Background: Di tengah tuntutan era digital yang menekankan pentingnya penguasaan soft skills, kemampuan public speaking menjadi kompetensi krusial yang belum memperoleh porsi memadai dalam kurikulum pendidikan formal. Kesenjangan ini tercermin pada rendahnya kepercayaan diri siswa, terbatasnya wadah latihan yang terstruktur, serta minimnya penguasaan teknis public speaking, sebagaimana teridentifikasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Cipongkor. Metode: Program pelatihan ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif dalam paradigma konstruktivis dengan melibatkan 170 siswa kelas XII. Pelatihan dilaksanakan secara intensif selama dua hari dengan komposisi 40% penyampaian teori dan 60% praktik langsung berbasis experiential learning. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara informal, yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta dan mengevaluasi perubahan perilaku komunikatif. Hasil: Hasil pelatihan menunjukkan adanya perubahan perilaku yang teramati secara konsisten, di mana peserta yang pada awal kegiatan cenderung pasif dan menunjukkan gejala kecemasan berbicara di depan umum bertransformasi menjadi komunikator yang lebih aktif dan berani tampil. Pendekatan experiential learning dengan dominasi praktik terbukti efektif dalam membangun kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan retorika peserta dalam waktu relatif singkat. Kesimpulan: Model pelatihan public speaking intensif dengan komposisi 40:60 (teori–praktik) ini terbukti efektif dan berpotensi untuk direplikasi di institusi pendidikan lain. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji model ini pada konteks yang lebih beragam serta melakukan evaluasi jangka panjang guna mengukur keberlanjutan dampak pelatihan.