Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Teater Wayang Kaca “Rawi Muksha” Satyana, I Kadek Handre; Putra, I Gusti Ngurah Gumana; Sidia, I Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 4 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3722

Abstract

Pertunjukan karya Teater Wayang Kaca dengan judul “Rawi Muksha” mengangkat tentang tema tentang Perjuangan wanita dengan tujuan untuk mencapai kehormatan yang tertinggi dikarenakan pada jaman globalisasi yang melibatkan generasi muda banyak mengalami kasus pelecehan seksual, kekerasan terhadap wanita dan lain- lain. Oleh karena itu penata menghubungkan pertunjukannya dengan cerita Sabha Parwa saat Dewi Drupadi yang dilecehkan pada saat perjudian antara pandawa dan korawa. Dengan diambilnya cerita tersebut memberikan pesan- pesan dan makna tentang wanita yang memperjuangkan sebuah kehormatannya hal ini ditujukan khusus untuk generasi muda pada jaman globalisasi saat ini khususnya (wanita). Berdasarkan metode sanggit kawi dalang bagian catur datu kaywa yang berisikan tentang pandulame, adicita adirasa, gunagina gunamanta, dan srana sasmaya dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat karya pertunjukan karena isiannya dapat mempermudah penata dalam membuat karya Teater Wayang Kaca “Rawi Muksha”. Oleh karena itu dengan adanya skrip karya mempermudah dan dapat dimanfaatkan oleh generasi muda (wanita) untuk mengetahui lebih jauh tentang wanita pada jaman dahulu memperjuangkan dan menjaga kehormatannya serta dari hal tersebut dapat menginspirasi generasi muda (wanita) untuk lebih menjaga etika dan tata krama karena hal tersebut terhadap kehidupan kedepannya.
Gugurnya Bhisma Oleh Srikandi: Studi Mengenai Refleksi Konsep Karma-Phala Melalui Cerita Mahabharata Mejaya, I Dewa Gede Jana; Wicaksana, I Dewa Ketut; Sidia, I Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 4 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i2.4386

Abstract

Mahabharata samapai saat ini termasyur dan memperoleh apresiasi serta direpresentasikan dalam berbagai ekspresi yang merefleksikan makna-makna kehidupan yang relevan bagi perseptornya. Bhisma sebagai putra mahkota kerajaan Kuru dikenal memiliki kemuliaan, keagungan, dan jiwa besar seorang kesatria, namun demikian Bhisma tidak terlepas dari ikatan sebab-akibat yang membuatnya harus berpihak pada sisi yang salah dan gugur dihadapan Srikandi. Tujuan penelitian ini, pertama, mengungkap kronologi detail gugurnya Bhisma dalam cerita Mahabharata dan menganalisis bagaimana cerita tersebut merefleksikan nilai Karma-Phala sebagai pembelajaran bagi peningkatan kualitas pengetahuan sosio-religius manusia. Metode yang digunakan adalah analisis teks dengan pendekatan hermeneutika untuk menafsirkan makna moral dan spiritual, dalam konteks karya sastra dan seni pertunjukan sebagai medium refelektor. Hasil penelitian menunjukkan, pertama gugurnya Bhisma terjadi setelah ia menerima serangan panah dari Srikandi, yang dipengaruhi oleh nasib dan karma masa lalu Bhisma yang dinilai menyakiti Srikandi di masa lalunya sebagai Dewi Amba. Kedua, Peristiwa ini merefleksikan konsep Karma-Phala dengan jelas, yang mana tindakan masa lalu Bhisma berkontribusi pada takdirnya. Cerita ini memberikan pembelajaran tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan kebajikan untuk mencapai hasil positif di masa depan. Terdapat makna moral yang kuat tentang pengorbanan dan ketulusan dalam cerita tersebut. Aspek spiritual dari gugurnya Bhisma juga mengajarkan tentang penerimaan terhadap hukum alam yang tak terhindarkan. Relevansi cerita ini dalam kehidupan modern menegaskan bahwa hukum Karma-Phala tetap menjadi panduan penting dalam menjalani kehidupan manusia, mengingatkan kita bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada.
Revitalisasi Wayang Wong Anak-Anak Di Desa Bona, Gianyar, Bali Ruastiti, Ni Made; Sidia, I Made; Yoga Kharisma Pradana, Gede; Suryani, Kadek; Anggreni, Putri
PUBLICA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): PUBLICA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, April 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/publica.v4i2.91

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk revitalisasi pertunjukan Wayang Wong anak-anak yang mulai terpinggirkan akibat putusnya regenerasi. Sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai budaya lokal dengan koreografi gerak yang lucu dan menghibur, Wayang Wong anak-anak semestinya tidak terpinggirkan pada masyarakat desa Bona, di Gianyar. Akan tetapi, terlihat sangat jarang dipentaskan karena masalah kader penarinya.  Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metode R&D dengan tahapan identifikasi kebutuhan mitra, serta tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi rancangan untuk keberlanjutan rancangan model pertunjukan yang ditopang oleh hasil analisis kualitatif dalam perspektif kajian budaya. Hasil menunjukan bahwa revitalisasi Wayang Wong Anak-Anak berhasil dilakukan dengan menciptakan Wayang Wong Anak-Anak Inovatif untuk upacara di Pura Dalem Desa Bona, Gianyar dengan bantuan Sanggar Paripurna selaku mitra. Wayang Wong Anak-Anak Inovatif ini adalah purwarupa yang dihasilkan berdasarkan penelitian dasar, sosialisasi rancangan, pelatihan artistik, pendampingan, evaluasi dan upaya penguatan eksistensi melalui teknologi & media promosi. Dengan berminatnya anak-anak di desa Bona menari Wayang Wong Anak-Anak Inovatif maka telah menanggulangi masalah krisis regenerasi penari Wayang Wong sebagai salah satu penyebab Wayang Wong terpinggirkan dalam kebudayaan masyarakat lokal di Desa Bona, Gianyar.
Artikel Kilit Kalut: Teater Pakeliran sebagai Representasi Konflik Batin Tokoh Salya: Kilit Kalut: Teater Pakeliran sebagai Representasi Konflik Batin Tokoh Salya Wahyu Widiyantara, I Komang; Sidia, I Made; Widnyana, I Kadek; Akbar, Hanolda Gema
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 6 No 1 (2026): Mei
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v6i1.6553

Abstract

The creation of the puppetry performance Kilit Kalut is grounded in the need to expand the aesthetic and social functions of Balinese puppetry in responding to contemporary human inner conflicts. Traditional puppetry has predominantly emphasized external conflicts, leaving psychological dimensions underexplored. This study aims to represent the inner conflict of Salya from the Kakawin Baratayudha through a teater pakeliran framework as an artistic innovation. A qualitative-descriptive method with a practice-based research approach was employed, utilizing Harymawan’s 4M stages (imagining, writing, performing, observing), supported by rehearsal observations, textual analysis, and cross-media artistic exploration. The results demonstrate that the integration of Balinese shadow puppetry, live actors, lighting design, and gamelan effectively constructs a symbolic and dramatic representation of psychological duality. This innovation repositions puppetry as a medium for existential reflection rather than mere entertainment or ritual performance.  This study introduces inner conflict as the central dramaturgical axis in Balinese puppetry through an integrative teater pakeliran approach. In conclusion, the study contributes to the development of contemporary puppetry aesthetics while sustaining traditional values within a modern cultural context.