Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RELASI KEKERABATAN MUNA, WOLIO, DAN WAKATOBI DI SULAWESI TENGGARA: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF DAN ETNOLINGUISTIK Rahman Rahman; Wa Ode Halfian; Zahrani Zahrani; Ahmad Keke; Maulid Taembo
Journal Idea of History Vol 3 No 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Januari - Juni 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v3i1.1015

Abstract

Penelitian ini membahas relasi kekerabatan Muna, Wolio, dan Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan aspek bahasa dan budaya (kabhanti). Penelitian ini dilakukan karena selain dari masih kurangnya pembahasan mengenai relasi kekerabatan bahasa juga didasarkan adanya pandangan bahwa ketiga masyarakat tersebut memiliki banyak kemiripan dari segi ritual-ritual kelahiran, kematian, perkawinan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya seperti keberadaan sastra lisan dalam bentuk nyanyian rakyat atau lebih popular dikenal dengan istilah kabhanti. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan fonem bahasa Muna, Wolio, dan Wakatobi; (2) mendeskripsikan relasi kekerabatan bahasa-bahasa tersebut berdasarkan aspek fonologi dan kajian linguistik historis komparatif; dan (3) menjelaskan relasi kekerabatan subkelompok Muna, Wolio, dan Wakatobi dari perspektif kajian budaya (etnolinguistik). Penelitian ini menggunakan deskripsi kuantitatif dan kualitatif melalui metode wawancara yang disertai dengan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat. Hasil deskripsi fonologi menunjukkan adanya kedekatan bahasa Muna, Wolio, dan Wakatobi. Perhitungan leksikostatistik menunjukan bahwa tingkat relasi kekerabatan bahasa Muna, Wolio, dan bahasa Wakatobi berada pada persentase berkisar 41-45% yang menunjukan kategori subkeluarga bahasa atau perbedaan bahasa dengan relasi kekerabatan bahasa yang cukup erat. Dari kajian budaya adanya persamaan-persamaan fungsi dan kearifan lokal dari budaya nyanyian rakyat kabanti pun menunjukkan bahwa masyarakat pada wilayah-wilayah tersebut berasal dari nenek moyang yang sama.
Pelatihan Pengusulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bagi Masyarakat Konawe Kepulauan La Ode Aris; Laxmi Laxmi; Ahmad Keke; Almarsaban Almarsaban; Bainuddin Bainuddin
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): September-Desember
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/rt37v381

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk melatih pengusulan warisan budaya tak benda (WBTB) bagi masyarakat Konawe Kepulauan. Hasil PKM diketahui bahwa pentingnya pengusulan WBTB untuk melestarikan tradisi khatam Al-Quran atau hatamua sebagai suatu kegiatan penghargaan bagi seorang anak yang telah selesai atau tamat mengaji. Kegiatan khatam Al-Quran telah dijalankan oleh masyarakat pada Kabupaten Konawe Kepulauan secara turun termurun. Khatam Al-Quran merupakan suatau kegiatan adat kebiasaan yang bersifat religius. Dikatakan bersifat religius sebab dilakukan ketika ada anak-anak yang tamat mengaji Alquran, segala rangkaian upacara ini tersebut diwarnai dengan ajaran Agama Islam, seperti pelantunan syair-syair indah Marhaba yang diperuntukan bagi anak yang tamat yang mengandung makna nasehat-nasehat keagamaan mengarahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar. Pakaian yang dikenakan oleh anak-anak juga menggambarkan keadaan religius sebab pakaian yang dikenakan bagaiakan seorang jamaah haji yang memakai jubah dan penutup kepala yang berwarna warni bagi anak perempuan serta menggunakan surban bagi anak laki-laki. Pada proses khatam Qur’an tersebut biasanya imam desa dan imam masjid di ikut sertakan.