Halfian, Wa Ode
Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

REPRESENTASI BUDAYA WOLIO DALAM NOVEL PEREMPUAN WOLIO KARYA KRISNI DINAMITA Mustika Mustika; Wa Ode Halfian
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 7 No 1 (2018): Volume 7 Nomor 1, Februari 2018
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.068 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v7i1.514

Abstract

Krisni Dinamita presents information about Wolio’s culture in her novel entitle Wolio’s Women. However, not all readers of the novel understand about Wolio’s culture, so that the researcher intends to examine how Wolio’s culture represents in the novel. This research analyzes sign of Wolio’s culture in the novel using Charles Sanders Pierce Semiotics which divides sign according to the relation of sign with its references to: icons, indexes, and symbols. The aim of this research is to describe and explain the representation of Wolio’s culture in the novel. The results of this research show that there are eight icons of Wolio’s culture in the novel, namely: the Buton Palace, pekande-kandea, kabanti, kadandio, mia patamia, “yinda-yindamo arataa somanamo karo, yinda-yindamo karo somanamo lipu, yinda-yindamo lipu somanamo sara, yinda-yindamo sara somanamo agama”, bisa, lebe, and “kapakawana pitumalona, kapakawana patapuluna, kapakawana saatuna”. However, there are four indexes of Wolio’s culture, namely: pesoloi, lawati, malona kompa, and oputalinga rusa. Likewise, there are five symbols of Wolio’s culture found in the novel: kawi pobaisa, kaomu, walaka, papara, and haroa.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT “I LAURANG” Wa Ode Halfian
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 3 (2019): Volume 8 Nomor 3, Oktober 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i3.810

Abstract

Cerita rakyat, merupakan warisan budaya nasional dan masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, antara lain dalam hubungan dengan pembinaan apresiasi sastra. Cerita rakyat juga telah lama berperan sebagai wahana pemahaman gagasan dan pewarisan tata nilai yang tumbuh dalam masyarakat. Karena banyaknya nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat, maka pengkajian dan pelestarian cerita rakyat ini dianggap perlu untuk dilakukan. Pengkajian dilakukan agar nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut dapat dipahami dan diketahui oleh masyarakat khususnya masyarakat pemilik cerita tersebut serta masyarakat pada umumnya. Salah satu nilai yang terkandung dalam cerita rakyat adalah nilai pendidikan karakter. Nilai ini dianggap sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Melalui cerita rakyat, kita dapat memperkenalkan berbagai macam nilai-nilai karakter yang nantinya dapat dianut atau dicontoh oleh anak-anak tersebut. Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebijakan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebijakan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Cerita I Laurang merupakan cerita masyarakat Sulawesi Selatan yang bersifat lisan. Dalam cerita ini banyak terkandung nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dijadikan sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari, seperti nilai religi, jujur, kerja keras, disiplin, cinta tanah air, demokratis, tanggung jawab dan kreatif.
NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT WAKORUMBA SELATAN DALAM CERITA RAKYAT NGKAA-NGKAASI Fina Amalia Masri; Wa Ode Halfian
BASIS (Bahasa dan Sastra Inggris) Vol 7 No 1 (2020): JURNAL BASIS UPB
Publisher : Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.021 KB) | DOI: 10.33884/basisupb.v7i1.1796

Abstract

This paper discussed the cultural values of the South Wakorumba Society in the Ngkaa-ngkaasi folklore. This paper is motivated by the beginning of a reduction in public awareness of the presence of folklore in everyday life. Folklore, which contains a lot of good values, it should stay alive and be preserved in society. On the other hand, the source of the folklore of the elderly people who have mostly died will be increasingly disappeared because these parents may not necessarily pass this story on to their children and grandchildren. So, it is feared that this folklore will become extinct. This paper aimed to describe the cultural values of the South Wakorumba community in the Ngkaa-ngkasi folklore. This paper was analyzed by using qualitative descriptive methods. Data collection techniques used was recording techniques, observation techniques, and interview techniques. The sources of the research data were the elderly people in South Wakorumba sub-district who know the folklore that lives and develops in the community. The results of data analysis showed that there are cultural values of the South Wakorumba community in the Ngkaa-ngkasi folklore, namely cultural values about human relations as individuals (acting calm and unhurried, adding to life knowledge, and fostering personal discipline), cultural values about human relations with humans (please help in kindness, being generous, and deliberation), and cultural values about human relations with nature (utilizing nature).
TOPONIMI PENAMAAN JALAN DI KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA Wa Ode Halfian; Hariyati Hariyati; Fina Amalia Masri
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 7, No 1 (2022): Metalingua, Edisi April 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/metalingua.v7i1.15146

