Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pemanfaatan Kulit Jeruk Peras (Citrus sinesis L. Obbeck) dan Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Sebagai Karbon Aktif Terhadap pH dan BOD Pada Air Limbah Perikanan di Daerah Kabupaten Tulungagung Seliaprillia Seliaprillia; Liliya Dewi Susanawati; Bambang Suharto
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.818 KB) | DOI: 10.21776/ub.jsal.2019.006.01.3

Abstract

Air limbah perikanan di daerah kabupaten Tulungagung yang dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan pencemaran, lama-kelamaan air berubah warna menjadi hitam dan berbau. Upaya untuk pencegahan dengan menggunakan karbon aktif dari kulit jeruk peras dan kulit kacang tanah untuk mempengaruhi pH dan mengurangi kadar BOD yang ada pada air limbah perikanan. Kondisi saat ini pemanfaatan sampah organik juga masih sedikit, untuk itu kulit jeruk peras dan kulit kacang tanah pada penelitian ini dijadikan sebagai karbon aktif. Karbon aktif memiliki fungsi untuk menyerap zat-zat tertentu pada limbah. Metode dan analisis data menggunakan Rancangan Percobaan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil dari penelitian, karbon aktif kulit jeruk peras dan kulit kacang tanah memeberikan penurunan BOD yang besar, pada setiap perlakuan mempunyai penurunan yang berbeda. Perlakuan yang mengalami penuruan terbesar yaitu pada pelakuan A2B1 menggunakan karbon aktif kulit jeruk peras dengan berat 15 gram tanpa campuran kulit kacang tanah dengan waktu kontak 12 jam. Nilai pH dengan penambahan karbon aktif kulit jeruk peras dan kulit kacang tanah tidak memberikan perubahan pH yang besar, tetapi penambahan karbon aktif kulit kacang dapat merubah pH sesuai yaitu pada perlakuan A1B3 dengan pH yang dihasilkan 6,07. Nilai pH pada air limbah perikanan yang sesuai baku mutu yaitu dengan penambahan karbon aktif kulit kacang 35 gram, sedangkan nilai BOD yang sesuai baku mutu dengan penambahan karbon aktif kulit jeruk peras 15 gram. Kata Kunci: BOD, Karbon aktif, Limbah, pH.
Pengaruh Konsentrasi Larutan Kalium Hidroksida pada Abu Dasar Ampas Tebu Teraktivasi Lina Suhendarwati; Bambang Suharto; Liliya Dewi Susanawati
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.32 KB)

Abstract

Bagas (bagasse) merupakan limbah ampas tebu yang sekarang ini telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada pengolahan gula itu sendiri. Pembakaran ini menghasilkan abu terbang (bagasse fly ash/BFA) yang kaya akan silika dan abu dasar ampas tebu (bagasse bottom ash/BBA) yang sebagian besar tersusun dari karbon. Kalium hidroksida merupakan salah satu bahan pengaktif yang baik. Limbah abu dasar ampas tebu dapat dimanfaatkan menjadi karbon aktif dengan kualitas baik melalui proses aktivasi kimia dengan beberapa konsentrasi kalium hidroksida. Variasi konsentrasi larutan kalium hidroksida (KOH) yaitu 1M, 2M, 3M, 4M, dan 5M. Metode aktivasi menggunakan konsentrasi KOH 5 M didapatkan karakteristik yang lebih mendekati standar mutu karbon aktif, daya serap terhadap iodin sebesar 426.48 mg g-1, daya serap terhadap methylene blue sebesar 21.04 mg g-1, berat jenis sebesar 1.14 g mL-1, kadar air sebesar 6.98%, dan kadar abu sebesar 48.19%. Kata Kunci : Abu dasar ampas tebu, Kalium Hidroksida, Karbon Aktif
Penentuan Laju Infiltrasi Menggunakan Pengukuran Double Ring Infiltrometer dan Perhitungan Model Horton pada Kebun Jeruk Keprok 55 (Citrus Reticulata) Di Desa Selorejo, Kabupaten Malang Liliya Dewi Susanawati; Bambang Rahadi; Yusriadi Tauhid
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.575 KB) | DOI: 10.21776/ub.jsal.2018.005.02.4

