p-Index From 2021 - 2026
0.778
P-Index
This Author published in this journals
All Journal INSANI
Nelson Holong Parapat
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Perempuan Lembut Yang Perkasa Kandungan Ideologi dalam Novel Perempuan Keumala Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 3 No 2 (2016): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.459 KB)

Abstract

Tulisan ini menyajikan bahwa dalam penggambaran kehidupan nyata, media terlibat untuk memproduksi ideologi dan seluruh teks media apapun kategorinya apakah berita atau drama atau feature, iklan dan konten lainnya berusaha memproduksi ideologi. Secara reguler media menyajikan gambaran dunia dengan cara membuat asumsi tentang dunia yang direpresentasikannya. Demikian halnya juga pada buku novel sebagai salah satu bentuk media dari berbagai media yang ada di masyarakat. Novel epos Perempuan Keumala yang ditulis Endang Moerdopo, diasumsikan mengandung muatan ideologi dari penulisnya. Oleh karena itu, makalah ini akan mendeskripsikan gambaran tentang ideologi yang dimaksud, yang bukan secara tersurat melainkan tersirat dalam cerita keperkasaan dan kepahlawanan seorang perempuan, Keumalahayati, yang lembut dan rupawan. Sebagai hasil analisis, disimpulkan bahwa yang perlu dikaji lebih mendalam lagi adalah apakah ideologi dalam novel Perempuan Keumala ini benar-benar merupakan suatu ideologi yang dapat dikategorikan sebagai ideologi yang murni ideologi perempuan. Pertanyaan kritis ini muncul, karena budaya yang berlaku di masyarakat adalah budaya yang merupakan produk dari dunia laki-laki. Bahkan makna simbol-simbol yang digunakan di masyarakat mengenai perempuan berasal dari dan diciptakan oleh kaum laki-laki, yang notabene juga digunakan kaum perempuan dalam merepresentasikan ide atau gagasan mereka tentang persamaan hak terhadap perempuan. Renungan kritis ini juga sebagai titik tolak rekonstruksi lebih lanjut dalam pencarian ideologi yang benar-benar murni dari, oleh dan untuk perempuan.
Perspektif Ekonomi Politik Media D’Academy Indosiar Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 4 No 1 (2017): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.531 KB)

Abstract

Tulisan ini memaparkan masalah ekonomi-politik media di bidang komunikasi massa. Kajian ekonomi politik media merupakan salah satu kajian komunikasi yang dilandasi pemikiran kritis mengenai media massa yang memandang media sebagai saluran dalam proses pertukaran komoditas di pasar bebas dalam kaitannya dengan pemanfaatan faktor politik dan kekuasaan guna berkompetisi dan memberikan kepuasan terhadap khalayaknya. Program siaran D’ Academy (DA) Indosiar diduga merupakan program siaran andalan Indosiar dalam meningkatkan rating penyiaran, sehingga dimensi politis yang menyangkut penyiaran diarahkan untuk menciptakan keterdukungan untuk terselenggaranya program siaran ini. Perspektif ekonomi-politik media memandang bahwa, melalui program siaran D’ Academy telah terjadi apa yang disebut komodifikasi. Komodifikasi berhubungan dengan bagaimana proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar. Komodifikasi D’Academy Indosiar telah merubah perspektif dangdut yang tadinya sebagai produk asli budaya tradisional Indonesia menjadi produk budaya komersial yang mempunyai potensi untuk mendatangkan laba dengan cara menggarap secara profesional dalam dunia kerja industri media televisi.
Media dan Budaya POP Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 4 No 2 (2017): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.382 KB)

