Articles
Karakterisasi Bentuk Tokoh Anoman Dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati
Wijna Bratanatyam, I Bagus
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5183.933 KB)
|
DOI: 10.31091/sw.v6i1.360
Wayang Kulit Ramayana merupakan pertunjukan wayang kulit yang sumber lakonnya dari wiracerita Ramayana dengan musik iringan babatelan gender wayang. Ciri khas dari pertunjukan ini yaitu pada saat penampilan palawaga atau tokoh-tokoh kera. Salah satu tokoh kera yang dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati mendapatkan porsi penampilan karakterisasi mengkhusus yaitu Anoman. Anoman merupakan panglimna pasukan kera Gua Kiskenda yang mengabdi kepada Rama. Hal ini menarik untuk diteliti khususnya pengkarakteran tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana gaya Sukawati. Penelitian ini ini bertujuan untuk menguraikan dan menjelaskan bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati yang terdiri dari : 1. Bagian Atas (kepala)Tokoh Anoman, 2. Bagian Tengah (badan) Tokoh Anoman, 3. Bagian Bawah (kaki) Tokoh Anoman. Dengan menggunakan metode kualitatif, dan analisis deskriptif analisis. Penelitian yang mengaplikasikan teori semiotika ini menghasilakan kesimpulan bahwa bentuk dari tokoh Anoman sangat kompleks baik dilihat dari anatominya dari bagian atas, tengah dan bawah yaitu berbentuk kera menyerupai manusia maupun dilihat dari tata busananya yang dikenakan. Sehingga dapat dipahami karakterisasi bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.Wayang Kulit Ramayana is a leather puppet show which is the source of the play from wiracerita Ramayana with music of babatelan gender wayang. The characteristic of this performance is at the appearance of palawaga or ape characters. One of the monkey figures in the Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati get the portion of the special characterization performance Anoman. Anoman is a panglimna of Kiskenda Cave monkeys who serve Rama. This is interesting to examine in terms of what pengkarakteran figure Anoman in Wayang Kulit Ramayana style Sukawati. This research aims to describe and explain the form of Anoman figure in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati consisting of: 1. Top (head) Anoman figure, 2. Central (body) Anoman figure, 3. Underside (foot) Anoman figure . This research is a qualitative research, with descriptive method of analysis. Based on the semiotics overburden foundation to analyze the data, it can be concluded that the shape of Anoman figure is very complex whether it is seen from the anatomy of the top, middle and bottom that is human-like ape shape and seen from the fashion charged. So that can be understood characterization of Anoman figure form in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.
Nilai-Nilai Tradisi dan Modernitas Pada Karya Nyoman Gunarsa
Nuriarta, I Wayan;
Wijna Bratanatyam, I Bagus
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 6 No 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.639 KB)
|
DOI: 10.31091/sw.v6i2.551
Dalam lukisannya, Gunarsa melakukan penggalian nilai dan spirit yang terkandung dalam entitas budaya dan seni tradisional Bali. Pada konteks ini, Gunarsa juga menyerap tradisi seni modern yaitu; fine art (seni murni) melalui bangku akademis. Gunarsa melahirkan estetika â€baru†dari penggabungan kaidah-kaidah modern dengan nilai-nilai tradisi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dalam bentuk kajian akademis terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Seni Lata Mahosadhi ISI Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif untuk mengumpulkan, menyaring dan menganalisis data. Teori kritik seni Feldman digunakan dalam kajian terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa dimulai dengan deskripsi dan analisis formal terhadap aspek-aspek formal, dilanjutkan dengan interpretasi terhadap keterkaitan aspek formal tersebut dengan representasi nilai-nilai tradisi dan modernitas dan terakhir evaluasi. Data tersebut dijabarkan secara deskriptif untuk mendapatkan hasil yang jelas terhadap masalah-masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Setelah semua data dianalisis