Abstract

Ketersedian air bagi lahan pertanian dapat diusahaakan dengan memberikan irigasi, yang  dimana dalam pemberian air irigasi pada lahan harus mengetahui laju infiltrasinya agar  tidak terjadi run-off. Salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah masalah air, terutama pada petani Jeruk Keprok 55 Kota Batu. Tujuan penelitian ini mengetahui laju infiltrasi lapang dan Horton serta perbedaan keduanya. Hasil pengukuran di lapangan dengan menggunakan double ring infiltrometer didapatkan nilai infiltrasi konstan dan nilai infiltrasi awal yang paling tinggi adalah pada bedengan dengan nilai 0.167 cm/menit dan 0.4 cm/menit,  kemudian pada sela bedengan sebesar 0.067 cm/menit dan 0.287 cm/menitdan paling rendah yaitu pada jalan dengan nilai 0.020 cm/menit dan 0.147 cm/menit. Laju infiltrasi berdasarkan perhitungan model infiltrasi Horton didapatkan nilai rata-ratanya yaitu nilai paling tinggi pada bedengan 13.433 cm/jam, sela bedengan 8.128 cm/jam dan paling rendah pada jalan sebesar 3.579 cm/jam. Berdasarkan hasil uji korelasi dan uji regresi antara laju infiltrasi actual dan laju infiltrasi Horton diperoleh hubungan yang sangat nyata, sehingga metode infiltrasi Horton dapat digunakan untuk memperkirakan laju infiltrasi pada kebun Jeruk Keprok 55-BatuKata Kunci : Jeruk Keprok 55-Batu, Kebutuhan Air Tanaman, Laju Infiltrasi, Model Horton
Tingkat Penurunan Konsentrasi Karbon Monoksida (CO) Udara Ambien Menggunakan Taman Vertikal (Studi Kasus di Esa Sampoerna Center Surabaya) Bambang Rahadi; Liliya Dewi Susanawati; Desi Ivanastuti
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.785 KB)

Abstract

Tingginya kepadatan penduduk mengakibatkan padatnya kendaraan bermotor sebagai pemicu pencemaran udara yaitu karbon monoksida (CO). Taman vertikal merupakan salah satu solusi untuk mengurangi polusi udara serta menambah adanya ruang terbuka hijau di perkotaan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan tingkat penurunan konsentrasi CO yang dihasilkan antara lokasi dengan taman vertikal dan lokasi tanpa taman vertikal. Konsentrasi CO pada JL. Dr. Ir. H. Soekarno digunakan sebagai kontrol. Penentuan konsentrasi pada udara ambien dilakukan dengan menggunakan metode Iodine Pentoksida. Tingkat penurunan  konsentrasi CO yang dihasilkan pada lokasi dengan taman vertikal sebesar 94.10-100%. Sedangkan tingkat penurunan konsentrasi CO yang dihasilkan pada lokasi tanpa taman vertikal sebesar 0.00-35.28%. Kata Kunci : Karbon monoksida, taman vertikal, udara ambien.
Efektivitas Penurunan Konsentrasi Limbah Cair Industri Tapioka dengan Metode Rotating Biological Contactor Danang Hariono; Ruslan Wirosoedarmo; Liliya Dewi Susanawati
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.654 KB)