Abstract

Tulisan ini menyajikan deskripsi media masa kini berkembang pesat sebagai akibat kemajuan teknologi media. Kemampuan tekhnologi media saat ini mengakibatkan media dapat menjangkau masyarakat dengan cakupan area yang sangat luas. Begitu juga, media memiliki kemampuan memperharui (update) isi media dengan cepat. Kemampuan media demikian mengakibatkan kecepatan media yang tinggi dalam menjangkau masyarakat luas dan memperbaharui informasi yang diperoleh masyarakat, sehingga terciptalah ketergantungan masyarakat kepada media. Namun, ketergantungan masyarakat kepada media dimanfaatkan oleh para pemilik media untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya demi mempertahankan eksistensi media. Pengelola media memproduksi isi media sedemikian rupa sehingga membuat media menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi masyarakat karena ketagihan mengkonsumsi isi media yang melambungkan angan-angan dan imajinasi warga masyarakat. Keadaaan masyarakat yang demikian menandakan bahwa masyarakat berada dalam apa yang dikenal dengan sebutan kesadaran palsu. Fenomena ini tampak dengan munculnya budaya pop, misalnya dengan merebaknya K-Pop di Indonesia. Maka, tidaklah mengherankan jika saat ini sering dijumpai kaum muda Indonesia yang menampilkan gaya busana, rambut dan make-up wajah seperti para artis musisi dan aktor sinetron dari Korsel.Tidaklah dilarang untuk bergaya hidup seperti K-Pop. Namun perlu dikritisi apakah menerapkan budaya pop semacam ini akan lebih banyak bermanfaat atau merugikan bagi masyarakat. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, perlu ditingkatkan sosialisasi dan diseminasi mengenai literasi media bagi masyarakat, yaitu kemampuan masyarakat mengakses sekaligus menganalisis dampak media bagi kehidupan masyarakat itu sendiri.
Privasi Komunikasi: Antara Batas Pribadi dan Batas Kolektif Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 6 No 1 (2019): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.381 KB)

Abstract

Tulisan ini memberikan pemahaman kepada kita tentang privasi komunikasi, yaitu bagaimana kita memiliki dan mengelola informasi privat dalam komunikasi antarpribadi. Pengelolaan informasi privat mencakup pengaturan batasan pribadi dan batasan kolektif, yang mana di antara dua batasan itu terbentang rentangan proses privasi komunikasi mengenai informasi privat individu. Privasi komunikasi adalah pengelolaan ketegangan antara keinginan bersikap terbuka atau bersikap tertutup (privasi), antara kebutuhan untuk tetap bersifat pribadi atau menjadi bagian dari kebersamaan (kolektif). Individu yang terlibat dalam suatu hubungan dengan individu lainnya akan terus-menerus mengelola garis batas dalam dirinya, yaitu antara batas pribadi dan batas kolektif, antara perasaan atau pikiran yang ia ingin berbagi dan yang ia tidak ingin berbagi dengan orang lain. Manajemen atau pengaturan privasi komunikasi adalah mengatur privasi atas informasi privat individu. Privasi selalu berhubungan pembukaan atau pengungkapan informasi privat. Informasi privat merupakan informasi yang dimiliki individu yang tersimpan dalam batas pribadinya yang potensi pengungkapannya ditentukan oleh faktor keintiman.Batas pribadi dalam privasi komunikasi adalah garis yang membatasi ketika informasi privat tetap disimpan oleh seorang individu dan tidak dibuka kepada individu lain. Batas kolektif dalam privasi komunikasi adalah sebuah persimpangan batas privasi pribadi dari pemilik bersama informasi pribadi, yang semuanya bersamasama bertanggung jawab atas informasi tersebut. Turbulensi batasan merupakan gangguan manajemen privasi dan kepercayaan relasional yang terjadi ketika batas privasi kolektif tidak disinkronkan. Turbulensi batasan muncul ketika aturan-aturan koordinasi batasan tidak jelas atau ketika harapan orang untuk manajemen privasi berkonflik antara satu dengan lainnya.
Pengungkapan-diri dalam Komunikasi Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 5 No 1 (2018): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.368 KB)