dan dibahas secara mendalam, langkah terakhir adalah menyimpulkan temuan-temuan yang diperoleh sesuai dengan data yang ada, yang didasarkan pada ruang lingkup permasalahan yang dikaji.In his painting, Gunarsa explores the values and spirit contained in artistic entities and Balinese traditional culture. In this context, Gunarsa also absorbs modern art traditions, named; fine art through formal studies. Gunarsa has founded a “new†aesthetic of paintings by combining the modern principles with Balinese traditional values. This study aims to increase knowledge in the form of academic studies on the works of Nyoman Gunarsa stored in the Lata Mahosadhi Art Documentation Center, ISI Denpasar. This study uses a qualitative research design to collect, filter and analyze the data. Feldman’s art criticism theory used in this study of Nyoman Gunarsa’s works. It begins with a formal description and analysis of the formal aspects, followed by an interpretation of the relationship between the formal aspects and the representation of traditional values and its modernity, and then the evaluation. The data is described descriptively to get clear results on the problems proposed in this study. After all the data are analyzed and discussed deeply, then the final step is to conclude the finding items from the available data, which is based on the scope of the problem being examined.Â
Karakterisasi Bentuk Tokoh Anoman Dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati
I Bagus Wijna Bratanatyam
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5183.933 KB)
|
DOI: 10.31091/sw.v6i1.360
Wayang Kulit Ramayana merupakan pertunjukan wayang kulit yang sumber lakonnya dari wiracerita Ramayana dengan musik iringan babatelan gender wayang. Ciri khas dari pertunjukan ini yaitu pada saat penampilan palawaga atau tokoh-tokoh kera. Salah satu tokoh kera yang dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati mendapatkan porsi penampilan karakterisasi mengkhusus yaitu Anoman. Anoman merupakan panglimna pasukan kera Gua Kiskenda yang mengabdi kepada Rama. Hal ini menarik untuk diteliti khususnya pengkarakteran tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana gaya Sukawati. Penelitian ini ini bertujuan untuk menguraikan dan menjelaskan bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati yang terdiri dari : 1. Bagian Atas (kepala)Tokoh Anoman, 2. Bagian Tengah (badan) Tokoh Anoman, 3. Bagian Bawah (kaki) Tokoh Anoman. Dengan menggunakan metode kualitatif, dan analisis deskriptif analisis. Penelitian yang mengaplikasikan teori semiotika ini menghasilakan kesimpulan bahwa bentuk dari tokoh Anoman sangat kompleks baik dilihat dari anatominya dari bagian atas, tengah dan bawah yaitu berbentuk kera menyerupai manusia maupun dilihat dari tata busananya yang dikenakan. Sehingga dapat dipahami karakterisasi bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.Wayang Kulit Ramayana is a leather puppet show which is the source of the play from wiracerita Ramayana with music of babatelan gender wayang. The characteristic of this performance is at the appearance of palawaga or ape characters. One of the monkey figures in the Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati get the portion of the special characterization performance Anoman. Anoman is a panglimna of Kiskenda Cave monkeys who serve Rama. This is interesting to examine in terms of what pengkarakteran figure Anoman in Wayang Kulit Ramayana style Sukawati. This research aims to describe and explain the form of Anoman figure in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati consisting of: 1. Top (head) Anoman figure, 2. Central (body) Anoman figure, 3. Underside (foot) Anoman figure . This research is a qualitative research, with descriptive method of analysis. Based on the semiotics overburden foundation to analyze the data, it can be concluded that the shape of Anoman figure is very complex whether it is seen from the anatomy of the top, middle and bottom that is human-like ape shape and seen from the fashion charged. So that can be understood characterization of Anoman figure form in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.
