Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : EL TSAQAFAH

MEMAHAMI BAHASA SUFISTIK KAUM SALIKIN (Studi Kasus Pengamal Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren DarussalamBermi Lombok Barat Nusa Tenggara Barat) Dedy Wahyudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 15 No. 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v15i2.246

Abstract

Memahami bahasa tasawuf menjadi tantangan tersendiri dalam kajian dan penelitian keislaman. Menjadi tantangan karena sifat dasarnya yang simbolik, misterius dan personal. Diperlukan mekanisme kebahasaan tersendiri untuk memahami makna-makna yang dikandung oleh ungkapan-ungkapan sufistik. Namun dalam perkembangannya, dunia tasawuf mengandung dua aliran besar, yaitu tasawuf ‘amali yang dijelaskan oleh ilmu mu’amalah dan tasawuf falsafi yang dijelaskan oleh ilmu mukasyafah. Yang pertama direpresentasi oleh Imam al-Gazali dan yang kedua oleh Syekh Ibnu ‘Arabi.Pergerakan bahasa atau ungkapan sufistik di wilayah tasawuf ‘amali bersifat menyempit setelah mengalami pembakuan dan pelembagaan pada tarekat-tarekat setelah Imam al-Gazali, seperti Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Ahmadiyah, Syadziliyah dan lain-lain. Bahasa sufistik pun dalam konteks ini bersifat pengajaran untuk membimbing perjalanan para salik dalam menempuh maqamat dan menyikapi ahwal yang mereka alami di tarekat yang mereka ikuti. Komunikasi antar sesama pemeluk tarekat kemudian terejawantahkan dalam zikir, shalawat dan doa yang mereka amalkan.Penelitian ini memfokuskan diri untuk melihat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Pondok Pesantren Darussalam Bermi Gerung Lombok Barat NTB; zikir, wirid dan doa yang diamalkan sebagai manifestasi ungkapan sufistik mereka, interaksi mereka ke dalam (sesama pemeluk Tarekat) dan keluar (dengan masyarakat) untuk melihat pemahaman dan pengamalan para salik terhadap ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Lokasi peneliti dipilih karena pengaruh dan pengikutnya yang cukup banyak, tersebar di Lombok Barat, Kota Mataram dan Lombok Tengah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan yang biasa beredar di kalangan para salikin pengamal TQN di lokasi penelitian adalah ayat-ayat al-Qur’an, hadits dan ungkapan-ungkapan para pendiri dan mursyid TQN yang bisa berupa zikir, shalawat, doa dan untaian-untaian hikmah sebagai pembimbing mereka dalam menjalani suluk di lingkungan TQN. Sedangkan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap ungkapan-ungkapan itu telah ditentukan dalam ritual tarekat secara tertib, rinci dan ketat.Kata Kunci: Bahasa Sufistik, Tarekat Qadiriyah wa NaqsyabandiyahPonpes Darussalam
IDENTITAS ORANG SASAK: STUDI EPISTEMOLOGIS TERHADAP MEKANISME PRODUKSI PENGETAHUAN MASYARAKAT SUKU SASAK DI PULAU LOMBOK NTB Dedy Wahyudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 16 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v16i2.443

Abstract

Artikel ini hendak menjawab dua persoalan krusial terkait identitasorang sasak: pertama, apakah inti identitas orang sasak sekaligus unsur-unsurpembentuknya; kedua, bagaimana mekanisme pengetahuan dan perilakupada masyarakat sasak. Jawaban dari dua soal ini sangat penting sebagaipijakan suku bangsa sasak untuk meraih masa depan yang lebih baik. Penelitiandilakukan dengan pendekatan kualitatif berjenis penelitian fenomenologis.Penelitian jenis fenomenologis paling cocok untuk tema penelitian tentangidentitas ditambah lagi dengan kenyataan bahwa peneliti adalah orang sasakyang tentu saja menyerap dan merasakan sendiri menjadi orang sasak. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa inti identitas orang sasak adalah agama danadat atau Islam dan tradisi. Tradisi sasak merupakan pengejawantahan dariajaran-ajaran Islam yang selanjutnya membentuk perilaku yang tipikal bagimasyarakat sasak yaitu menjadi muslim taat yang berbudaya tinggi pada saatyang sama.
Keutuhan Nada dan Makna dalam Susunan Bahasa Al-quran Dedy Wahyudin; Djuaini A
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 18 No. 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v18i1.1002

Abstract

This article aimed to describe three focuses: first, how sounds oflanguage signify its meaning; second, how composition of sounds correspondsto the composition of meaning; and third, what are the proofs that the soundsof al-Qur’an verses compose its meanings. Research approach of this articleis qualitative approach using library research. Based on phonological andsemantic studies, this research concludes that the relation between wordsand its meaning in Arabic is natural relation; sounds of al-Qur’an thereforeindicates its meaning; and it can be proofed by analysing al-Qur’an fromphonological and semantic perspective
BINAA AL-KAFAA'AH AL-TAWAASULIAH FI TA’LIIM AL-LUGAH AL-‘ARABIAH WA TA’ALUMIHAA BI AL-SIYAAQ AL-IJTIMAA’I BI SEKARBELA FI MADINAH MATARAM Mujiburrahman Mujiburrahman; Dedy Wahyudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13932

Abstract

This research aims to examine the construction of communicative competence in the teaching and learning of Arabic within the social context of the Sekarbela society in Mataram. They are famous for their long tradition of studying Arabic linguistics, including morphology, syntax, and rhetoric. This applies not only to educational institutions but also to society as a whole. The researchers sought to investigate whether it is possible to benefit from such a social context to build communicative competence in the Arabic language, by applying functional theory, which imposes the existence of an appropriate context for the natural use of the Arabic language in various linguistic situations. Multiple experiments have shown that teaching Arabic to non-native speakers by focusing on the practical aspect of the Arabic language strengthens learners mental, psychological and social abilities in dealing with the Arabic language, as stated in many studies. This study adopted a qualitative research approach using observation, interviews, and documentation techniques. The research results showed that the effectiveness of Arabic language learning is greatly influenced by the integration of local social and cultural contexts into the teaching process. The use of a communicative approach and social context-based teaching methods contributed to improving students' ability to understand and use Arabic more naturally. Additionally, the study recommends developing a curriculum that aligns with students' social communication needs to make the learning process more effective and practical.