Abstract

Tulisan ini menyajikan deskripsi tentang konsep pengungkapan-diri dalam komunikasi. Setiap orang suka atau tidak suka, sengaja atau tidak sengaja, selalu melakukan pengungkapan-diri kepada orang lain. Setiap perilaku kita yang mengomunikasikan berbagai makna kepada orang lain itu disebut sebagai pengungkapan-diri. Pengungkapan-diri adalah membeberkan informasi tentang diri kita. Hal apapun mengenai diri kita yang tadinya kita sembunyikan sebagai rahasia kita saja, jika hal tersebut terungkap sehingga diketahui orang lain maka berarti kita sudah melakukan pengungkapan-diri. Pembahasan tentang pengungkapan-diri mencakup faktor penentu pengungkapan-diri, manfaat pengungkapan-diri, dan risiko pengungkapan-diri. Faktor penentu pengungkapan-diri adalah: perasaan menyukai, besar kelompok, efek diadik, kompetensi, kepribadian, topik, dan seks. Adapun manfaat dari pengungkapan-diri adalah: pengetahuan tentang diri, kemampuan mengatasi kesulitan, efisiensi komunikasi, dan kedalaman hubungan. Kemudian, risiko pengungkapan-diri adalah: penolakan pribadi dan sosial, kerugian material, kesulitan intrapribadi, dan kehilangan kesejahteraan diri.
Manusia Tidak Dapat Tidak Berkomunikasi Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 6 No 2 (2019): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.449 KB)

Abstract

Tulisan ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa kita tidak dapat untuk tidak berkomunikasi. Dalam kehidupan kita, baik secara sengaja atau tanpa sengaja, kita sudah berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita dimulai sejak kita dilahirkan sampai kelak kita mati. Komunikasi adalah proses saling memahami makna di antara dua sesama manusia. Komunikasi terjadi bilamana perilaku seseorang telah diinterpretasikan atau ditafsirkan oleh orang lain untuk memberi makna atas perilaku orang tersebut. Artinya, kita diangggap telah melakukan komunikasi jika perilaku kita telah ditafsirkan oleh orang lain meskipun kita tidak bermaksud menyampaikan pesan apa pun kepadanya. Dengan demikian, kita tidak dapat menghindarkan diri dari komunikasi. Pemikiran bahwa kita tidak dapat untuk tidak berkomunikasi dapat dipahami karena di dalam komunikasi terkandung prinsip-prinsip komunikasi, yakni: isi inti dari komunikasi adalah makna; makna merupakan hasil dari interpretasi atau penafsiran atas perilaku; komunikasi telah terjadi bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya, terlepas dari apakah orang itu menyadari atau tidak menyadarinya; dan kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita. Perilaku komunikasi dapat merupakan perilaku yang tidak disengaja atau perilaku disengaja. Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Setiap perilaku mempunyai mempunyai potensi komunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, di tengah-tengah komunikasi yang dengan sadar kita lakukan, sering kali terselip perilaku komunikasi yang kita tidak sadari atau tidak disengaja.
Tanda dalam Komunikasi Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 5 No 2 (2018): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.475 KB)