Nilai-Nilai Tradisi dan Modernitas Pada Karya Nyoman Gunarsa
I Wayan Nuriarta;
I Bagus Wijna Bratanatyam
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.639 KB)
|
DOI: 10.31091/sw.v6i2.551
Dalam lukisannya, Gunarsa melakukan penggalian nilai dan spirit yang terkandung dalam entitas budaya dan seni tradisional Bali. Pada konteks ini, Gunarsa juga menyerap tradisi seni modern yaitu; fine art (seni murni) melalui bangku akademis. Gunarsa melahirkan estetika â€baru†dari penggabungan kaidah-kaidah modern dengan nilai-nilai tradisi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dalam bentuk kajian akademis terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Seni Lata Mahosadhi ISI Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif untuk mengumpulkan, menyaring dan menganalisis data. Teori kritik seni Feldman digunakan dalam kajian terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa dimulai dengan deskripsi dan analisis formal terhadap aspek-aspek formal, dilanjutkan dengan interpretasi terhadap keterkaitan aspek formal tersebut dengan representasi nilai-nilai tradisi dan modernitas dan terakhir evaluasi. Data tersebut dijabarkan secara deskriptif untuk mendapatkan hasil yang jelas terhadap masalah-masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Setelah semua data dianalisis dan dibahas secara mendalam, langkah terakhir adalah menyimpulkan temuan-temuan yang diperoleh sesuai dengan data yang ada, yang didasarkan pada ruang lingkup permasalahan yang dikaji.In his painting, Gunarsa explores the values and spirit contained in artistic entities and Balinese traditional culture. In this context, Gunarsa also absorbs modern art traditions, named; fine art through formal studies. Gunarsa has founded a “new†aesthetic of paintings by combining the modern principles with Balinese traditional values. This study aims to increase knowledge in the form of academic studies on the works of Nyoman Gunarsa stored in the Lata Mahosadhi Art Documentation Center, ISI Denpasar. This study uses a qualitative research design to collect, filter and analyze the data. Feldman’s art criticism theory used in this study of Nyoman Gunarsa’s works. It begins with a formal description and analysis of the formal aspects, followed by an interpretation of the relationship between the formal aspects and the representation of traditional values and its modernity, and then the evaluation. The data is described descriptively to get clear results on the problems proposed in this study. After all the data are analyzed and discussed deeply, then the final step is to conclude the finding items from the available data, which is based on the scope of the problem being examined.Â
DEVELOPMENT OF GENDING GENDER WAYANG BANASPATI TENGANAN PEGRINGSINGAN KARANGASEM STYLE IN BANJAR LUMINTANG, DAUH PURI KAJA VILLAGE, DENPASAR UTARA DISTRICT, KODYA. DENPASAR
I Gusti Putu Sudarta;
I Bagus Wijna Bratanatyam;
Ni Putu Hartini
Abdi Seni Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33153/abdiseni.v12i2.3912
AbstrakPenelitian ini mengenai pembinaan atau pelatihan gending Banaspati dari Desa Tenganan Pegringsingan. Komposisi gending Banaspati ini merupakan gending gender terpanjang setelah gending Bimaniu yang terdiri dari 11 palet (bagian). Saat sekarang ini Gending Banaspati di Desa Tenganan Pegringsingan tidak lagi ada yang mempelajarinya karena generasi muda di sana tidak ada yang tertarik dan berminat untuk belajar menabuh gender wayang. Metode pelaksanaan dalam pembinaan ini yaitu metode demonstrasi dengan cara menceritakan dan memperagakan bagian-bagian dari Gending Banaspati. Tujuan penelitian ini adalah menyelamatkan atau merekontruksi gending Banaspati sehingga tidak mengalami kepunahan. Hasil dari pembinaan ini menunjukkan Gending Banaspati dapat dikuasai dengan baik oleh peserta pelatihan di Sanggar Seni Pasraman Prabha Budaya Denpasar. Keberhasilan penguasaan gending yang tergolong panjang ini karena diterapkannya metode pelaksanaan penuangan gending yang tepat dan efektif, seperti membagi gending yang panjang menjadi phrase-phrase dan pattern-pattern. Phrase-phrase dan pattern-pattern yang menjadi vokabuler pembelajaran untuk menguasai keseluruhan lagu dan secara otomatis juga meningkatkan kemampuan teknik permainan menabuh gender wayang. Kata Kunci: Pembinaan, Gending Banaspati, Gender Wayang AbstractThis research is about the couching or training of song or gending Banaspati from Tenganan Pegringsingan Village. Gending Banaspati's composition is the longest gending gender wayang after Bimaniu consisting of 11 pallets (parts). Currently Gending Banaspati in Tenganan Pegringsingan Village is almost gone since the interest in learning of gender wayang decreasing especially for the younger generation. The method of implementation in this training is a method of demonstration