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya nama-nama jalan yang bermunculan di Kecamatan Lasalepa. Nama-nama tersebut sebagian terasa asing bahkan memilki makna yang unik dan lucu bagi masyarakat baik yang berada di daerah tersebut maupun dari luar daerah yang melewati jalan-jalan tersebut. Penamaan jalan-jalan tersebut tentunya tidak lepas dari latar belakang budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi penamaan jalan yang ada di Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semantik, antropolinguistik dan toponimi. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dangan menggunakan metode deskriptif kualitatif.  Teknik   pengumpulan   data   dalam   penelitian   ini   adalah   dengan menggunakan teknik wawancara, teknik catat, dan teknik rekam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Nama-nama jalan di Kecamatan Lasalepa sebagian besar tidak memiliki papan nama, namun masyarakatnya mampu mengetahui letak nama-nama jalan tersebut dengan baik, di mana mereka mampu menunjukkan arah dan lokasi dari nama-nama jalan tersebut tanpa adanya kekeliruan. Nama-nama jalan di Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna dilatarbelakangi oleh dua aspek penamaan, yaitu aspek perwujudan (Jalan Nambo, Jalan La Sari Muna, Jalan Wa Sandu-Sandu, Jalan Malaowaha, Jalan Tani, Jalan Bangunsari, dan Jalan Cendana) yang meliputi latar perairan dan Latar Permukaan Tanah atau Rupabumi (Geomorfologis), aspek kemasyarakatan   (Jalan   Kabuluha,   Jalan   Pogauha,   Jalan   Cumi-Cumi,   Jalan Lamodandu, Jalan Laode Oha, dan Jalan La Rengku) yang meliputi kebiasaan masyarakat dan tokoh masyarakat. Sistem tanda dalam toponimi nama-nama jalan di Kecamatan   Lasalepa   Kabupaten   Muna   meliputi   simbol,   gagasan,   dan   acuan (referent). Di mana simbol dan gagasan memiliki hubungan yang bersifat langsung. Artinya simbol dan gagasan tersebut merupakan pasangan otomatis. Sedangkan hubungan antara acuan dan simbol bersifat tidak langsung.
RELASI KEKERABATAN MUNA, WOLIO, DAN WAKATOBI DI SULAWESI TENGGARA: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF DAN ETNOLINGUISTIK Rahman Rahman; Wa Ode Halfian; Zahrani Zahrani; Ahmad Keke; Maulid Taembo
Journal Idea of History Vol 3 No 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Januari - Juni 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v3i1.1015