Abstract

Tulisan ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa proses komunikasi yang secara awam merupakan hal yang biasa-biasa saja, ternyata sebetulnya merupakan suatu hal yang dahsyat dan proses yang kompleks yang menunjukkan anugerah Roh Agung bagi kita umat manusia. Bagaimana tanda-tanda digunakan dalam komunikasi manusia, mencerminkan manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan ikut menentukan masa depan planet bumi. Tanda adalah sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri. Studi komunikasi yang khusus mengkaji tentang tanda dan makna, dan hubungan antar tanda adalah semiotika. Tanda verbal dalam komunikasi adalah tanda dalam bentuk simbol kata dan rangkaian kata (kalimat) baik lisan maupun tulisan. Tanda nonverbal dalam komunikasi pada dasarnya adalah semua tanda yang berbentuk bukan kata-kata (lisan atau tulisan).
Pandemi Covid-19 dan Budaya Komunikasi Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 8 No 2 (2021): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.349 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan pengetahuan kepada pembaca mengenai pandemi Covid19 yang menimbulkan perubahan-perubahan di tengah masyarakat yang berkaitan dengan kebiasaankebiasaan atau cara berkomunikasi. Bisa jadi, pandemi Covid-19 cenderung menimbulkan budaya komunikasi yang baru di masyarakat. Pandemi Covid-19 membuat para karyawan bekerja dari rumah yang kemudian dikenal dengan istilah work from home (WFH). Untuk para pelajar (mulai dari murid sampai dengan mahasiswa) belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). WFH, rapat-rapat perkantoran, seminarseminar, dan pembelajaran online atau PJJ dilakukan dengan media daring, misalnya menggunakan Zoom Meeting dan Google Meet. Masyarakat terbiasa menggunakan masker saat melakukan komunikasi tutur dan masyarakat beradaptasi dengan perubahan vokal paralanguage yang terjadi sebagai akibat pemakaian masker. Selain itu, salam perjumpaan atau perkenalan berubah dengan menggunakan namaste yaitu bentuk penghormatan tanpa kontak fisik dan dapat digunakan secara universal saat bertemu dengan orang lain dengan jenis kelamin, usia, maupun status sosial yang berbeda. Namaste diucapkan di hadapan orang lain, biasanya dilakukan dengan sikap hormat merapatkan kedua telapak tangan sehingga telapak tangan dan jari saling bersentuhan, dan diletakkan di depan dada sambal agak menundukkan kepala. Sikap tubuh ini dapat dilakukan tanpa kata-kata namun sudah mengandung arti yang disampaikan salam tersebut. Dalam kehidupan seharihari, penerapan namaste dapat dipadankan dengan "salam sejahtera", dan dapat bermakna "semoga [dalam keadaan] baik". Sepanjang pandemi Covid-19 muncul berbagai kata atau istilah yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat melalui penambahan kosa kata seperti komorbid (penyakit penyerta), prokes 3M (protokol kesehatan melalui kedisiplinan memakai masker, menjaga jarak aman, mencuci tangan secara rajin), dan lain-lain. Kata-kata ini memperkaya komunikasi verbal dalam aktualisasi diri masing-masing anggota masyarakat.
Simbol Komunikasi dan Emosi Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 7 No 1 (2020): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.377 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan pengetahuan kepada para pembaca mengenai bagaimana perilaku manusia yang merupakan simbol komunikasi baik verbal maupun nonverbal mengekspresikan emosi dalam relasi atau hubungan di antara sesama manusia. Dalam aktivitas komunikasi kita sehari-hari, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja, kita mengekspresikan emosi kita saat berkomunikasi dengan orang lain mulai sejak masa kecil sampai dengan akhir hayat kita. Kita belajar menyalurkan dan mengekspresikan emosi melalui orang-orang di sekitar kita. Ekspresi emosi dalam komunikasi dilakukan melalui berbagai pesan yang dikemas dengan menggunakan simbol verbal dan simbol nonverbal. Simbol verbal adalah simbol dalam bentuk kata dan rangkaian kata (kalimat) baik lisan maupun tulisan. Simbol nonverbal adalah semua simbol yang berbentuk bukan kata-kata, seperti kinesika (gerakan tubuh), ekspresi wajah dan tatapan mata. Terdapat berbagai ekspresi emosi. Ada ekspresi alami tanpa terikat budaya yang bersifat universal, ada yang kontekstual terikat oleh aturan budaya. Selain itu, meskipun terdapat ekspresi emosi manusia yang universal, tetapi tidaklah universal kapan dan dalam situasi apa manusia mengekspresikan emosi tersebut karena hal itu dikendalikan oleh norma budaya setempat.
Pemenuhan Unsur-Unsur Berita Dalam Pemberitaan Covid-19 Pada Detik.com Ayu Tanti Rahayu; Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 9 No 2 (2022): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemenuhan unsur-unsur berita pada berita Covid-19 di media online detik.com. Untuk menjawab masalah penelitian ini, peneliti menggunakan perspektif teori jurnalistik tentang unsur-unsur berita 5W+1H (What, Who, Why, Where, When, dan How). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian atau sumber data dalam penelitian ini adalah berita-berita Covid-19 di detik.com dengan penentuan sumber menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah berita yang diteliti sebanyak 12 berita. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat di dalam naskah berita Covid-19 yang sudah ditayangkan di detik.com. Kalimat-kalimat berita yang dimaksud adalah semua kalimat yang tercakup di dalam judul, lead, tubuh berita, dan leg berita. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa media online detik.com belum secara penuh menerapkan unsur What, Who, Why, Where, When, dan How pada berita-berita yang diteliti dan masih belum menerapkan disiplin jurnalistik mengenai unsur berita 5W+1H yang merupakan pedoman penulisan berita dalam menyajikan berita tentang Pandemi Covid-19.