by demonstrating parts of Gending Banaspati. The purpose of this study was to preserve or reconstruct gending Banaspati so that it would not be extinct.. The results of this training has shown Gending Banaspati could be mastered well by trainees in Sanggar Seni Pasraman Prabha Budaya Denpasar. The successful in mastering of this relatively long gending or song because of the appropriate application and effective methods of presenting gending, such as dividing long gending into phrases and patterns. Phrases and patterns that became learning vocabuler to master the entire gending and automatically also improved the ability of playing techniques in gender wayang . Keywords: Construction, Gending Banaspati, Gender Wayang
TARI KREASI BARIS NADEWA
I Gede Gunadi Putra;
I Gede Mawan;
I Bagus Wijna Bratanatyam
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tari kreasi Baris Nadewa merupakan tarian kreasi baru yang dalam penyajiannya dibawakan oleh dua orang penari pria membawa properti tombak yang kedua ujungnya berbentuk pedang dan diiringi instrumen gamelan Gong Kebyar. Tarian ini merepresentasikan kegagahan dan jiwa patriotisme Nakula dan Sahadewa bertempur di medan laga. Terciptanya tarian ini terinspirasi dari tokoh Nakula dan Sahadewa dalam cerita Mahabharata dan ide gerakannya berasal dari pengembangan gerak tari bebarisan yang sudah ada sebelumnya. Terciptanya tarian ini tiada lain karena merespon adanya paham-paham radikalisme yang mulai meracuni nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme para generasi muda pada khususnya, karena dapat memecah persatuan bangsa. Dengan disajikan melalui gerak yang dinamis dan tegas, secara tidak langsung penciptaan karya tarian ini ingin menyampaikan pesan pentingnya menumbuhkan sikap patriotisme, seperti pemberani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna mengetahui elemen estetis dan makna dari bentuk penyajian tari kreasi Baris Nadewa.
Motivation for Creating the Baris Nadewa Creation Dance in the New Normal Era
I Gede Gunadi Putra;
I Gede Mawan;
I Bagus Wijna Bratanatyam
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 5 No. 2 (2022): October
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/lekesan.v5i2.2156
Baris Nadewa creation dance is one of the male dance creations whose existence is still relatively new in Bali. The duration of this dance is approximately 10 minutes and in each performance, this dance is accompanied by the Gong Kebyar gamelan instrument. Baris Nadewa dance is a duet dance because it is performed by two male dancers and each carries the property of a spear that looks like a bow. This dance represents the bravery and patriotism of Nakula and Sahadewa fighting on the battlefield. The creation of this dance was inspired by the characters Nakula and Sahadewa who are part of the Five Pandavas in the Mahabharata story. The idea of the movement comes from the development of the bebarisan dance movement (a traditional dance genre in Bali) that already existed before. The form of presentation of this dance represents the spirit of patriotism, courage, and skill of Nakula and Sahadewa in martial arts while on the battlefield. The motivation for creating this dance is none other than responding to the existence of radicalism that has begun to poison the younger generation in particular which can break up national unity. Presented through dynamic and firm movements, indirectly the creation of this dance work wants to convey the message of the importance of cultivating patriotism, such as being brave, never giving up, and being willing to sacrifice for the nation and state. This study uses a qualitative descriptive research method to determine the function and motivation for the creation of the Baris Nadewa dance.
Wayang Arja Inovatif “Tresnasih Japatuan Mencari Istri yang Sudah Meninggal Hingga ke Sorga”
Dwipayana, I Made Pasek Ari;
Hendro, Dru;
Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1862
Eksistensi Wayang Arja selalu mengalami penurunan, sehingga membuat penggarap tertarik untuk ikut melestarikan Wayang Arja. Penggarap menggarap Wayang Arja dalam nuansa inovatif yang berjudul “Tersnasih Sang Sutindih”, yang di maksud inovatif adalah memasukkan Wayang Arja ke dalam pertunjukan pakeliran layar lebar, menggunakan sumber pencahayaan LCD Proyektor dengan Scenerry dan penggunaan musik midi. Dalam garapan ini pastinya menggunakan metode untuk proses penggarapan yang lebih sistematis, metode yang penggarap gunakan adalah metode yang diajukan oleh Prof. M. Alma Hawkins, yaitu: a. Tahapan Ekploration (Eksplorasi), b. Tahapan Improvisasi (Percobaan), c. Tahapan Forming (Pembentukan). Penggarap berharap dengan diwujudkannya garapan ini mampu menjadi pemantik untuk para dalang, terutama dalang muda agar dapat ikut serta melestarikan Wayang Arja ke depannya.
