Ade Afriansyah
Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Term أولياء dalam Al-Qur’an: Analisis Karya Tafsir di Indonesia Abad ke- 17, 18, dan 19 M Mahdini Mahdini; Taufik Warman Mahfuzh; Ade Afriansyah
Syams Vol 2, No 1 (2021): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Syams: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.375 KB)

Abstract

Tair Ababil : Perspektif Muhammad Abduh dan Wahbah az-Zuhaili Muhammad Azmi; Akhmad Dasuki; Ade Afriansyah
Syams Vol 1, No 2 (2020): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Syams: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.554 KB)

Abstract

In interpreting “Tair Ababil”, there are many differences in the various narrations regarding the meaning (definition) of Tair Ababil. Some interpret it rationally and some interpret suprational. The problem examined in this article is: what is meant by Tair Ababil in Qur’an, and how do Muhammad Abduh and Wahbah az-Zuhaili interpret the Tair Ababil? The type of research used in this paper is library research using a qualitative approach. The methods used in this research are thematic method (al-dirasah al-maudhu’iyyah) and comparison method (Muqaran) with descriptive-analysis and comparative-analysis data analysis techniques. The authors concludes, in Qur’an, when mentioning birds with lapaz “tair”, the context is birds in general, whereas when mentioning birds specifically, Qur’an will directly mention names such as “guraban” and “hud-hud”. Muhammad Abduh interpreted “Tair Ababil” as flies, mosquitoes and even microbes, which carry smallpox disease while Wahbah az-Zuhaili interpreted “Tair Ababil” as a group of the smallest black birds carrying stones that cause smallpox. Muhammad Abduh and Wahbah az-Zuhaili have differences and similarities in interpreting “Tair Ababil”, differing in the method of interpretation of Muhammad Abduh with ra’yu and Wahbah az-Zuhaili with riwayah. The same in interpreting the intermediary Tair Ababil destroying Abrahah and his troops, namely the spread of smallpox brought by Tair Ababil.
Analisis Living Qur’an pada  Tradisi Banyu Pelungsur dalam Persalinan Muslipah; Akhmad Dasuki; Cecep Zakarias El Bilad; Ade Afriansyah
Syams Vol 5 No 1 (2024): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/x7d3nz96

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali proses penggunaan, pemaknaan serta diperolehnya ayat yang dijadikan sebagai bacaan dalam tradisi Banyu Pelungsur. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif analisis. Pendekatan dalam penelitian ini adalah fenomenologi dengan menggunakan Teori Resepsi Ahmad Rafiq. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Adapun lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, dengan jumlah subjek 14 bidan kampung yang masuk dalam syarat dan kriteria penelitian. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa bidan kampung mengobati pelancar persalinan mengunakan ayat Al-Qur’an dengan alternatif air sebagai pengobatan. Selanjutnya, ayat yang digunakan dalam bacaan pelancar persalinan dengan membaca surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Ayat kursi, At-Takasur, Al-Fil, do’a Nabi Yunus yang ditelan Ikan Nun yang terdapat dalam surah Al-Anbiya dan do’a siti Maryam pada saat melahirkan Nabi Isa AS. Dalam tradisi Banyu Pelungsur ini terdapat resepsi fungsional dimana ayat tersebut berfungsi sebagai pelancar persalinan. Tradisi ini berasal turun-temurun dari orang tua, guru dan ustadz.