Abstract

Penelitian ini membahas relasi kekerabatan Muna, Wolio, dan Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan aspek bahasa dan budaya (kabhanti). Penelitian ini dilakukan karena selain dari masih kurangnya pembahasan mengenai relasi kekerabatan bahasa juga didasarkan adanya pandangan bahwa ketiga masyarakat tersebut memiliki banyak kemiripan dari segi ritual-ritual kelahiran, kematian, perkawinan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya seperti keberadaan sastra lisan dalam bentuk nyanyian rakyat atau lebih popular dikenal dengan istilah kabhanti. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan fonem bahasa Muna, Wolio, dan Wakatobi; (2) mendeskripsikan relasi kekerabatan bahasa-bahasa tersebut berdasarkan aspek fonologi dan kajian linguistik historis komparatif; dan (3) menjelaskan relasi kekerabatan subkelompok Muna, Wolio, dan Wakatobi dari perspektif kajian budaya (etnolinguistik). Penelitian ini menggunakan deskripsi kuantitatif dan kualitatif melalui metode wawancara yang disertai dengan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat. Hasil deskripsi fonologi menunjukkan adanya kedekatan bahasa Muna, Wolio, dan Wakatobi. Perhitungan leksikostatistik menunjukan bahwa tingkat relasi kekerabatan bahasa Muna, Wolio, dan bahasa Wakatobi berada pada persentase berkisar 41-45% yang menunjukan kategori subkeluarga bahasa atau perbedaan bahasa dengan relasi kekerabatan bahasa yang cukup erat. Dari kajian budaya adanya persamaan-persamaan fungsi dan kearifan lokal dari budaya nyanyian rakyat kabanti pun menunjukkan bahwa masyarakat pada wilayah-wilayah tersebut berasal dari nenek moyang yang sama.
KEBERTAHANAN KOSAKATA ANATOMI TUBUH MANUSIA DALAM BAHASA MUNA PADA PENUTUR BAHASA MUNA Wa Ode Halfian; Fina Amalia Masri; Zahrani Zahrani; Ali Mustopa
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11, Nomor 2, Juni 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v11i2.1565

Abstract

Regional languages are one of the sources of Indonesian language development, therefore the existence of regional languages is very necessary to be maintained or preserved. Muna language is one of the regional languages in Southeast Sulawesi. The current position of the Muna Regional language has gone down. The condition of the local language-speaking community who is reluctant to use the local language and changes in the environment in which they live are one of the contributing factors. The purpose of this study was to describe the percentage level of survival of the vocabulary of the anatomy of the human body in the Muna language among Muna speakers at BTN Kendari Permai, Kendari City. This study used the theory of language survival, vocabulary, and ecolinguistics theory. The methods used in this research were qualitative and quantitative methods. The results of data analysis showed that the anatomical vocabulary of the human body in Muna language for Muna speakers at BTN Kendari Permai were still survives well. From the 40 respondents who filled out the questionnaire, 81% of the respondents still knew, understood and explained the names of their anatomy well. From the 60 vocabularies proposed in the questionnaire, 87% (52) of vocabulary still survive and 13% (8) of vocabularies have not survived.
Abbreviation in Social Media Account Status on Instagram - @Dasadlatif1212: A Morphological Approach Wa Ode Halfian; Silvani Rintan Ramadani; Fina Amalia Masri
SOSHUM : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 13 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/soshum.v13i2.156-168

Abstract

This research discussed “Abbreviation Process in Social Media Status on Instagram @dasadlatif1212 (Review of Morphology Aspect)”. This research is motivated by the widespread modification of the Indonesian language in social media status, both from ordinary people, celebrities, and religious leaders who are active on social media. This research aimed to describe the abbreviation process in social media status on Instagram @dasadlatif1212. This research method used a qualitative descriptive method with a morphological approach. The data in this study were in the form of words or sentences containing abbreviations written in 2020, while the source of data in this study was the status written by the Instagram account @dasadlatif1212. The results show that there are four abbreviation processes in the status of the social media account Instagram @dasadlatif1212, namely the process of letter retention, syllable retention, letter retention, and syllables and word abbreviations that summarize the basic lexeme or lexeme combination.
DEIKSIS DALAM TEKS ANEKDOT KORAN KOMPAS EDISI APRIL SAMPAI JULI 2019 Wa Ode Halfian; Rabiatul Adawiah; Fina Amalia Masri
Seshiski: Southeast Journal of Language and Literary Studies Vol 2 No 1 (2022): Volume 2, Issue 1, June 2022
Publisher : Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, Komisariat Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53922/seshiski.v2i1.7

