepung cangkang 15% dan baking powder 0.5% dengan kadar kalsium sebesar 4.22%, sedangkan cookies perlakuan terbaik parameter organoleptik diperoleh dari perlakuan penambahan tepung cangkang 5% dan baking powder 0.5% dengan kadar kalsium sebesar 2.04%. Kata kunci: Baking Powder, Cangkang Telur, Cookies, Kalsium
COOKIES BERAS PRATANAK (KAJIAN PROPORSI TEPUNG BERAS PRATANAK DENGAN TEPUNG TERIGU DAN PENAMBAHAN SHORTENING) [IN PRESS JULI 2015] Faridatul Siti Solikhah; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya konsumsi serat mengakibatkan timbulnya penyakit pencernaan serta penyakit degeneratif seperti diebetes. Masyarakat indonesia rata-rata hanya mengkonsumsi 10 gr serat perhari dimana anjuran yang disarankan adalah sebesar 30 g/hari. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi terbaik antara tepung beras pratanak dan tepung terigu serta penambahan mentega putih agar didapatkan cookies dengan kandungan serat pangan tinggi. Prinsip proses pembuatan biskuit pratanak yaitu perendaman gabah di dalam air (60ºC,5 jam), pengukusan (20  menit),  pengeringan (55ºC,4jam), penepungan dan pembuatan cookies. Hasil penelitian menunjukkan Cookies terbaik dari segi organoleptik diperoleh pada perlakuan proporsi 70 : 30 dan penambahan mentega putih 5%. Cookies tersebut memiliki kadar air 3.41 %, kadar lemak 25.1 %, kadar protein 5.28 %, kadar karbohidrat 65.51%, kadar abu 0.7 %, serat kasar 2.8 %, serat pangan 3.36, serta kadar pati 47.05 %, yang memiliki skor kesukaan terhadap rasa 5.55 (menyukai), warna 5.50 (menyukai), aroma  5.75 (menyukai), dan tekstur 5.55 (menyukai).   Kata Kunci : Beras, Cookies, Mentega putih, Proses pratanak, Serat pangan
STUDI PEMBUATAN OSMODEHIDRAT BUAH NANAS (Ananas comosus L. Merr): KAJIAN KONSENTRASI GULA DALAM LARUTAN OSMOSIS DAN LAMA PERENDAMAN [IN PRESS SEPTEMBER 2015] Priska Nur Kartika; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 4 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nanas merupakan buah tropis yang banyak ditanam di Indonesia. Nanas termasuk komoditas yang mudah rusak (perishable food). Kandungan air yang tinggi sebesar 90.73% dalam 100 gram bahan. Tindakan pencegahan untuk mengatasi kerusakan pangan, maka perlu dilakukan penanganan lebih lanjut dengan proses pengolahan agar masa simpannya relatif panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi gula dalam larutan osmosis dan lama perendaman pada buah nanas agar dihasilkan produk yang memiliki kualitas yang optimum. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok. Faktor 1 yaitu konsentrasi gula dalam larutan osmosis yaitu 50, 60, dan 70%, sedangkan faktor 2 yaitu lama perendaman yaitu 9, 12, dan 15 jam. Pemilihan perlakuan terbaik dengan metode Indeks Efektifitas De Garmodan uji organoleptik pada produk osmodehidrat dianalisis menggunakan uji kesukaan. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi gula dalam larutan osmosis 60% dan lama perendaman 12 jam. Kata kunci: Gula, Nanas, Osmodehidrat
PENGARUH PENAMBAHAN SARI ANGGUR (Vitis vinifera L.) DAN PENSTABIL TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK ES KRIM [IN PRESS SEPTEMBER 2015] Cholifatuz Zahro; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 4 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diversifikasi produk es krim perlu dilakukan dengan penambahan sari anggur dari anggur lokal. Namun es krim yang ditambahkan sari buah akan memiliki tekstur yang tidak lembut dan cepat meleleh sehingga perlu ditambahkan penstabil. Penelitian menggunakan RAK dengan 2 faktor yaitu penambahan sari anggur (60, 80, 100% (v/v)) dan penambahan penstabil gelatin (0.20; 0.40; 0.60% (b/v)). Perlakuan terbaik secara fisik kimia diperoleh dari es krim dengan penambahan 100% sari anggur dan penambahan 0.40% penstabil gelatin dengan total antosianin 363.49 ppm, aktivitas antioksidan 88.99%, pH 4.69 (asam), kadar lemak 5.49%, total padatan 23.18%, viskositas adonan 36 cPs, overrun 42.18% dan kecepatan leleh 0.77 g/menit. Sedangkan perlakuan terbaik secara organoleptik diperoleh dari es krim dengan penambahan 80% sari anggur dan penambahan 0.40% penstabil gelatin dengan skor kesukaan terhadap rasa 5.16 (suka) dan skor kesukaan terhadap tekstur 5.52 (suka).   Kata Kunci: Anggur Lokal, Antosianin, Es Krim, Penstabil Gelatin
PEMBUATAN MIE KERING GEMBILI DAN BEKATUL (KAJIAN PROPORSI TERIGU : GEMBILI DAN PENAMBAHAN BEKATUL) [IN PRESS SEPTEMBER 2015] Cefi Azmil Halwan; Fithri Choirun Nisa
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 4 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gembili dan bekatul merupakan salah satu hasil pertanian yang pemanfaatannya masih kurang, padahal kandungan gizi di dalamnya sangat tinggi. Gembili dan bekatul memiliki kandungan serat yang dapat menurunkan insiden penyakit kronis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proporsi terbaik dari tepung terigu : tepung gembili dengan penambahan bekatul dalam pembuatan mie kering serta pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia, dan organoleptik mie kering. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor. Faktor 1 proporsi tepung terigu : tepung gembili yang terdiri dari 3 level (80:20; 70:30; 60:40), faktor 2 penambahan bekatul yang terdiri dari 3 level (10%, 20%, 30%). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dan BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan selang kepercayaan 5%. Penentuan perlakuan terbaik digunakan metode Indeks Efektifitas. Perlakuan terbaik diperoleh pada mie kering dengan proporsi tepung terigu : tepung gembili 80:20 dengan penambahan bekatul 20%.   Kata kunci: Bekatul, Gembili, Mie Kering, Serat