Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : S1 Keperawatan

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN HARGA DIRI REMAJA DI BANJAR PENGENDERAN KEDONGANAN-KUTA Nancye, Pandeirot M; ,., Itayanti
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Pola asuh merupakan pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Harga diri adalah sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten. Pada kenyataannya banyak orang tua menggunakan pola asuh yang kurang tepat pada anaknya yang akhirnya dapat menurunkan harga diri remaja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dengan variable bebas yaitu pola asuh orang tua dan variable terikat yaitu harga diri remaja. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh remaja SMP di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta sebanyak 75 responden dengan jumlah sampel sebanyak 63 responden yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang diolah dalam uji statistik non parametric menggunakan uji spearmen. Berdasarkan hasil penelitian hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta didapatkan data sebagian besar mendapatkan pola asuh otoriter dari orang tuanya yaitu sebanyak 34 orang (54%), selebihnya demokratis sebanyak 21 orang (33%) dan permisif sebanyak 8 orang (13%). Sebagian besar responden memiliki harga diri tinggi yaitu sebanyak 55 orang (87%) selebihnya 8 orang (13%) remaja memiliki harga diri rendah. Berdasarkan uji statistik menggunakan SPSS didapatkan hasil signifikan sebesar 0,01. Karena p < 0,05 maka H0 ditolak, kesimpulannya terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta. Pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua pada anaknya cenderung kearah yang positif seperti orang tua memaksa anaknya untuk belajar menari atau bermain gamelan sehingga anaknya memiliki bakat dan dapat meningkatkan harga dirinya. Kata kunci : Pola asuh, Harga diri
PENGARUH TERAPI KELUARGA TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT KLIEN DENGAN MASALAH PERILAKU KEKERASAN DI KOTA SURABAYA Nancye, Pandeirot M
S1 Keperawatan Vol 4, No 1 (2015): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain quasy eksperimen dengan rancangan pre-post test with control group desaign yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi keluarga terhadap dukungan keluarga dalam merawat klien dengan perilaku kekerasan di kota Surabaya. Populasi penelitian ini adalah keluarga klien dengan masalah perilaku kekerasan di kota Surabaya. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 48 keluarga dan untuk menentukan kelompok subyek yang menjadi responden kelompok intervensi dan kelompok kontrol digunakan Stratified purposive random sampling. Untuk menguji pengaruh terapi keluarga terhadap dukungan keluarga digunakan Paired sample T Test dan Independent-Sample T Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mendapat intervensi terapi keluarga menunjukkan peningkatan dukungan dalam merawat klien dengan masalah perilaku kekerasan. Hasil analisa beda dua mean menunjukkan perbedaan yang signifikant antara rata-rata hasil post tes dari kelompok intervensi dan kelompok kontrol yang ditunjukkan dengan p value = 0,001 yang artinya terdapat perbedaan sangat signifikan antara terapi keluarga terhadap dikungan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh terapi keluarga sangat signifikant terhadap dukungan keluarga dalam merawat klien dengan masalah perilaku kakerasan. Hal ini dapat terjadi karena ketidak mampuan keluarga dalam menjalankan fungsi keluarga dapat menjadi faktor penyebab ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah perilaku kekerasan. Untuk itu pelayanan keperawatan perlu meninjau kembali aspek yang dapat meningkatkan kemampuan keluarga serta memfasilitasi keluarga untuk dapat menjalankan fungsinya khususnya fungsi pelayanan kesehatan dalam keluarga. Kata kunci : terapi keluarga, dukungan keluarga, merawat, perilaku kekerasan