Subi Nur Isnaini
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Tafsir Adabi-Ijtima'i di Kawasan al-Gharb al-Islami: Studi Komparasi Tafsir Ibn Badis dan Mohammed Al-Makki Al-Nashiri Fauzan Adim; Subi Nur Isnaini
QOF Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Keiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.31 KB) | DOI: 10.30762/qof.v5i2.70

Abstract

This paper discusses the interpretation pattern of adabi ijtima>'i in al-Gharb al-Isla>mi’s area by studying the Ibn Badis’s book, Maja>lis al-Tadhki>r and Mohammed al-Makki al-Nashiri’s book, al-Taysi>r fi> Ah}>adi>th al-Tafsi>r. This study aims to describe, analyze, and compare the interpretation patterns and tendencies of Ibn Badis and al-Nashiri in their interpretations using historical approach. The results showed that both mufassir carried the same approach in interpreting the Qur'an. They are using the adabi ijtima>'i’s style in their works to improving the social order and solving social problems of their communities. But the difference is Ibn Badis uses his interpretation to counter French colonialism and improve the life of the Algerian Muslim community in general. He called on all parties of his community in Algeria, including the leaders, people, and ulama to unite to continue their struggle against the invaders. Meanwhile, al-Nashiri, even though he lived during the French occupation of Morocco and during the independence of Morocco, but his commentary was written or rather delivered to the public after independence, so that the nuances of the interpretation of adabi ijtima>'i attached to al-Taysi>r fi> Ah}>adi>th al-Tafsi>r talked more about improving the bureaucracy, morals and behavior, interaction between people and responding to the phenomenon of society's reality which he considered to be out of the guidance of the Qur'an.
Harmonizing Religious Discourse and Power In The Implementation Of Gender Equality Arisy Abror Dzukroni; Subi Nur Isnaini
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.221.1-13

Abstract

Pemahaman teks-teks keagamaan yang tidak komprehensif menjadi awal tuduhan atas ketidaksesuaian konsep gender dan feminism dengan ajaran Islam. Sebagian feminis menyebutnya dengan interpretasi agama yang patriarkis. Namun seringkali feminis muslim terjebak dan hanya focus pada pemahaman ulang atas wacana agama dan tidak memperhatikan bagaimana pemahaman-pemahaman baru tersebut dapat diterapkan. Feminis sosialis yang lebih cenderung memperhatikan aspek sosial di dalam masyarakat memiliki pemikiran yang lebih aplikatif. Penelitian ini berusaha untuk menggabungkan kedua corak pemikiran feminism tersebut dalam rangka optimasi kesetaraan gender. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini dilengkapi data primer dari karya empat tokoh yang dijadikan sampel penelitian, yakni Nawal El-Saadawi dan Michel Foucault sebagai representasi dari feminis social serta Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir sebagai representasi dari feminis Islam. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa pemikiran feminis Islam yang lebih menitikberatkan pada reinterpretasi agama dapat dipadukan dengan pemikiran feminis sosialis yang banyak berfokus pada kajian kekuasaan yang patriarkis. Implementasi kajian agama yang moderat dapat dilakukan melalui konsep kekuasaan yang tidak patriarkis. [The incomprehensible understanding of religious texts is the beginning of accusations of incompatibility between the concepts of gender and feminism with Islamic thoughts. The feminists call it a patriarchal interpretation of religion. However, Islamic feminists are often trapped and only focus on re-understanding religious discourse and ignore how these new understandings can be applied. Socialist feminists who tend to pay more attention to social aspects in society have more applicable thoughts. This study seeks to combine the two styles of feminist thought to optimize gender equality. This study used qualitative research methods and used primary sources from four feminists expert, namely Nawal El-Saadawi, Michel Foucault, and as socialist feminists Amina Wadud and Faqihuddin Abdul Kadir as an Islamic feminist. The results said that Islamic feminist thought, which focuses more on religious reinterpretation, can be combined with socialist feminist thought, which focuses on studying patriarchal power. Implementing religious moderation studies can be done through the intermediary of the non-patriarchal power.]
Fenomena Konten Video Quotes Islami di Media Sosial dalam Akun Instagram @Kulometer_ (Kajian Living Qur'an) Haniefa Ayunafa Pratiwi; Subi Nur Isnaini
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i2.282

Abstract

Media sosial yang saat ini masih digandrungi oleh masyarakat adalah instagram. Tentunya di dalam instagram banyak memuat unsur-unsur di setiap postingannya, contohnya postingan dalam instagram mengenai hal keagamaan yaitu tentang postingan quotes islami yang memuat postingan mengenai ayat-ayat al-Qur’an (qur’anic quotes). Salah satu akun yang menampilkan konten-konten yang berisi tentang berbagai macam konten Islamic quotes, reminder, dan islamic story adalah @kulometer_. Uniknya, setiap konten video quotesnya ini selalu menggunakan background atau latar video dari artis K-Pop yang bernama Jaemin, baik di dalam konten tentang quotes-quotes biasa maupun quotes yang mengandung ayat al-Qur’an, hadis, maupun cerita Islami. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang didukung dengan teori tindakan sosial Max Weber yang berorientasi pada motif dan tujuan pelaku.  Di dalam penelitian ini menjelaskan alasan kreator (pemilik akun) menggunakan artis K-Pop; Jaemin di dalam kontennya. Hal ini ia lakukan agar para K-Popers tertarik untuk melihat pesan apa yang disampaikan didalamnya, terlebih lagi disaat konten tersebut mengandung unsur keagamaan, seperti quotes reminder untuk senantiasa mengingat Tuhannya. Sehingga, hasil yang di dapat mengandung pesan yang ingin disampaikan oleh pemilik akun @kulometer_ ini kepada para followersnya maupun kepada netizen lain, seperti pesan-pesan yang bersifat keagamaan yang dimana sumbernya dikutip dari al-Qur’an langsung. Isi dari konten-konten tersebut sebagai pengingat atas dirinya dan juga yang lainnya agar senantiasa melakukan perbuatan yang baik, menjauhi perbuatan yang mungkar dan buruk, tidak terlalu terlena dengan hal duniawi, hingga senantiasa untuk selalu mencintai Allah dibanding hal duniawinya. Kata kunci: Fenomena, Instagram, Quotes, K-Pop
Meta Analisis Urgensi Konseling Teman Sebaya di Pondok Pesantren Nurul Fitrian Eko Saputro; Subi Nur Isnaini; Casmini Casmini
Al-Ihath: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. 3 No. 2 (2023): July
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Institut Attanwir Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53915/jbki.v3i2.343

Abstract

Tulisan ini ingin memberikan pemetaan terhadap urgensi pelayanan konseling teman sebaya dalam lingkungan pondok pesantren. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekaan meta analisis menganalisis konten dari studi terdahulu. Hasil penelitian ini adalah menampilkan pemetaan tentang pentingnya penerapan konseling teman sebaya atau peer counseling yang ditinjau dari sudut pandang santri, pengelola pesantren, dan kiai yang menjadi unsur dari pesantren. Argumen ini dibangun dengan melihat bahwa pesantren menjadi salah satu institusi yang masih perlu dilakukan pengoptimalan pengaplikasian layanan konseling. Melihat kompleksnya permasalahan yang ada terlebih yang dialami oleh santri.