Abstract

Limbah cair tepung tapioka mempunyai kandungan bahan organikyang tinggi sehingga diperlukan proses pengolahan yang tepat sebelum dibuang kelingkungan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menguraikan senyawaorganik tersebut adalah dengan pengolahan biologi Rotating Biological Contactor (RBC). Tujuan penelitian ini adalahmengetahui besarnya penurunan kandungan Sianida, BOD, TSS dan pH limbah cair tepungtapioka dengan metode RBC pada kecepatan putaran cakram 50 dan 100 rpm. Kandunganawal BOD sebesar 1217 mgL-1,TSS sebesar 1126 mgL-1,Sianida sebesar 0.28 mgL-1 dan pH sebesar 4.3. Nilai parameter tersebutmasih berada diatas standar baku mutu limbah dan akan membahayakan jikalangsung dibuang ke sungai sedangkan parameter Sianida sudah memenuhi standarbaku mutu yaitu sebesar 0.282 mgL-1.Efektivitaspenurunan BOD, TSS, Sianida untuk kecepatan putar 50 rpm adalah 89.56%, 74.93%,90.78%. Sedangkan efektivitas penurunan BOD, TSS, Sianida untuk kecepatan putar100 rpm adalah 92.06%, 94.56%, 98.58%. Kata Kunci : Kecepatan putaran cakram, limbah cairtapioka, rotating biological contactor
Evaluasi Kelayakan Finansial Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Studi Kasus di Pulau Mandangin Kabupaten Sampang J. Bambang Rahadi W.; Liliya Dewi Susanawati; Devid Ilmiyatul Hasanah
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.324 KB)

Abstract

Air merupakan kebutuhan dasar manusia yang senantiasa harus tersedia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk konsumsi, mencuci maupun kebutuhan mandi. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dapat menggunakan air yang bersumber dari sumur dan jasa pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di berbagai daerah. PDAM merupakan perusahaan penyedia air bersih yang dikelola pemerintah daerah. Kenyataannya, di beberapa daerah, PDAM tidak dapat memenuhi kebutuhan air bersih sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai parameter kelayakan ekonomi pada rencana penyediaan sistem jaringan air bersih berdasarkan indikator Benefit Cost Ratio (B/C), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), titik impas investasi (pay back periode) dan Analisis Sensitivitas. Pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif, kualitatif dan kuantitatif. Aspek finansial maupun ekonomi yang digunakan sebagai alat ukur atau kriteria investasi yaitu perhitungan NPV, Net B/C, IRR dan PP dan analisis sensitivitas untuk penentuan tarif distribusi PDAM kepada masyarakat. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa PDAM Pulau Mandangin tidak layak secara finansial dengan nilai NPV 1 Rp.   -12.242.596.902, nilai NPV 2 Rp. -11.775.188.316, nilai Net Benefit Cost Ratio (B/C) 0,204, nilai IRR 3,299 dan nilai Gross Benefit Cost Ratio (B/C) -0,044 dimana seluruh nilai tersebut kurang dari batas kelayakan masing-masing indikator. Kata kunci : Analisis kelayakan finansial, PDAM, pulau mandangin
Pengaruh Teknik Pemberian Pupuk Organik dari Sludge Bio-Digester terhadap Pertumbuhan Jagung (Zea mays L.) Varietas Bima pada Fase Vegetatif Artanta Yoga Priyana; Ruslan Wirosoedarmo; Liliya Dewi Susanawati; Ary Mustofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.84 KB)

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman palawija yang paling utama di Indonesia, selain sebagai sumber kalori utama bagi sebagian penduduk Indonesia. Penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan terhadap masyarakat tentang teknik pemberian pupuk yang benar serta memberikan pengetahuan tentang manfaat pupuk organik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Teknik pemberian pupuk (A) dipergunakan sebagai faktor pertama yang terdiri dari 3 (tiga) macam yaitu A1: dipermukaan, A2: diaduk dan A3: dislot. Faktor kedua terdiri dari 2 macam yaitu D1: dosis 15 ton ha-1 dan D2: dosis 30 ton ha-1 . Pemberian air dilakukan setiap 1 (satu) minggu sekali. Percobaan diulang sebanyak 3 (tiga) kali sehingga terdapat 18 unit perlakuan. Hasil pengukuran didapatkan perlakuan A3D2 (teknik pemberian pupuk dengan cara dibenamkan pada sebuah slot kedalaman ± 7 cm dan menggunakan dosis 30 ton ha-1) merupakan perlakuan paling ideal untuk penanaman jagung menggunakan pupuk organik dari Sludge Bio-Digester. Hasil yang didapatkan diantaranya rerata tinggi tanaman (227,58 cm), rerata diameter batang (19,53 mm), rerata jumlah daun (18 helai.), dan rerata berat kering tanaman (239,53 gram). Kata kunci : Teknik Pemberian Pupuk, Jagung (Zea mays L.), Sludge-Biodigester.
Evaluasi Tingkat Pencemaran Air Pembuangan Limbah Cair Pabrik Kertas pada Jarak 0 m sampai dengan 1500 m (Studi Kasus di Sungai Klinter Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk) Dwi Fajar Wicaksono; Bambang Rahadi Widiatmono; Liliya Dewi Susanawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.982 KB)