Penciptaan Karya Wayang Goni Tiga Dimensi “Quarter Life Crisis”
Rahyuda, I Nyoman Darma;
Sidia, I Made;
Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3721
Pada dasarnya konsep dari Wayang Goni Tiga Dimensi ini adalah terapan dan pengembangan dari pertunjukan wayang konvensional. Dimana pesan atau tetuek yang disampaikan oleh dalang dapat diterapkan dikehidupan manusia. Akan tetapi, berkembangnya jaman dan tingkatan umur manusia yang cenderung menyukai sesuatu hal yang baru, disini penulis ingin menyampaikan pesan atau tetuek tersebut dengan media dan pertunjukan yang sedikit modern. Penciptaan karya seni Wayang Goni Tiga Dimensi ini mengangkat konflik permasalahan yang terjadi pada anak muda dengan rentang usia 20-30 tahun, yang biasa disebut dengan quarter life crisis. Dalam fenomena ini akan merasakan sebuah kecemasan atau kekhawatiran terhadap masa depan mereka sendiri karena banyaknya tingkatan ekonomi sosial masyarakat yang berbeda-beda. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Teori Kawi Dalang yang digagas oleh Prof. I Nyoman Sedana, yaitu Pandulame (Alam Imajinasi Keindahan), Adicita Adirasa ( Ide dan Rasa ), Sranasasmaya ( Media atau Sarana ), Gunatama ( Skill dan Bakat Keterampilan Khusus). Dalam garapan Wayang Goni Tiga Dimensi Quarter Life Crisis mengandung nilai-nilai estetika didalamnya, dapat dilihat pada pengkarakteran sebuah Wayang Goni Tiga Dimensi yang menganalogikan dua perbedaan sifat manusia yang bersifat kontras dan tidak bisa bersatu, hal ini tercantum dalam mitologi hindu yaitu Rwa Bhineda. Serta penggunaan media motions graphic yang dikombinasi dalam seni pertunjukan teater Wayang Goni Tiga Dimensi, yang menambah nilai visual yang cukup tinggi dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan penulis. Komposisi musik yang digunakan dalam wayang ini menggunakan konsep film dengan bentuk musik yang cenderung melankolis dari piano dan memunculkan visual musik dari setiap adegannya.
Wayang Pakeliran “Caru Somya Hita”
Subamia, Ngurah Bagus;
Sedana, I Nyoman;
Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3741
Studi/projek independen dilatarbelakangi oleh tujuan adalah suatu progam pembelajaran yang dimana memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan pembelajaran diluar lingkungan kampus seperti di sanggar, komunitas, dan lain-lain. Tujuan dari progam ini tiada lain yaitu mengembangkan potensi-potensi dalam menciptakan suatu karya pertunjukan bagi mahasiswa itu sendiri yang akan dibimbing langsung mitra dari sanggar tersebut sehingga kedepannya bisa menjadikan seniman yang berakademisi dan dipercaya oleh masyarakat setempat, dan juga sebagai syarat perkuliahan progam MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) saat ini. Pada kesempatan kali ini penata memilih Sanggar Seni Buratwangi di pulau Lombok Provinsi NTB. Penciptaan karya Pakeliran Wayang “caru Somya Hita” kali ini, yaitu menggunakan metode berbasis riset (penelitian) yang bernama teori Sanggit (Kawi Dalang). Metode ini terdiri dari Catur Datu Kawya yang digunakan untuk merumuskan dan mewujudkan suatu konsep sehingga tercipta suatu produk atau karya seni. Pakeliran Wayang ini tidak jauh berbeda dengan pakeliran wayang tradisi, aspek tradisipun dilibatkan kedalam sebuah karya ini dengan penambahan komponen- komponen yang tidak digunakan pada pakem tradisi, tujuan untuk lebih menambah minat masyarakat dalam menonton pertunjukan wayang yang adiluhung. Penulis memiliki harapan untuk semua hasil garapan mahasiswa dan para seniman agar dapat berkarya dengan baik. Berkarya seni atau penuangan imajinasi kedalam benda pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah sesuatu agar mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran gambaran yang baru, komponen sederhana tentunya pasti bisa menjadi berguna dan bernilai jual tinggi jika kita pandai untuk mengolah komponen itu dengan kreasi dan pemikiran yang kreatif.