Abstract

This research is motivated by the widespread appearance of anecdotal texts in the mass media, one of which is newspapers. This anecdote appears for various purposes and purposes. In order to understand the intent and purpose, the reader must be able to understand the meaning contained in the anecdote text. This research focused on anecdotal texts in the Kompas Newspaper in April to July 2019 editions. The problem in this research is questioning the types of deixis contained in anecdotal texts in the Kompas newspaper in April to July 2019 editions. Data collection techniques are online data retrieval techniques analyzed through a qualitative descriptive method. The study showed that the types of deixis contained in anecdotal texts in the April to July 2019 editions of Kompas Newspaper are covered; deixis of persona that consisted of the first persona deixis in the form of “I”, “I”, “we” and “we”, the second persona in the form of “you”, “you”, “you”, and “your bound form”, and the third persona of “he” and “they”. Deixis of space or place appears in the form of “this” and “here”, and the deixis of time is appeared in the form of “now”, “tomorrow”, and “then”.
MAKNA KONOTATIF DALAM KUMPULAN CERPEN PENJUAL BUNGA BERSYAL MERAH KARYA YETTI A.KA (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Elvia Cahya Andari; Wa ode Halfian
Cakrawala Listra: Jurnal Kajian Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia Vol. 2 No. 2 (2019): Volume 2, Nomor 2, Desember 2019
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/cakrawalalistra.v2i2.1376

Abstract

Cerpen-cerpen Yetti A.KA yang tergabung dalam kumpulan cerpen Penjual Bunga Bunga Bersyal Merah, banyak menyajikan tanda yang menarik untuk dikaji. Penelitian yang berjudul “Makna Konotatif dalam Kumpulan Cerpen Penjual Bunga Bersyal Merah Karya Yetti A.KA (Analisis Semiotika Roland Barthes)” penulis mengambil tiga judul cerpen di antaranya “Penjual Bunga Bersyal Merah”, “Laut Bertanya tentang Bulan”, dan “Jeruk-Jeruk yang Mengering di Kulkas”. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketiga judul cerpen dengan pendekatan semiotik Roland Barthes. Analisis dilakukan dengan cara memilah teks-teks yang berkaitan dengan makna konotatif. Kemudian teks-teks tersebut dianalisis mengggunakan lima kode Roland Barthes. Penelitian ini keterkaitan antar kode dan antar leksia ditafsirkan agar ditemukan makna yang kemudian makna-makna tersebut disimpulkan secara menyeluruh. Hasil penelitian tersebut menghasilkan makna dan pesan pada masing-masing cerpen.Dalam cerpen “Penjual Bunga Bersyal Merah” menekankan bahwa kepedulian, kasih sayang, dan perhatian adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap manusia.Pada cerpen “Laut Bertanya tentang Bulan” pada cerpen tersebut menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan khususnya mengenai hutan di Sumatera membawa kenyamanan kepada masyarakat yang ada di daerah tersebut.Cerpen “Jeruk-Jeruk yang Mengering di Kulkas” menekankan bahwa sikap buruk atau menuduh seseorang tanpa ada bukti yang nyata merupakan suatu hal yang tidak baik. Kata Kunci: Semiotika Roland Barthes, Lima Kode, Cerpen Yetti A.KA
KEBERTAHANAN KOSAKATA BAHASA KULISUSU DI BIDANG PERTANIAN DI DESA WAMOULE KECAMATAN KULISUSU UTARA KABUPATEN BUTON UTARA Wa Ode Fitri Ilviyanti; Wa Ode Halfian
Cakrawala Listra: Jurnal Kajian Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia Vol. 3 No. 2 (2020): Volume 3, Nomor 2, Desember 2020
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/cakrawalalistra.v3i2.1390

Abstract

Masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana tingkat kebertahanan kosakata bahasa Kulisusu di Bidang Pertanian di Desa Wamboule Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat kebertahanan kosakata bahasa Kulisusu di Bidang Pertanian di Desa Wamboule Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara. Adapun manfaat penelitian ini agar menambah khazanah pengetahuan tentang kajian ekolinguistik dan hasil penelitian ini dapat menambah referensi tantang kebertahanan kosakata bahasa Kulisusu khususnya di Bidang Pertanian, penelitian ini juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi penentu kebijakan terutama lembaga pembinaan bahasa sebagai bahan masukan dalam upaya pelestarian, penggembangan, dan dokumentasi bahwa bahasa daerah sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori ekolinguistik, penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebertahanan kosakata bahasa Kulisusu di Bidang Pertanaian di Desa Wambule Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara mencapai 75.8%. Kata Kunci: Kebertahanan, Kosakata, bahasa Kulisusu, Pertanian