Abstract

Sungai Klinter sebagai salah satu ekosistem perairan yang mudah mendapat pengaruh dari sekitarnya baik secara alami maupun oleh berbagai kegiatan manusia ini, mendapat masukan limbah dari industri kertas yang mana dapat menyebabkan pencemaran dengan merubah dan menurunkan kualitas air sungai sehingga mengurangi daya gunanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana kandungan yang terdapat di Sungai Klinter pada jarak 0 m sampai dengan 1500 m dari lokasi pembuangan limbah cair pabrik kertas dan pengaruhnya terhadap kualitas perairan pada jarak tersebut. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air Sungai Klinter berdasarkan uji parameter pencemaran air dari titik pengambilan sampel 1 sampai titik pengambilan sampel 4 cenderung mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dilihat dari nilai Indeks Pencemaran yang semakin turun (3,46-1,89) dan masuk kategori tercemar ringan untuk baku mutu air sungai Kelas IV. Kata Kunci: Kualitas air, sungai klinter, indeks pencemaran
Analisa Kualitas Perairan Sungai Klinter Nganjuk Berdasarkan Indeks Diversitas Dan Saprobik Plankton Ahmat Farichi; Bambang Suharto; Liliya Dewi Susanawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.612 KB)

Abstract

Penelitian tentang “Analisa Kualitas Perairan Sungai Klinter Nganjuk Berdasarkan Indeks Diversitas dan Saprobik Plankton” telah dilaksanakan pada bulan juli sampai agustus 2012, bertujuan menilai kualitas perairan sungai berdasarkan indikator biologi. Sampel diambil dari 3 stasiun pengamatan dan pada setiap stasiun pengamatan dilakukan tiga kali ulangan.Titik pengambilan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling. Sampel diambil dengan menggunakan plankton net. Identifikasi sampel dilakukan di Laboratorium Hidrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian didapatkan nilai seluruh parameter fisik - kimia yang diteliti seperti suhu, DO, TSS, pH, fosfat, dan nitrat masih tergolong layak karena masih memenuhi baku mutu air golongan IV menurut PP. RI. No. 82 tahun 2001 dan beban pencemaran masih di bawah kapasitas asimilasi. Dari penelitian juga didapatkan 3 divisi plankton yang terdiri dari divisi Chlorophyta sebanyak 6 jenis, Chrysophyta sebanyak 9 jenis, dan Cyanophyta sebanyak 3jenis. Nilai kelimpahan tertinggi didapat pada stasiun 2 yakni sebesar 2261857.5 ind/l, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun 3 yakni sebesar 815239.1 ind/l. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan saprobitas tertinggi terdapat pada stasiun 1 yakni sebesar 1.44, 0.50, dan 0.57. sedangkan keanekaragaman dan keseragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yakni 0.2, 0.08, dan -2.91. Secara garis besar, kualitas perairan sungai Klinter berdasarkan indeks keanekaragaman dan saprobitas termasuk dalam katagori tercemar ringan sampai sangat berat. Uji stasistik korelasi pearson menunjukkan kecepatan arus, suhu, nitrat, fosfat, TSS berkorelasi negatif dengan keanekaragaman, sedangkan debit, kecerahan, kedalaman, pH, DO berkorelasi positif. Fosfat, dan kecepatan arus berpengaruh nyata terhadap keanekaragaman, sedangkan debit, suhu, nitrat, TSS, kecerahan, kedalaman, pH, DO berpengaruh tidak nyata terhadap keanekaragaman.Kata Kunci: Plankton, Indeks Diversitas, Indeks Saprobik, Kualitas Air.